Binus School Surabaya Perkuat Pembelajaran Digital dan Project Based Learning
Binus School Surabaya mencatat peningkatan jumlah siswa pada tahun kedua operasional sekolah
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- Binus School Surabaya catat peningkatan jumlah siswa dua kali lipat pada tahun kedua operasional.
- Kini terdapat siswa dari 9 kewarganegaraan, dengan konsep pembelajaran Digital Excellence dan pendekatan STREAMS.
- Kurikulum IB PYP dan Cambridge dipadukan metode inquiry dan project based learning, serta diperkuat kegiatan non-akademik seperti olahraga.
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Binus School Surabaya mencatat peningkatan jumlah siswa pada tahun kedua operasional sekolah.
Minat masyarakat terhadap sekolah internasional tersebut meningkat hingga dua kali lipat dibanding tahun pertama pembukaan.
Principal Binus School, Alexandre Trespach Nenes mengatakan peningkatan jumlah siswa terjadi tidak hanya dari Surabaya, tetapi juga dari sejumlah daerah di luar kota.
“Di luar dugaan, ada juga yang datang dari luar Surabaya. Harapannya masyarakat di Surabaya sampai Jawa Timur semakin mengenal Binus School Surabaya,” ujarnya kepada SURYA.co.id, Kamis (30/4/2026).
Siswa dari 9 Negara Asing
Menurut Alexandre, saat ini Binus School Surabaya memiliki siswa dari sembilan kewarganegaraan.
Beberapa di antaranya berasal dari Amerika Serikat, Turkmenistan, China, Pakistan, Filipina, hingga Timor Leste.
Ia menyebut keberagaman latar belakang siswa menjadi salah satu pengalaman belajar yang mendukung wawasan global sejak usia dini.
Buka Lebih Banyak Kelas
Pada tahun kedua ini, Binus School Surabaya juga mulai membuka lebih banyak kelas pada sejumlah jenjang.
Baca juga: Binus Malang Gelar Edukasi Pentingnya Pilih Jurusan Kuliah untuk Kesiapan Dunia Kerja
Untuk Grade 1 dan Grade 7, sekolah telah membuka dua kelas dengan kapasitas rata-rata 20 hingga 22 siswa per kelas.
“Khusus Grade 7, jumlah siswanya sudah lebih dari satu kelas sehingga kami membuka dua kelas,” katanya.
Kedepankan Konsep Digital Excellence
Sementara itu, Marketing Manager Eva Dhiajeng menjelaskan Binus School Surabaya mengedepankan konsep “Digital Excellence” dalam pembelajaran.
Menurutnya, teknologi digunakan sebagai sarana pendukung untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan menggantikan peran guru maupun interaksi antarsiswa.
“Teknologi itu sifatnya enhancing. Jadi belajar matematika menggunakan teknologi, belajar sains menggunakan teknologi, belajar Mandarin juga menggunakan teknologi,” ujarnya.
Pendekatan Streams
Selain itu, sekolah juga mengembangkan pendekatan STREAMS yang mencakup Science, Technology, Reading, Engineering, Arts, Mathematics, dan Sports.
Eva mengatakan konsep tersebut merupakan pengembangan dari pendekatan STEM maupun STEAM yang selama ini umum digunakan di sekolah internasional.
“Fasilitas dan pembelajaran kami develop mendukung STREAMS. Jadi tidak hanya akademik, tetapi juga reading dan sports,” katanya.
Kemampuan Literasi Siswa
Ia menilai kemampuan membaca perlu terus diperkuat pada generasi saat ini meskipun teknologi semakin berkembang.
“Walaupun menggunakan teknologi, anak-anak tetap harus membaca buku fisik,” ujarnya.
Dalam proses pembelajaran, Binus School Surabaya menggunakan kurikulum International Baccalaureate Primary Years Programme (IB PYP) untuk tingkat awal serta Cambridge Curriculum.
Kedua kurikulum tersebut dipadukan dengan metode inquiry dan project based learning yang dinilai lebih sesuai dengan karakter generasi alfa.
“Gen alfa itu tidak bisa diberikan metode seperti dulu yang hanya duduk melihat papan tulis. Mereka harus hands on dan project based supaya pemahamannya lebih dalam,” kata Eva.
Ia mencontohkan pembelajaran matematika pada anak usia dini dilakukan menggunakan benda nyata seperti batu atau objek lain di sekitar siswa agar anak dapat memahami konsep secara langsung.
“Kalau anak hanya menghafal, biasanya cepat lupa. Tapi ketika mereka praktik langsung, understanding-nya lebih dalam,” ujarnya.
Perkuat Kegiatan Non Akademik
Selain pembelajaran akademik, Binus School Surabaya juga mulai memperkuat kegiatan non-akademik, khususnya olahraga.
Eva mengatakan antusiasme siswa terhadap kegiatan seperti soccer dan basket cukup tinggi, termasuk dari siswa perempuan.
“Awalnya kami pikir siswa perempuan kurang tertarik soccer, ternyata mereka sangat antusias,” katanya.
Untuk proses penerimaan siswa, Binus School Surabaya menerapkan observasi dan tes akademik sesuai jenjang pendidikan.
Pada tingkat usia dini, proses seleksi lebih berfokus pada kesiapan sosial dan kemampuan anak merespons instruksi.
“Kami bukan men-judge anak. Observasi itu untuk mengetahui kebutuhan dan potensi mereka supaya bisa diarahkan dengan tepat,” ujar Eva.
BACA BERITA SURYA.CO.ID LAINNYA DI GOOGLE NEWS
| Keluar Zona Degradasi, Pelatih Madura United Ingatkan Pemain Jangan Cepat Puas |
|
|---|
| Ribuan Buruh Padati Surabaya saat May Day 2026, Ini Rute dan Titik Perjalanannya di Kota Pahlawan |
|
|---|
| Finalis Miss Grand Jatim 2026 Mulai Karantina, Digembleng Publik Speaking Dan Koreografi |
|
|---|
| Buruh dan Pengusaha di Lamongan Sepakat Tanpa Demo saat May Day, Ganti dengan Sarasehan |
|
|---|
| Polisi Gandeng Tokoh Masyarakat dan Ormas untuk Jaga Kondusifitas di Sidoarjo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/turkmenistan-China-Pakistan-Filipina-hingga-Timor-Leste.jpg)