Sabtu, 2 Mei 2026

Cerita Para Kiai

Sosok Tgk H Faisal Ali: Ulama Besar Aceh yang Tak Lahir dari Garis Pesantren

Sosok Tgk H Faisal Ali (Abu Sibreh), Ketua MPU Aceh yang merintis jalan ulama dari keluarga sederhana hingga pimpin pesantren besar.

Tayang:
Editor: Cak Sur
istimewa
CERITA PARA KIAI - Tgk H Faisal Ali (Abu Sibreh) Pimpinan Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah. 

Ringkasan Berita:
  • Tgk H Faisal Ali memulai perjalanan keulamaan dari keluarga sederhana di Lamno tanpa garis keturunan pesantren.
  • Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah yang ia pimpin kini menaungi lima lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
  • Selain menjabat Ketua MPU Aceh, Abu Sibreh juga merupakan Ketua DPW Nahdlatul Ulama (NU) Aceh.

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Tgk H Faisal Ali, atau yang akrab disapa Abu Sibreh, membuktikan bahwa menjadi ulama besar tidak harus berasal dari garis keturunan pesantren, melainkan lahir dari keteguhan hati dan proses panjang menuntut ilmu.

Lahir di Desa Janguet, Kecamatan Jaya (Lamno), Aceh Jaya pada 7 Januari 1968, ia tumbuh di tengah keluarga sederhana yang jauh dari bayang-bayang keluarga ulama besar.

Kini, Abu Sibreh dikenal luas sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah dan tokoh rujukan umat di Serambi Mekkah.

Pilihan Hidup Menjadi Santri

Meski tidak memiliki latar belakang keluarga teungku, benih kecintaan Abu Sibreh pada dunia dayah tumbuh karena rumahnya berdekatan dengan Pesantren Budi Lamno.

Pada tahun 1985, ia mengambil keputusan besar untuk meninggalkan sekolah umum (SMU) demi mendalami ilmu agama di LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireuen.

“Dari urutan dua ke atas yang sekarang ini, yaitu ayah dan kakek kami dalam keluarga itu tidak ada yang memang mendalami tentang ilmu agama secara khusus. Jadi kami (saya) yang mendalami itu sendiri,” tuturnya saat ditemui di pesantren yang diasuhnya, Rabu (4/2/2026).

Selama hampir 15 tahun di Samalanga, Abu Sibreh tidak hanya belajar tetapi juga aktif mengasah jiwa kepemimpinan melalui berbagai organisasi.

Rekam Jejak Organisasi dan Pengabdian

Pengalaman organisasi yang matang membentuk karakter Abu Sibreh sebagai pemimpin yang disegani di Aceh. Berikut adalah rincian kiprah organisasinya:

  • Ketua Ikatan Santri Kecamatan Lamno Jaya (1991–1993).
  • Ketua Ikatan Santri MUDI Mesra Aceh Barat Selatan (1992–1998).
  • Sekretaris Umum Pesantren MUDI Mesra Samalanga.
  • Sekretaris Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) periode 2007–2014.
  • Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.
  • Ketua DPW Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Aceh.

Mendirikan Pesantren dari Satu Balai

Titik balik perjuangannya terjadi pada tahun 1999 saat ia mulai merintis Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah di atas tanah wakaf keluarga.

Awalnya, proses belajar-mengajar hanya diikuti oleh tujuh santri dengan fasilitas yang sangat terbatas.

“Jadi fasilitas yang pertama yang ada itu hanya satu balai (tempat mengaji). Di situ tempat belajar, di situ tempat sholat, di situ juga tempat tidur, juga sekaligus tempat masak,” kenang Abu Sibreh.

Kini, yayasan tersebut telah berkembang pesat menaungi lima lembaga pendidikan, mulai dari Dayah Salafiyah, SMP-IT, SMK, hingga Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS).

Prinsip Pengabdian dan Pesan untuk Muda-mudi

Di tengah dinamika sosial dan politik Aceh, Abu Sibreh memilih untuk tetap konsisten di jalur pendidikan dan pengabdian umat daripada terjun ke politik praktis.

Ia memegang prinsip filosofi Aceh dalam bertindak dan menolak menjadikan perbedaan politik sebagai pemecah belah dakwah.

“Dalam bahasa Aceh itu ada kata-kata ‘ngui ban laku tuboh, pajoh ban laku atra’. Kita harus tahu diri dalam konteks tertentu,” tegasnya.

Kepada generasi muda, ia selalu menekankan bahwa kejaran utama dalam hidup adalah ilmu pengetahuan.

“Ilmu dulu, uang itu akan mengikuti,” pungkasnya. (*)

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved