Rabu, 20 Mei 2026

Waspada Campak, Pakar Unair Surabaya Ungkap Isolasi Dini Penting untuk Cegah Penularan

Ada tanda khusus campak di belakang leher. Pakar Unair Surabaya ingatkan risiko fatal jika gejala awal ini diabaikan. Simak selengkapnya.

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
istimewa
Pakar kesehatan anak dari Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jawa Timur, Prof Dr Irwanto dr Sp A(K), menekankan pentingnya mengenali gejala awal agar penderita campak segera melakukan isolasi mandiri. 
Ringkasan Berita:
  • Pakar Unair Surabaya Jawa Timur (Jatim) ingatkan gejala khas campak berupa ruam merah di belakang leher.
  • Campak bukan penyakit biasa karena memiliki risiko kematian pada kelompok rentan.
  • Vaksinasi MR menjadi kunci utama mencegah komplikasi dan wabah campak pada anak.

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Penyakit campak masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, meskipun sudah lama dikenal. Kurangnya perhatian terhadap gejala awal, sering membuat pasien terlambat menyadari infeksi.

Kondisi ini meningkatkan risiko penularan yang masif, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak. Hal tersebut ditegaskan oleh Pakar Kesehatan Anak Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Prof Dr Irwanto dr., Sp.A(K).

Prof Irwanto menekankan pentingnya mengenali gejala awal agar penderita segera melakukan isolasi mandiri. Langkah ini krusial, untuk memutus rantai penyebaran di ruang publik.

Kenali Gejala Khas Campak

Menurut Prof Irwanto, ada indikator spesifik yang membedakan campak dengan infeksi virus lainnya. Masyarakat diminta tidak mengabaikan tanda-tanda berikut:

  • Demam tinggi yang menetap.
  • Batuk dan pilek yang tidak kunjung reda.
  • Munculnya ruam merah spesifik yang dimulai dari bagian belakang leher.

“Sebelum seseorang mengidentifikasi dirinya terkena campak atau tidak, pastikan apakah ada ruam merah spesifik di belakang leher disertai demam tinggi,” ujar Guru Besar FK Unair tersebut, Jumat (13/3/2026).

Risiko Penularan dan Bahaya Komplikasi

Penyakit ini menyebar dengan sangat cepat melalui droplet atau percikan cairan saat penderita batuk, bersin atau berbicara. Kontak langsung juga menjadi jalur utama infeksi.

Prof Irwanto memperingatkan, bahwa campak memiliki risiko tinggi yang dapat berujung pada kematian. Kelompok paling berisiko adalah anak-anak yang belum mendapatkan vaksin Measles-Rubella (MR).

“Campak merupakan penyakit menular yang berisiko tinggi sampai pada kematian. Jika positif, sebaiknya segera mengisolasi diri dari ruang publik dan anak-anak,” ungkapnya.

Pentingnya Vaksinasi MR bagi Anak

Edukasi inklusif terus dilakukan bersama pemerintah untuk meningkatkan kesadaran vaksinasi. Dukungan orang tua menjadi kunci utama dalam meminimalisir potensi wabah.

“Kesadaran orang tua memberikan vaksinasi sejak dini sangat penting. Campak bukan penyakit biasa, risiko kematian yang menghantui harus menjadi pelajaran bagi kita semua,” pungkasnya.

Data Kasus Campak di Indonesia

Berdasarkan data medis, campak atau rubeola disebabkan oleh virus dari keluarga Paramyxovirus. Di Indonesia, sempat terjadi lonjakan kasus di beberapa wilayah akibat penurunan cakupan imunisasi rutin selama masa pandemi.

Infeksi ini dapat memicu komplikasi berat seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), hingga kebutaan jika tidak ditangani dengan tepat.

Imbauan dan Tips untuk Masyarakat

Masyarakat diimbau untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul demam tinggi dan ruam. Berikut tips pencegahan yang dapat dilakukan:

  • Pastikan anak mendapatkan imunisasi MR lengkap sesuai jadwal (usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD).
  • Gunakan masker di tempat umum jika sedang mengalami gejala batuk atau pilek.
  • Tingkatkan daya tahan tubuh dengan nutrisi seimbang dan istirahat cukup.
  • Lakukan isolasi mandiri minimal 4 hari setelah ruam muncul untuk mencegah penularan lebih luas.
Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved