Tari Topeng pun Bisa Diiringi Musik Koplo
Tari Topeng pun Bisa Diiringi Musik Koplo
Penulis: David Yohanes | Editor: Parmin
Seperti ada yang membuat topeng tokoh kartun spongebob berwarna kuning. Tokoh ini diiringi dengan belasan pemain yang menggunakan topeng berwarna merah. Namun, bukan benar-benar topeng, melainkan cat yang di dilukiskan di wajah sehingga mirip topeng.
Kelompok penari ini diiringi dengan nyanyian Gundul-gundul Pacul. Namun, bukannya menyajikan tarian topeng, mereka malah menari hip hop. Lengkap dengan gerakan head stand.
Ada juga yang menghadirkan topeng barongan. Barongan ini berjalan dengan sepasukan kerajaan lengkap dengan topeng di wajahnya. Mereka mengiringi sepasang raja dan ratu yang juga mengenakan topeng.
Sesaat musik pengiring mengalun. Di luar dugaan penonton, musik pengiring ternyata dangdut koplo dengan judul Wedi Karo Bojomu. Barongan yang biasa menari lincah, kali ini menari seperti penyanyi dangdut.
Dua tarian yang keluar dari pakem tari topeng tersebut hanya bagian dari kreasi yang dihadirkan peserta. Namun, tidak sedikit kelompok penari yang serius menghadirkan tari topeng Malangan, tari yang menjadi ciri khas Kota Malang.
Menurut Ketua Panitia Festival 1.000 Topeng, yang juga Pembantu Rektor IV UM, I Wayan Dasna, festival kali telah berubah. Dari awalnya festival di internal UM menjadi festival yang diikuti banyak siswa dari Kota Malang.
“Dulunya festival ini untuk memperingati Hari Tari Dunia dan Musik Indonesia. Tapi sekarang festival digelar secara terbuka dan diikuti para siswa,” ujarnya.
Festival ini bahkan sudah diambil alih oleh Dinas Pariwisata Kota Malang untuk menjadi agenda tahunan. Diharapkan festival ini bisa menjadi agenda pariwisata yang menarik wisatawan di Kota Malang. Selain itu lewat festival ini juga untuk memperkenalkan tari topeng Malangan.
Topeng sudah dianggap sebagai ciri khas Kota Malang. Tarian ini dulunya nyaris punah, namun bisa dibangkitkan kembali dan kini perlu dijaga kelestariannya.
“Kenapa dipilih topeng, karena inilah ciri khas Kota Malang. Topeng Malangan harus dilestariakan agar tidak punah,” ujarnya.
Seluruh peserta festival menari sekitar 10 menit. Mereka dinilai oleh tiga juri dari UM, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Usai menari peserta berjalan ke Perpustakaan Kota Malang, melalui Jalan Veteran.
Walikota Malang, Peni Suparto mengatakan, Topeng Malangan sudah ada sejak masa Kerajaan Kediri. Seperti yang diungkapkan Wayan, tari ini sudah menjadi ciri khas Kota Malang. Seribu topeng menggambarkan 1.000 karakter masyarakat Kota Malang.
“Masyarakat Malang ini majemuk dengan beragam karakternya. Malang adalah Indonesia mini, meski banyak perbedaan tetapi tetap bersatu,” ujarnya.