Minggu, 10 Mei 2026

Ramadan 2026

Awal Puasa Ramadan 2026 di Lamongan Berpotensi Beda, Ini Penyebabnya

BHR Lamongan Jawa Timur prediksi awal puasa Ramadan 1447 H berpotensi beda karena kriteria MABIMS belum terpenuhi. Simak penjelasannya!

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Hanif Manshuri
RUKYATUL HILAL - Kegiatan rukyatul hilah pada tahun 2025 di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Untuk tahum 2026 ini, nanti sore juga akan digelar acara serupa dengan melibatkan berbagai ormas Islam seperti, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, LDII dan lembaga terkait. Namun, penetapan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah di Lamongan, diprediksi berpotensi mengalami perbedaan di tengah masyarakat. 
Ringkasan Berita:
  • BHR Lamongan Jawa Timur menyebut ada potensi perbedaan awal puasa Ramadan 2026 karena kriteria hilal 3 derajat belum terpenuhi.
  • Rukyatul hilal tetap akan digelar di Tanjung Kodok sebagai verifikasi data hisab sebelum Sidang Isbat pemerintah.
  • Masyarakat diimbau tetap toleran dan menunggu keputusan resmi Kemenag RI terkait penetapan 1 Ramadan 1447 H.

 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Penetapan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur  (Jatim), diprediksi berpotensi mengalami perbedaan di tengah masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Badan Hisab Rukyat (BHR) Kabupaten Lamongan, Khoirul Anam. Ia menilai kriteria terbaru yang ditetapkan Kementerian Agama (Kemenag) RI kemungkinan besar belum terpenuhi di seluruh wilayah Indonesia.

Alasan Potensi Perbedaan Awal Puasa

Khoirul Anam menjelaskan, bahwa perbedaan ini muncul karena adanya parameter baru dalam penentuan hilal. Kemenag kini menggunakan standar yang lebih ketat untuk memastikan visibilitas bulan baru.

  • Kriteria MABIMS menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat.
  • Sudut elongasi minimal harus mencapai 6,4 derajat.
  • Berdasarkan perhitungan hisab sementara, parameter tersebut diperkirakan belum terpenuhi di seluruh Indonesia pada tanggal pemantauan.
  • Perbedaan muncul karena adanya organisasi keagamaan yang masih menggunakan metode wujudul hilal atau kriteria berbeda.

Meski perhitungan hisab sudah menunjukkan hasil, Khoirul menegaskan, bahwa rukyatul hilal tetap akan dilaksanakan di Tanjung Kodok, Lamongan. Langkah ini berfungsi sebagai verifikasi faktual atas data perhitungan yang telah ada.

Sidang Isbat dan Verifikasi di Tanjung Kodok

Pelaksanaan rukyat di Tanjung Kodok nantinya akan melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, mulai dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) hingga LDII. Semua pihak yang terlibat dalam pemantauan akan menjalani proses sumpah oleh Pengadilan Agama.

"Rukyat hanya memverifikasi. Jika hasilnya sama antara rukyat dan hisab, yaitu minus satu. Yang melihat maupun yang tidak melihat hilal nantinya akan tetap disumpah," tandas Khoirul Anam saat dikonfirmasi SURYA.co.id, Selasa (17/2/2026).

Kriteria MABIMS

Perubahan kriteria penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia secara resmi mulai diberlakukan pada tahun 2022. Sebelumnya, Pemerintah Indonesia melalui Kemenag menggunakan kriteria ketinggian hilal minimal 2 derajat dan elongasi 3 derajat.

Namun, berdasarkan kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), kriteria tersebut ditingkatkan menjadi 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. 

Perubahan ini didasarkan pada pertimbangan astronomis, agar hilal yang terpantau benar-benar valid secara sains dan meminimalisir kesalahan identifikasi cahaya lain sebagai hilal.

Imbauan dan Tips

Menghadapi potensi perbedaan awal Ramadan 1447 H, masyarakat diharapkan tetap tenang dan menjaga kerukunan. Berikut adalah beberapa tips bagi umat Muslim:

  • Tetap mengedepankan sikap toleransi dan menghargai perbedaan keyakinan metode penentuan awal puasa.
  • Menunggu pengumuman resmi dari Pemerintah RI melalui Sidang Isbat Kemenag untuk kepastian secara nasional.
  • Menjadikan momen perbedaan sebagai sarana untuk mempererat persatuan dan ketertiban dalam beribadah.
Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved