Selasa, 2 Juni 2026

Perang Iran Israel

Iran Balas Serang Pangkalan Militer AS, Harapan Damai Makin Menipis

IRGC melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer AS setelah operasi militer Washington di Iran. Ketegangan meningkat.

Tayang:
Editor: Pipit Maulidya
Tangkap layar/Khaberni
MEMANAS - Timur Tengah kembali memanas! IRGC mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS sebagai balasan atas operasi Washington di Iran. Di tengah kebuntuan negosiasi nuklir dan konflik Lebanon yang belum mereda, harapan damai antara Iran dan Amerika Serikat kian menipis. 
Ringkasan Berita:
  • IRGC mengklaim menyerang pangkalan udara AS sebagai aksi balasan.
  • Serangan terjadi beberapa jam setelah AS menargetkan fasilitas di Iran selatan.
  • AS menyebut operasi sebelumnya sebagai tindakan bela diri.

 

SURYA.CO.ID - Konflik di Timur Tengah kembali memanas.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan telah meluncurkan serangan balasan ke pangkalan udara Amerika Serikat (AS) pada Senin (1/6/2026).

Aksi ini disebut sebagai respons langsung atas operasi militer Washington di wilayah Iran selatan.

Berdasarkan laporan kantor berita Mehr via Anadolu, IRGC menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan hanya berselang beberapa jam setelah militer AS menargetkan menara telekomunikasi di Pulau Sirik, Provinsi Hormozgan.

Pihak IRGC juga memberikan peringatan keras bahwa setiap provokasi lanjutan akan dibalas dengan skala yang lebih besar.

Selain itu, IRGC menegaskan bahwa tanggung jawab penuh atas dampak dari eskalasi ini kini berada di tangan Amerika Serikat.

Baca juga: Kehebatan Arash-e Kamangir, Sistem Pertahanan Baru Iran yang Diklaim Bisa Rontokkan Drone Tempur AS

AS Klaim Serangan Sebagai Bentuk Bela Diri

Di sisi lain, pihak Washington melalui Komando Pusat Militer AS (Centcom) memiliki pembelaan tersendiri.

Melansir dari The Guardian, militer AS sebelumnya mengumumkan telah meluncurkan serangan bela diri terhadap fasilitas radar dan pusat kendali drone milik Iran pada akhir pekan lalu.

Langkah ini diambil setelah Iran dituduh menembak jatuh drone MQ-1 milik AS yang diklaim sedang beroperasi di wilayah udara internasional.

“Pesawat tempur AS dengan cepat merespons dengan menghancurkan pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan dua drone serang sekali pakai yang menimbulkan ancaman nyata bagi kapal-kapal yang melintas di perairan kawasan,” tulis Centcom melalui akun resmi di platform X.

Pihak Centcom juga menegaskan komitmen mereka untuk terus melindungi aset dan kepentingan AS meskipun status gencatan senjata sedang diupayakan.

Namun, tak lama setelah pernyataan itu, IRGC langsung menyerang balik pangkalan asal pesawat tempur AS tersebut.

Kuwait Mencegat Rudal dan Drone Misterius

Dampak konflik ini mulai merembet ke negara tetangga.

Militer Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat serangan rudal dan drone yang dianggap sebagai ancaman bermusuhan.

Melalui kantor berita KUNA, otoritas Kuwait mengonfirmasi bahwa sirene peringatan sempat berbunyi di berbagai wilayah.

Meskipun asal serangan belum diidentifikasi secara resmi, The Guardian mencatat bahwa Kuwait merupakan lokasi salah satu pangkalan militer utama Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Negosiasi Nuklir di Pakistan Masih Buntu

Aksi saling serang ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Pakistan.

Laporan dari AFP menyebutkan bahwa pembicaraan intensif selama beberapa pekan belum membuahkan hasil, baik untuk mengakhiri perang maupun membuka kembali Selat Hormuz yang krusial bagi pasokan minyak dunia.

Presiden AS, Donald Trump, menekankan bahwa syarat utama kesepakatan adalah penghentian total program senjata nuklir Iran.

“Jaminan yang harus saya miliki adalah tidak akan ada senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik,” ujar Trump dalam wawancara bersama menantunya, Lara Trump, yang dikutip dari AFP.

Melalui Truth Social, Trump juga mempertegas bahwa rancangan kesepakatan tersebut disusun agar Iran tidak memiliki celah untuk memiliki senjata nuklir.

Namun, pihak Teheran merasa banyak hak rakyat mereka yang belum terpenuhi dalam draf tersebut.

“Kami tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun sampai kami yakin hak-hak rakyat Iran telah dipenuhi,” tegas Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran.

Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengimbau agar semua pihak tidak berspekulasi sebelum ada keputusan resmi.

“Sampai ada kesimpulan yang jelas tercapai, semua yang dikatakan saat ini hanyalah spekulasi,” ucapnya.

Konflik di Lebanon

Selain masalah nuklir dan ekonomi, perdamaian di kawasan semakin sulit dicapai karena situasi di Lebanon.

Iran menuntut agar setiap kesepakatan damai harus mencakup penghentian serangan militer di Lebanon.

Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, justru memerintahkan pasukannya untuk bergerak lebih dalam ke wilayah Lebanon guna melawan kelompok Hizbullah yang didukung penuh oleh Iran.

Kondisi ini membuat stabilitas di Timur Tengah kian terancam dan proses negosiasi terancam kolaps.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved