Sabtu, 11 April 2026

Makin Banyak Warga Percayakan Pengurusan Sertifikat Tanah ke Notaris

Sejak diberlakukan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), jumlah pemohon sertifikat tanah di kantor BPN II kian banyak. Termasuk notaris

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/nuraini faiq
Layanan di BPN II Surabaya yang padat pada Selasa (12/9/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Suara panggilan nomor antrean yang mencapai angka ratusan di kantor BPN II Surabaya membuat semakin banyak orang memadati kantor ini. Ternyata banyak dari penunggu antrean itu adalah para pegawai notaris.

Mereka membawa banyak berkas untuk disampaikan ke layanan kantor penyetempel sertifikat tanah ini.

"Saya bukan dari warga. Saya dari notaris," ucap salah satu pria yang berpakaian perlente di dalam kantor BPN.

Pegawai notaris ini tampak membawa banyak berkas. Sayang, dia memilih tidak mau bercerita banyak tentang berkas dan dokumen yang digenggam. Pria itu langsung membaur menuju kursi antrean kembali.

Tidak hanya pria ini, banyak orang dengan gaya yang sama dan biasanya berkelompok berbincang di satu sudut.

Pegawai Umum menyebut bahwa mereka adalah para pegawai notaris dan PPAT. Keberadan mereka adalah untuk mengurus proses sertifikat tanah.

Sejak adanya program PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap), diakui Budiarto bahwa kantornya makin dipadati warga. Namun di antara mereka juga banyak pegawai notaris.

"Yang diuntungkan dalam hal ini notaris. Cost-nya beralih ke sana," kata Budiarto.

Sebelum ini, BPN lebih dulu menjalankan program Sertifikasi Massal Swadaya (SMS). Namun program ini berbayar. Bahkan notaris juga memasang tarif karena banyak yang sertifikat.

Saat program gratis digulirkan, makin banyak yang melakukan sertikasi tanah. Budiarto memprediksi akan makin banyak yang mencatatkan akta jual beli dan sertifikasi tanah ke notaris.

Artinya jika biaya di BPN nol rupiah kini beban biaya beralih untuk mengurus notaris dan PPAT. Jika untuk sertifikat tanah di PPAT untuk ukuran tanah kampung dan rumah rata-rata Rp 1,5 juta saat permintaan banyak pasti tarifnya naik.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved