Berita Surabaya

Pegiat Literasi: Rendahnya Pengetahuan tentang Hak Cipta Bikin Kasus Pelanggaran Banyak Terlewatkan

Baru-baru ini, hak cipta kembali hangat diperbincangkan di kalangan pegiat literasi.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: irwan sy
IST
Menjalin komunikasi yang baik dan meminta izin serta mematuhi aturan yang telah ditetapkan penerbit ketika memanfaatkan buku di ruang publik, sangat dianjurkan agar tidak berdampak pada konsekuensi hukum terkait dengan hak cipta pada buku. 

Berita Surabaya

SURYA.co.id | SURABAYA - Semangat untuk meningkatkan literasi di Indonesia makin meningkat.

Komunitas membaca nyaring bermunculan di berbagai daerah dengan tujuan untuk meningkatkan minat baca sejak dini.

Para pegiat literasi berlomba-lomba untuk mengampanyekan pentingnya membaca nyaring dengan membuat berbagai kegiatan seperti tantangan membaca nyaring, seminar dan workshop membacakan nyaring, hingga penyelenggaraan berbagai festival literasi.

Selain itu, para pegiat literasi pun berlomba-lomba membuat konten yang menarik di media sosial untuk mengajak masyarakat turut bergabung ke dalam gerakan membacakan nyaring dengan membuat unggahan keseruan membaca buku bersama keluarga.

"Namun, jika tidak berhati-hati, kegiatan yang terlihat positif itu dapat berujung pada hal yang negatif bahkan memiliki konsekuensi hukum, seperti pelanggaran hak cipta," kata Winda Susilo, pimpinan dari Clavis Indonesia dan Penerbit BIG, dalam rilisnya, Selasa (4/10/2022).

Baru-baru ini, hak cipta kembali hangat diperbincangkan di kalangan pegiat literasi.

Hal ini bermula dari keberatan yang disampaikan salah satu penerbit kepada penyelenggara sebuah kegiatan literasi karena salah satu bukunya dipindai dan dipertontonkan kepada masyarakat umum dan dibacakan secara utuh dari awal hingga akhir.

"Selain itu, rekaman kegiatan tersebut disiarkan melalui kanal youtube dan instagram pihak penyelenggara. Semua itu dilakukan tanpa adanya izin dari penerbit. Tentu saja, pada akhirnya pelanggaran hak cipta itu memiliki konsekuensi hukum," ungkap Winda.

Isu itu pun berkembang dengan cepat dan menuai berbagai reaksi, bahkan kemudian muncul narasi bahwa langkah yang diambil penerbit tersebut adalah upaya yang menghambat kampanye membaca nyaring di Indonesia.

Padahal yang perlu digaris bawahi sesungguhnya adalah tentang pelanggaran hak ciptanya, bukan kampanye membacakan nyaringnya.

Terdapat kerja keras banyak pihak mulai dari penulis, ilustrator, editor, proof reader, percetakan, dan banyak pihak lain yang terlibat.

Pelanggaran hak cipta tidak hanya merugikan pencipta dan pemegang hak cipta, tetapi juga berpengaruh kepada seluruh pihak yang terlibat dan menggantungkan hidupnya pada industri penerbitan buku.

Di Indonesia, perlindungan hak cipta telah diatur oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved