Jumat, 10 April 2026

Warga Suger Kidul Jember Sudah Salat Id Hari Ini, Jemaah Gunakan Metode Khomasi

Sebagian warga Jember Jatim laksanakan Salat Idul Fitri 1447 H hari ini, Kamis (19/3/2026), beda dengan pemerintah.

|
Penulis: Imam Nahwawi | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Imam Nahwawi
SALAT ID - Jemaah mendengar khotbah khatib salat Id di Masjid Salafiyah Syafiiyah Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (19/3/2026). Warga Jember Utara ini merayakan Idul Fitri lebih awal merujuk pada kitab salaf Nushatul Majaalis Wa Muntahabul Nafaais. 
Ringkasan Berita:
  • Warga Desa Suger Kidul Jember Jawa Timur (Jatim) melaksanakan Salat Idul Fitri pada Kamis (19/3/2026) ini.
  • Penetapan 1 Syawal didasarkan pada perhitungan Kitab Nushatul Majaalis.
  • Metode yang digunakan adalah hitungan 5 hari (Khomasi) dari awal Idul Fitri tahun sebelumnya.

 

SURYA.CO.ID, JEMBER - Sebagian warga di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), resmi melaksanakan ibadah salat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Kamis (19/3/2026) pagi.

Masyarakat di kawasan Jember Utara ini merayakan Lebaran 2026 lebih awal dibandingkan ketetapan pemerintah. Pemerintah sendiri baru akan menggelar sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis malam.

Pelaksanaan salat Id berlangsung khidmat di sejumlah titik, termasuk Masjid Salafiyah Syafi'iyah dan kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Mahfilud Duror. Jemaah tampak memadati area masjid sejak pagi buta.

Metode Hitungan Kitab Salaf Nushatul Majaalis

Penetapan Idul Fitri oleh warga setempat merujuk pada kitab salaf Nushatul Majaalis Wa Muntahabul Nafaais. Kitab ini, merupakan karangan Syaikh Abdurrohman As-Sufuri As-Syafi’i yang telah diterapkan secara turun-temurun.

  • Metode perhitungan dilakukan dengan sistem Khomasi (lima hari).
  • Penentuan awal Ramadan atau Idul Fitri dihitung lima hari dari hari pertama tahun sebelumnya.
  • Tradisi ini telah dipertahankan oleh para kiai sepuh selama ratusan tahun di wilayah tersebut.

"Sudah diterapkan sejak dulu oleh kiai sepuh, memang begitu prosedurnya," ujar Hafid Malik, Imam Salat Id di Masjid Salafiyah Syafi'iyah.

Ia menekankan pentingnya sikap saling menghargai antarumat Islam, meski terdapat perbedaan jadwal.

Jemaah Lintas Kabupaten Padati Lokasi

Pantauan SURYA.co.id di lapangan, menunjukkan jemaah tidak hanya berasal dari warga lokal Jember. Banyak warga dari Kabupaten Bondowoso yang sengaja datang untuk mengikuti Salat Id di Desa Suger Kidul.

Mayoritas jemaah luar daerah merupakan alumni santri Ponpes Mahfilud Duror yang masih memegang teguh anjuran guru ngajinya. Mereka mengaku sudah mendapatkan informasi jadwal Lebaran sejak awal Ramadan.

Aparat dari TNI dan Polri tampak bersiaga di sekitar lokasi, untuk memastikan ibadah berjalan aman. 

Kapolsek Jelbuk, Iptu Brisan Imanulla, menyatakan bahwa perbedaan ini sudah menjadi hal biasa dan dianggap sebagai anugerah dalam keberagaman.

Latar Belakang Metode Khomasi di Jember

Sebagai informasi tambahan, warga Desa Suger Kidul mulai berpuasa Ramadan lebih awal pada Rabu (18/2/2026). Secara perhitungan kalender internal mereka, puasa telah genap dilaksanakan selama 30 hari penuh.

Metode Khomasi di Ponpes Mahfilud Duror ini sudah ada sejak tahun 1826. Meskipun seringkali berbeda dengan metode rukyatul hilal yang digunakan pemerintah, warga setempat tetap hidup rukun berdampingan dengan masyarakat lainnya.

Bagi masyarakat luas, perbedaan jadwal Idul Fitri hendaknya disikapi dengan bijak. Berikut adalah beberapa anjuran:

  • Tetap menjaga ukhuwah islamiyah dan kerukunan antarwarga.
  • Saling menghormati pilihan keyakinan dan metode perhitungan masing-masing kelompok.
  • Gunakan momen ini untuk mempererat silaturahmi tanpa memperdebatkan perbedaan teknis ibadah.
Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved