Jumat, 10 April 2026

Kualitas Udara di Kota Surabaya Terus Membaik

Belakangan ini kualitas udara di Kota Surabaya disebut-sebut terus membaik. Ini penjelasannya...

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/nuraini faiq
Papan monitor yang menampilkan kualitas udara kota Surabaya dalam angka 

SURYA.co.id | SURABAYA - Belakangan ini kualitas udara di Kota Surabaya disebut-sebut terus membaik.

Kondisi kualitas udara kota Surabaya itu dapat dilihat di monitor yang dipasang di Jl Gubeng Pojok.

"Namun kami mencatat belakangan ini kadar polutan di kota ini selalu tergolong baik. Pencemaran udaranya di bawah 50 persen," terang Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Agus Eko Supriyadi, Selasa (19/3/2019).

Monitor pemantau kualitas udara itu menyebutkan ISPU atau indeks standard pencemaran udara. Indeks ini terklasifikasi dari kondisi Baik (0-50 persen). Kemudian Sedang (50-100 persen), Tidak Sehat (100-200 persen), Sangat Tidak Sehat (200-300 persen), dan Berbahaya 500 persen.

Saat ini baru dua titik dari total luas kota ini yang terpasang Board Pencemaran udara. Selain di Jl Gubeng Pojok depan Restoran Jepang Hanamasa, satu lagi Board yang sama terpasang di Jl Soekarno atau kawasan MERR.

Papan display yang mencatat kadar kualitas udara itu akan bekerja sesuai sistem.

Dinas LH telah mengembangkan sistem  pemantauan kadar udara yang terhubung dengan stasiun pemantauan udara

Agus menuturkan bahwa saat ini sudah ada tiga Stasiun pemantau udara itu. Yakni Stasiun 1 berada di Taman Prestasi (di Jl. Ketabang Kali), Stasiun 2 (Kebon Bibit Wonorejo Jl. Kendalsari 117), Stasiun 3 (Kelurahan Kebonsari Jl. Kebonsari Manunggal 22).

Hasil ketiga stasiun pemantauan itu akan dirupakan data display yang saat ini sudah ada. 

"Rencana dalam waktu dekat ini kami pasang display kadar kualitas udara di Tugu Pahlawan," terang Agus.

Informasi yang diterima surya, alat Pemantau kadar udara itu tidak murah. Semua terpasang dalam seperangkat atau satu set. Stasiun dan minitor display. Satu Board yang terhubung dengan Stasiun pemantauan udara itu senilai Rp 2 miliar.

Sementara itu anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya Vincensius Away meminta agar peralatan mahal itu tidak sekadar pajangan dan pantas-pantasan. "Harus menjadi semacam panduan untuk mendorong meningkatkan Kualitas udara Surabaya," kata Away. 

Board atau monitor pengukur kualitas udara itu memberi nilai manfaat. Jika dalam catatan muncul kuwalitas udara rendah atau tingginya polutan udara tinggi maka harus dilakukan tindakan dan antisipasi. Harus selalu rutin dilakukan tes gas buang setiap kendaraan. 

Uji emisi setiap kendaraan harus rutin digelar. Selain itu menurut Awey yang utama adalah mengajak warga beralih ke kendaraan umum.

"Jika angkutan umum nyaman pasti warga akan beralih dan kendaraan pribadi berkurang. Pencemaran udara melalui gas buang berkurang," kata Awey.

Tags
udara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved