Kamis, 11 Juni 2026

Harga BBM Naik

Pengusaha Bus di Lamongan Lakukan Efisiensi Akibat Harga BBM Naik

Akibat harga bbm naik dan melemahnya rupiah, PO bus pariwisata di Lamongan Jatim atur strategi bertahan dan lakukan efisiensi.

Tayang:
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Hanif Manshuri
DAMPAK BBM NAIK DAN RUPIAH MELEMAH - Salah satu perusahaan otobus (PO) di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim), seperti PO Biru Samudra yang kini harus mengatur strategi operasionalnya dampak naiknya harga BBM dan melemahnya rupiah, Rabu (10/6/2026) 
Ringkasan Berita:
  • Naiknya harga BBM dan melemahnya kurs rupiah memicu lonjakan harga suku cadang impor bagi pengusaha bus pariwisata.
  • Direktur Biru Samudra, H. Tina Indriani, memutuskan mengistirahatkan armada bus tahun tua untuk menekan biaya operasional yang membengkak.
  • Pelaku usaha meminta pemerintah memberikan stimulus berupa insentif pajak kendaraan dan peninjauan harga BBM industri guna menjaga keberlangsungan bisnis transportasi.

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Melemahnya nilai tukar rupiah memberikan tekanan berat bagi para pengusaha bus pariwisata di Lamongan, Jawa Timur (Jatim).

Kondisi ekonomi ini diperparah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak langsung pada lonjakan biaya operasional perusahaan.

Direktur Perusahaan Otobus (PO) Biru Samudra, Hj Tina Indriani, mengungkapkan bahwa kenaikan kurs dolar membuat harga suku cadang kendaraan, oli, hingga kebutuhan perawatan bus mengalami lonjakan signifikan.

Hal ini menjadi tantangan besar karena banyak komponen kendaraan yang masih bergantung pada produk impor.

Strategi Efisiensi Operasional

Untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tekanan ekonomi, Biru Samudra terpaksa melakukan efisiensi ketat. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan mengistirahatkan armada bus dengan tahun produksi lama.

"Biaya operasional sekarang semakin berat. Harga sparepart naik terus karena banyak komponen impor. Kami memilih mengistirahatkan satu armada tahun tua agar biaya tidak membengkak," ujar Tina, Rabu (10/6/2026).

Strategi ini diterapkan dengan kriteria berikut:

  • Mengoperasikan hanya armada dengan tahun muda (2019 ke atas).
  • Memarkir sementara armada tahun lama untuk menekan pengeluaran.
  • Melakukan penyesuaian operasional sesuai permintaan pasar yang cenderung stabil.

Tantangan Sektor Pariwisata

Selain dampak kurs rupiah, Tina menyoroti menurunnya aktivitas wisata dan kegiatan rombongan sekolah yang berpengaruh terhadap arus pendapatan perusahaan.

Permintaan penyewaan bus saat ini terpantau stagnan sejak awal tahun 2026.

Sebagai pelaku usaha, Tina berharap pemerintah dapat segera memberikan stimulus yang konkret untuk meringankan beban industri transportasi.

Beberapa poin yang diharapkan meliputi:

  • Keringanan pajak kendaraan umum.
  • Penurunan harga BBM sektor industri.
  • Pemberian insentif khusus untuk belanja suku cadang kendaraan.

"Kalau tidak ada langkah konkret, banyak pengusaha bus yang kesulitan bertahan. Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah agar sektor transportasi tetap berjalan," tambah Tina.

Saat ini, pengusaha di daerah hanya mampu bertahan sembari memantau kondisi pasar. Diharapkan daya beli masyarakat kembali pulih seiring dengan stabilnya kondisi ekonomi makro nasional.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved