Rabu, 22 April 2026

Banjir Lamongan

Banjir Lamongan Terus Meluas, Ekonomi Warga Lumpuh Total

Banjir luapan Sungai Bengawan Jero di Lamongan Jatim terus meluas selama sebulan ini. Simak kondisi terkini dan dampak ekonomi warga di sini

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Hanif Manshuri
BANJIR LAMONGAN - Luapan Sungai Bengawan Jero yang kian meluas memaksa sedikitnya 520 kepala keluarga di Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, hidup dalam kepungan banjir setinggi lutut orang dewasa selama lebih dari satu bulan terakhir, Kamis (22/1/2026). Kondisi ini telah melumpuhkan total aktivitas ekonomi dan sosial warga setempat. 

Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, terus meluas selama lebih dari satu bulan terakhir tanpa kepastian kapan akan surut.

Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 520 rumah di Desa Sidomulyo, Lamongan, Jatim, terendam banjir luapan Sungai Bengawan Jero selama lebih dari satu bulan.
  • Letak geografis desa yang berada di daerah cekungan menjadi penyebab utama air sulit surut dan melumpuhkan akses jalan.
  • Aktivitas ekonomi khususnya sektor perikanan tambak lumpuh total, mengakibatkan kerugian material besar bagi warga.

 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Luapan Sungai Bengawan Jero yang kian meluas memaksa sedikitnya 520 kepala keluarga di Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim), hidup dalam kepungan banjir setinggi lutut orang dewasa selama lebih dari satu bulan terakhir. Kondisi ini telah melumpuhkan total aktivitas ekonomi dan sosial warga setempat.

Baca juga: Update Banjir Lamongan 2026: 2.105 Rumah Terendam, Petambak Rugi Miliaran

Ratusan Rumah di Empat Dusun Terisolasi Banjir

Banjir yang melanda Desa Sidomulyo kali ini dinilai lebih parah, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Genangan air telah merendam sedikitnya empat dusun, yakni Dusun Rowoglagah, Dusun Kedungwaru, Dusun Meluke dan Dusun Pujut. 

Ketinggian air yang bervariasi antara betis hingga lutut orang dewasa telah memutus akses jalan utama desa.

Akibat akses jalan yang terputus, warga terpaksa menggunakan perahu kecil atau berjalan kaki menyusuri genangan air yang tinggi untuk keluar masuk desa. 

Kerusakan material pun tak terhindarkan, mulai dari perabotan rumah tangga seperti lemari dan kursi yang mulai lapuk hingga tembok rumah yang mulai rapuh akibat terendam air terlalu lama.

Baca juga: Kondisi Terkini Banjir Lamongan: 32 Sekolah Terendam Banjir, Guru Jemput Siswa Pakai Perahu

BANJIR LAMONGAN - Luapan Sungai Bengawan Jero yang kian meluas memaksa sedikitnya 520 kepala keluarga di Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, hidup dalam kepungan banjir setinggi lutut orang dewasa selama lebih dari satu bulan terakhir, Kamis (22/1/2026). Kondisi ini telah melumpuhkan total aktivitas ekonomi dan sosial warga setempat.
BANJIR LAMONGAN - Luapan Sungai Bengawan Jero yang kian meluas memaksa sedikitnya 520 kepala keluarga di Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, hidup dalam kepungan banjir setinggi lutut orang dewasa selama lebih dari satu bulan terakhir, Kamis (22/1/2026). Kondisi ini telah melumpuhkan total aktivitas ekonomi dan sosial warga setempat. (Surya.co.id/Hanif Manshuri)

Faktor Geografis Cekungan Perparah Luapan Bengawan Jero

Kepala Desa (Kades) Sidomulyo, Dwi Bagus Saputra, mengungkapkan bahwa letak desa yang berada di titik terendah atau daerah cekungan, menjadi penyebab utama sulitnya air surut dari wilayah mereka. 

Debit air dari Sungai Bengawan Jero yang meluap dengan cepat masuk ke pemukiman warga, namun sangat lambat untuk dialirkan kembali.

"Kondisi geografis wilayah Desa Sidomulyo berada di daerah cekungan, sehingga air kiriman dari sejumlah sungai meluber dan mudah masuk ke wilayah empat dusun tersebut," jelas Dwi Bagus Saputra saat dikonfirmasi SURYA.co.id pada Kamis (22/1/2026).

Baca juga: Lamongan Terus Terjebak Banjir, Puluhan Mahasiswa PMII Unisda Unjuk Rasa di Gedung DPRD

Sektor Perikanan Tambak Lumpuh dan Kerugian Material

Dampak bencana ini tidak hanya menyasar hunian, tetapi juga menghancurkan tumpuan ekonomi warga di sektor perikanan. 

Ratusan hektare tambak warga kini menyerupai lautan lepas, membuat para petambak dipastikan gagal panen dan kehilangan mata pencaharian utama mereka.

Umiyani, salah satu warga setempat, mengeluhkan kondisi ekonomi yang kian sulit dan hanya bisa berharap pada bantuan serta kepastian air surut. 

"Warga tidak banyak beraktivitas, hanya menunggu banjir surut. Kami berharap bisa segera beraktivitas seperti sediakala, termasuk mulai menggarap tambak yang saat ini juga kebanjiran," ungkap Umiyani.

Hingga saat ini, pemerintah desa bersama relawan terus melakukan patroli rutin untuk memantau perkembangan debit air di titik-titik rawan, guna mengantisipasi kenaikan air susulan yang lebih ekstrem.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved