Senin, 13 April 2026

Mengenang Fadly Rasyid, Pencipta Monumen Gerbong Maut Berpulang

Jember | SURYA-Pencipta monumen Gerbong Maut yang di Alun-alun Kabupaten Bondowoso, Fadly Rasyid, berpulang ke rahmatullah, Kamis (16/4). Fadly meninggal dunia di RS Jember Klinik pukul 01.00 WIB. Ia dirawat di rumah sakit akibat serangan stroke hingga tidak sadarkan diri selama lima jam sebelum meninggal dunia. Fadly meninggal di usia 71 tahun meninggalkan seorang istri, Sri Utami,47 dan dua anak, Bayu Anggun Nilatandi dan Bahana Purwa Kendita. Almarhum dimakamkan di kampung halamannya, Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Jember. Sosok Fadly Rasyid terkenal dalam dunia seni rupa juga pematung dan penulis. Sebagai pematung, karya yang dibuat Fadly antara lain monumen Gerbong Maut di Kabupaten Bondowoso, patung Jenderal Ahmad Yani dan S Parman di Jakarta tahun 1972 - 1976. Monumen Gerbong Maut dibuat untuk menceritakan perjuangan pejuang Indonesia di tahun 1947. Kala itu 100 pejuang ditawan oleh penjajah Belanda dan diangkut dalam gerbong barang tertutup tanpa ventilasi dari Bondowoso menuju penjara Bubutan Surabaya. Monumen itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Kabupaten Bondowoso. Selain membuat patung, Fadly juga dikenal sebagai pelukis dan penulis produktif sejak tahun 1960 an hingga tahun 1980 an. Bahkan saat ini, kakek 3 cucu itu tengah mempersiapkan sebuah novel tentang pembunuhan misterius (petrus) zaman orde baru di wilayah Jember yang diberi judul 'Salvo'. Di tahun 1970-an, Fadly sudah mulai ikut pameran seni rupa, berkeliling nusantara bersama anggota komunitas Sanggar Bambu. Kala itu, ia juga terlibat penggarapan poster teaternya WS Rendra. Dalam periode itu pula, Fadly produktif menulis puisi, cerpen dan cerita humor. Dia sempat mendirikan majalah humor 'ASTAGA' bersama Arswendo Atmowiloto dan menjadi pengasuh majalah '69' sebuah majalah tentang seni budaya bersama almarhum Motinggo Busye dan Toha Mochtar. Fadly juga menjadi salah satu pendiri majalah anak-anak 'KAWANKU' bersama Asmara Nababan, Trem Sutedja dan Toha Mochtar. Tahun 1978, Fadly menjadi pememang pertama Lomba penulisan Naskah Humor yang diselengarakan Lembaga Humor Indonesia dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Karya-karya tulisnya kebanyakan ditujukan untuk 'segmen' anak-anak. Fadly mengakui, selain hal itu untuk tetap menyalurkan 'misi pendidikan' (sebagai guru yang berhenti mengajar), dia juga menganggap anak-anak harus terus dimotivasi dengan karya-karya tulis seperti puisi, cerpen dan novel. Puisi dan cerita yang ditulis Fadly selalu mengusung tema lingkungan dan nasionalisme. Semuanya menggunakan tokoh anak-anak. Selain tersebar di berbagai media seperti Horizon, Kompas, Zaman, Kawanku, beberapa naskah sudah diterbitkan menjadi buku. Buku kumpulan puisi karya Fadly yang sudah diterbitkan antara lain, Musim dan Peristiwa Alam, Surat Pada Pahlawan, dan Di Bawah Matahari. Sedangkan cerita/novel anak karyanya yang sudah diterbitkan seperti Arman Anak Revolusi, Merah Putih Berkibar Kembali, Tamu yang Cerdik (cerita humor). Ada juga cerita bertema pelestarian lingkungan dan benda sejarah seperti Lepas ke Samudera Luas, Melacak jejak Harimau Jawa, Gerhana di Atas Baluran dan Merebut Dewi Rengganis. Sedangkan karyanya di bidang seni rupa, selain dikenal sebagai ilustrator (majalah dan buku), pelukis poster, dia juga banyak memproduksi lukisan abstrak. Tahun 1975 hingga tahun 1983, Fadly juga aktif mengikuti pameran lukisan dan menggelar pameran tunggal lukisannya di Jogjakarta dan Jakarta. Komposisi lukisannya terbilang unik karena lebih banyak mengandalkan kekuatan garis dan warna, dan dikerjakan dalam waktu relatif singkat. Dia mengaku lebih 'mood' melukis secara spontan. Yang penting baginya, orisinalitas ide dan imajinasi, kemudian dipadu dengan kekuatan garis dan warna. Ciri utama lukisannya adanya satu titik yang sengaja dibubuhkan dalam bidang paling sempit dalam setiap lukisan. Awal 2009 ini, Fadly baru membuka sanggar dan galery lukisnya bernama 'Fosil". Menurut sang istri, Sri Utami, Fadly berniat memamerkan 100 hasil karyanya di galeri itu. "Tapi belum kesampaian, Mbah Fadly sudah meninggal dunia," ujarnya. /Sri Wahyunik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved