Rabu, 22 April 2026

Ramadan 2026

Awal Ramadan 2026 Berpotensi Beda: Muhammadiyah Rabu, NU Diprediksi Kamis

Awal Ramadan 2026 berpotensi beda. Muhammadiyah tetapkan puasa Rabu (18/2/2026), sementara NU dan Pemerintah diprediksi Kamis (19/2/2026)

Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Yusron Naufal Putra
RAMADAN 2026 - Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Timur, Prof Biyanto saat ditemui di Surabaya beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa untuk tahun ini, Muhammadiyah mulai menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Metode ini berbeda dengan hisab hakiki wujudul hilal lokal yang sebelumnya digunakan. 
Ringkasan Berita:
  • Muhammadiyah tetapkan 1 Ramadan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026 menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
  • NU dan Pemerintah diprediksi mulai puasa Kamis, 19 Februari 2026 karena hilal masih di bawah ufuk pada Selasa petang.
  • Perbedaan terjadi karena Muhammadiyah memakai prinsip global, sedangkan Pemerintah memakai kriteria visibilitas lokal (MABIMS).

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Umat Islam di Indonesia kemungkinan besar akan mengawali ibadah puasa Ramadan 1447 H pada hari yang berbeda. Muhammadiyah sudah menetapkan awal Ramadan jatuh pada Rabu (18/2/2026), sementara Nahdlatul Ulama (NU) dan Pemerintah diprediksi baru memulai puasa pada Kamis (19/2/2026).

Perbedaan ini muncul karena ketidaksamaan metode penetapan yang digunakan. Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim), meyakini umat Islam saat ini sudah dewasa dalam menyikapi perbedaan tersebut, sehingga tidak akan mengurangi kekhusyukan ibadah.

Muhammadiyah Gunakan Kalender Global

Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim, Prof Biyanto, menjelaskan bahwa untuk tahun ini, Muhammadiyah mulai menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Metode ini berbeda dengan hisab hakiki wujudul hilal lokal yang sebelumnya digunakan.

Berikut poin-poin alasan penetapan Muhammadiyah:

  • Prinsip Matla' Global: Muhammadiyah menggunakan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia.
  • Keterlihatan Hilal di Belahan Bumi Lain: Jika hilal sudah terlihat di negara manapun (meski di Indonesia belum), maka seluruh dunia dianggap sudah memasuki bulan baru.
  • Penyatuan Global: Metode KHGT bertujuan menyatukan hari-hari besar Islam agar seragam di seluruh penjuru dunia.

“Dengan KHGT, akan terjadi kesamaan tanggal 1 setiap awal bulan di seluruh penjuru dunia. Ormas keislaman dan umat Islam di negeri ini sudah sangat dewasa dalam menyikapi perbedaan,” ujar Prof Biyanto saat dihubungi SURYA.co.id, Selasa (17/2/2026).

NU dan Pemerintah Tunggu Sidang Isbat

Di sisi lain, NU maupun Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) masih berpegang pada metode rukyatul hilal yang mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura). Kriteria ini mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Lembaga Falakiyah NU Jawa Timur memprediksi awal Ramadan bagi pemerintah dan NU akan jatuh pada Kamis (19/2/2026). Hal ini didasarkan pada data hisab pendahuluan untuk pemantauan pada Selasa (17/2/2026) petang:

  • Hilal Masih di Bawah Ufuk: Ketua LFNU Jatim, Syamsul Maarif menyebut kondisi hilal saat matahari terbenam pada Selasa (17/2/2026) masih berada di bawah ufuk.
  • Tidak Terlihat: Dengan posisi di bawah ufuk, hilal mustahil untuk dirukyat atau dilihat.
  • Istikmal (Digenapkan): Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Sya'ban akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Ramadan jatuh lusa (Kamis).

“Kondisi Hilal saat hari tersebut masih dibawah ufuk sehingga kemungkinan besar hilal tidak bisa terlihat,” tegas Syamsul Maarif.

Mengapa Penetapan Awal Ramadan Bisa Beda?

Perbedaan penetapan awal Ramadan 2026 ini bukan sekadar masalah melihat atau menghitung bulan, melainkan perbedaan prinsip dasar yang dianut:

1. Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
Muhammadiyah mengadopsi hasil Kongres Internasional Turki 2016. Prinsipnya adalah transfer of visibility. Artinya, jika hilal terlihat di benua Amerika (misalnya), maka umat Islam di Indonesia juga wajib berpuasa meski di langit Indonesia hilal belum wujud. Ini demi kesatuan umat Islam global.

2. Imkanur Rukyat MABIMS (Neo-MABIMS)
Pemerintah dan NU memegang prinsip visibilitas lokal (wilayatul hukmi). Bulan baru hanya diakui jika hilal secara astronomis dan faktual mungkin dilihat di wilayah Indonesia atau Asia Tenggara. Kriteria barunya cukup ketat: tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Jika kurang dari itu, maka dianggap belum masuk bulan baru.

Imbauan untuk Masyarakat

Menyikapi potensi perbedaan awal puasa antara Rabu dan Kamis ini, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengedepankan toleransi. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:

  • Saling Menghormati: Jangan jadikan perbedaan hari sebagai bahan perdebatan yang memecah belah ukhuwah.
  • Ikuti Keyakinan Masing-masing: Warga Muhammadiyah dipersilakan berpuasa mulai Rabu, sementara warga Nahdliyin dan yang mengikuti pemerintah menunggu hasil Sidang Isbat.
  • Fokus Ibadah: Jadikan momentum Ramadan untuk meningkatkan kualitas diri, terlepas dari tanggal berapa memulainya.
Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved