Liputan Khusus Simulator SIM
Pemohon SIM Sempat Jajal Simulator Saat Sosialisasi
Ketiganya merupakan simulator untuk roda empat (R4). Barang yang dikirim masih belum dirakit.
SURYA Online, SURABAYA - Akhir 2011 Satpas Colombo Satlantas Polrestabes Surabaya mendapatkan informasi akan datangnya simulator SIM.
Jumlahnya lebih banyak ketimbang polres lain di jajaran Polda Jatim. Satpas pun berbenah, termasuk menyiapkan ruangan khusus.
Aiptu Naryadi bergegas keluar ruangannya saat seorang anggotanya mengabarkan truk pembawa simulator masuk ke area satpas pada pertengahan Oktober 2011 silam.
Dari berkas serah terima barang, diketahui ada tiga unit simulator uji keterampilan berkendara yang dikirim.
Ketiganya merupakan simulator untuk roda empat (R4). Barang yang dikirim masih belum dirakit. Produsen membungkus rapi bagian-bagian alat peraga ini dalam peti-peti kayu.
“Bentuknya ya kita belum tahu. Masih dipeti,” kata Naryadi, awal pekan ini.
Hari itu juga isi peti dibongkar. Komponen simulator mulai dirakit. Nuryadi ingat, lima teknisi yang didatangkan khusus dari Jakarta, bekerja selama satu minggu untuk merakit tiga simulator R4 sampai bisa dipakai.
Sampai perakitan tuntas, tidak satupun personel satpas yang bisa mengoperasikannya.
Sampai pada 19 Desember 2011, Bripka Sugondo, anak buah Nuryadi, diutus mengikuti pelatihan teknis mengoperasionalkan simulator. Pelatihan berlangsung cepat, hanya satu hari.
Tiga simulator R4 ditempatkan di ruangan yang bersebelahan dengan ruangan Nuryadi. Ruangan tersebut tergolong luas.
Selain tiga simulator, terdapat pula deretan kursi yang nantinya digunakan pemohon SIM untuk mendengarkan sosialisasi dari polisi.
Dua bulan kemudian, lima simulator R2 datang. Prosesnya hampir sama. Simulator datang masih dalam bentuk komponen terpisah.
Lima simulator ini ditempatkan di dua ruangan berbeda. Tiga simulator di satu ruangan dan sisanya di ruangan sebelahnya.
Satlantas Polrestabes Surabaya kala itu sudah menyiapkan sederet program untuk mensosialisasikan penggunaan simulator ini sebagai bagian dari tahapan uji SIM. Di setiap ruangan, dipasang standing benner dan spanduk.
Bunyi spanduk itu, ’Sosialiasi Pemberlakuan Uji Keterampilan Mengemudi Kepada Pemohon SIM A dan C’.
Karena sifatnya masih sosialisasi, pemohon SIM baru bisa mencoba alat ini karena keburu KPK membongkar skandal pengadaan simulator.
”Baru sebatas sosialiasi karena kita tidak bisa menggunakannya sebagai alat penguji. Tapi sejauh ini, kami sudah sosialisasi ke masyarakat,” tegas Paur Satpas Colombo AKP Siswinto. (idl)