Berita Viral

Respons Adem Ayah Affan Driver Ojol Dilindas Rantis Brimob, Tak Mau Semua Polisi Jadi Korban

Meski telah kehilangan anaknya, ayah Affan Kurniawan, Zulkifli, tetap memandang bijak permasalahan ini. Tak mau semua polisi jadi korban.

Kolase tribunnews
BIJAK - Kolase foto Affan Kurniawan (kiri) dan ayahnya, Zulkifli (kanan). Begini Respons Bijak Ayah Affan Driver Ojol Dilindas Rantis Brimob. 

SURYA.co.id - Meski telah kehilangan anaknya, ayah Affan Kurniawan, Zulkifli, tetap memandang bijak permasalahan ini.

Duka mendalam masih dirasakannya setelah sang anak, Affan, meninggal karena dilindas rantis Brimob.

Meski demikian, Zulkifli masih berfikir bijak. Ia tak menyalurkan amarahnya kepada semua aparat kepolisian.

Ia tak mau polisi yang tak bersalah ikut menjadi korban.

Zulkifli, ayah dari Affan Kurniawan, pengemudi ojek online (ojol) yang meninggal dunia setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, khirnya angkat bicara.

Baca juga: Rekam Jejak Kompol Cosmas yang Ikut Naik Rantis Lindas Driver Ojol Affan, Karier Cemerlang di Brimob

Meski kehilangan putranya secara tragis, ia memilih tidak menuntut secara pribadi lewat jalur hukum, namun tetap berharap keadilan benar-benar ditegakkan.

“Kami cuma minta rasa keadilan. Yang berbuat itu yang harus ditindak. Tidak semua polisi harus jadi korbannya,” ujar Zulkifli kepada wartawan, Jumat (29/8/2025), melansir dari Tribunnews.

Beberapa jam sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo datang langsung menemui keluarga korban.

Dalam pertemuan itu, Zulkifli mengungkap bahwa Kapolri menyampaikan komitmen penuh untuk menuntaskan kasus tersebut melalui mekanisme hukum.

“Beliau bilang, ‘Bapak pikir-pikir dulu mau yang mana, jalur hukum kita tuntaskan semuanya.’ Itu yang disampaikan,” tutur Zulkifli.

Ia juga menegaskan kembali bahwa Kapolri berjanji akan mengusut tuntas kematian putranya.

“Janji akan diusut, seperti itu,” tambahnya.

Nasib 7 Anggota Brimob Terduga Penabrak Driver Ojol Affan Kurniawan

Sementara itu, beginilah nasib 7 anggota Brimob terduga penabrak driver ojek online (ojol) Affan Kurniawan (21). 

Identitas 7 orang tersebut disampaikan Kadiv Propam Polri, Irjen Pol Abdul Karim, saat konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (29/8/2025) sore. 

Baca juga: Imbas Affan Kurniawan Driver Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Mahfud MD Salahkan Sosok Ini

Karim mengatakan, ada dua anggota Brimob yang duduk di bagian depan kendaraan taktis (rantis) Brimob.

Sisanya berada di kursi belakang. 

"Hasil identifikasi yang kami dapatkan, yaitu ditemukan dua orang yang duduk di depan, termasuk pengemudi. Dan, lima orang lain dalam posisi duduk di belakang."

"Ada pun pengemudi adalah Bripka R, sedangkan yang duduk di sebelahnya adalah Kompol C. Sedangkan, yang duduk di belakang yaitu Aipda M, Briptu D, Baraka J, Baraka Y," katanya, dikutip SURYA.CO.ID dari tayangan Liputan6 SCTV.

Ketujuh orang tersebut dinyatakan terbukti bersalah dalam kasus ini. 

"Bahwa terhadap tujuh orang terduga pelanggar, kami pastikan bahwa terduga pelanggar telah terbukti melanggar kode etik profesi kepolisian. 

"Oleh karena itu, kami menyikapi rekomendasi berikutnya yaitu mulai hari ini kami melakukan penempatan khusus atau patsus di Divpropam Polri selama 20 hari terhadap 7 orang terduga pelanggar," imbuhnya.

Kasus ini berawal dari aksi unjuk rasa di Jakarta Pusat yang memanas, hingga terjadi insiden kendaraan taktis Brimob (rantis barakuda) melindas seorang pengemudi ojol bernama Affan Kurniawan.

Baca juga: Rekam Jejak Brigjen Muhammad Nas yang Turun Tangan Tenangkan Massa Ojol, Mentereng di Kostrad

Affan kemudian dinyatakan meninggal dunia, dan peristiwa tersebut memicu kemarahan luas di kalangan masyarakat, terutama komunitas ojol.

Kasus meninggalnya Affan Kurniawan jelas meninggalkan luka yang dalam, bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi publik yang mengikuti peristiwa ini.

Namun, dari tragedi ini, kita bisa belajar banyak dari sikap sang ayah, Zulkifli.

Dalam kondisi yang bagi kebanyakan orang akan menimbulkan amarah luar biasa, ia justru memilih jalan yang tenang.

Alih-alih menyamaratakan kesalahan kepada seluruh aparat kepolisian, Zulkifli dengan tegas mengatakan bahwa yang salah harus ditindak, sementara yang tidak bersalah tidak pantas menjadi korban.

Sikap ini terasa seperti oase di tengah riuh tuntutan publik, yang sering kali meluas menjadi sentimen anti-institusi.

Di sinilah letak kebesaran hati seorang ayah. Duka yang dialaminya tak menggerus kejernihan pikirannya untuk tetap menuntut keadilan, bukan balas dendam.

Saya melihat ada pesan moral yang kuat: keadilan harus ditegakkan tanpa melukai mereka yang tidak terkait.

Pertemuan langsung antara Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dengan keluarga korban juga menjadi titik penting.

Janji untuk menuntaskan kasus ini memberi sedikit harapan, meski publik tetap menunggu apakah janji itu akan benar-benar diwujudkan.

Karena kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum tak hanya dibangun dari kata-kata, melainkan dari konsistensi tindakan.

Sebagai penulis, saya merasa sikap Zulkifli adalah tamparan moral, baik bagi aparat maupun masyarakat luas.

Ia menunjukkan bahwa bahkan dalam duka terdalam, manusia tetap bisa bersikap bijak.

Namun kebijaksanaan pribadi itu harus diimbangi dengan keseriusan negara dalam menegakkan hukum.

Jika tidak, rasa keadilan yang diminta keluarga korban bisa berubah menjadi kekecewaan baru yang semakin memperlebar jarak antara rakyat dan aparat penegak hukum.

>>>Update berita terkini di Googlenews Surya.co.id

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved