Sabtu, 23 Mei 2026

Dolar Tembus Rp17.646, Kadin Jatim Ingatkan Ancaman PHK

Nilai tukar dolar tembus Rp17.646. Kadin Jatim sebut industri mulai tertekan dan ancaman PHK mengintai.

Tayang:
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Sri Handi Lestari
NAIKKAN DAYA BELI - Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto saat menerima keterangan terkait dampak nilai tukar dolar terhadap rupiah yang melambung hingga Rp 17.646 pada Kamis (21/5/2026). Pihaknya menyebut pelemahan rupiah memunculkan dampak berlapis bagi pelaku usaha. Mulai dari kenaikan biaya produksi hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK). 
Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar dolar AS menyentuh Rp17.646 dan mulai berdampak pada dunia usaha serta daya beli masyarakat.
  • Kadin Jatim menyebut industri menghadapi kenaikan biaya produksi, tekanan margin, hingga ancaman PHK jika kondisi berkepanjangan.
  • Pengusaha mulai menahan stok bahan baku dan meminta pemerintah memperkuat bansos serta realokasi anggaran untuk infrastruktur.

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang menyentuh Rp17.646, mulai memberi tekanan serius terhadap dunia usaha nasional. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor industri, tetapi juga mulai memengaruhi daya beli masyarakat.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim), Adik Dwi Putranto, menyebut pelemahan rupiah memunculkan dampak berlapis bagi pelaku usaha. Mulai dari kenaikan biaya produksi hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Setidaknya terdapat tiga lapisan dampak utama yang kini mulai dirasakan pelaku usaha, mulai dari kenaikan biaya produksi hingga melemahnya daya saing industri,” kata Adik, Kamis (21/5/2026).

Biaya Produksi Industri Mulai Tertekan

Menurut Adik, dampak paling langsung dari melemahnya rupiah adalah naiknya biaya produksi. Hal itu dipicu tingginya ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor yang dibeli menggunakan dolar AS.

“Bahan baku seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik masih didominasi impor. Ketergantungan impor bahan baku industri manufaktur Indonesia, bahkan disebut masih berada di atas 70 persen,” jelasnya.

Beberapa sektor industri yang paling terdampak antara lain manufaktur, farmasi, otomotif dan tekstil. Di sisi lain, margin keuntungan pelaku usaha ikut tergerus, karena biaya produksi meningkat, sementara harga jual produk belum bisa langsung dinaikkan ke pasar.

Adik mengungkapkan, banyak pengusaha kini mulai menahan stok bahan baku dan melakukan efisiensi produksi. Langkah itu dilakukan karena kekhawatiran daya beli masyarakat akan terus melemah.

Fakta Penting Dampak Pelemahan Rupiah:

  • Dolar AS menyentuh Rp17.646 per dolar AS pada 21 Mei 2026.
  • Industri manufaktur Indonesia masih bergantung lebih dari 70 persen pada bahan baku impor.
  • Sektor manufaktur, farmasi, otomotif, dan tekstil menjadi yang paling terdampak.
  • Pengusaha mulai menahan stok bahan baku dan melakukan efisiensi produksi.
  • Ancaman PHK dinilai bisa meningkat jika pelemahan rupiah berlangsung lama.
  • Kadin Jatim meminta pemerintah memperkuat bansos dan proyek infrastruktur.

Ancaman PHK Mulai Mengintai

Menurutnya, kondisi tersebut bisa berdampak serius apabila berlangsung dalam waktu lama. Dunia usaha berpotensi mengurangi produksi, hingga melakukan PHK demi menekan beban operasional.

“Pendapatan masyarakat tetap, sementara harga barang naik. Ini jadi problem daya beli. Akhirnya pengusaha membatasi impor bahan baku dan mengurangi produksi. Kalau lama-kelamaan begini, ancaman PHK akan terus mengintai,” ujarnya.

Meski demikian, banyak pelaku usaha saat ini memilih menahan kenaikan harga produk dan mengurangi margin keuntungan agar pasar tetap bergerak.

“Mungkin selain efisiensi, yang dilakukan pengusaha adalah mengurangi keuntungan. Jadi tidak menaikkan harga dulu sementara, tapi mengurangi keuntungan. Tapi itu juga tidak bisa terlalu lama,” bebernya.

Di tengah tekanan ekonomi global, Adik menilai produk lokal justru memiliki peluang lebih kompetitif dibanding barang impor, khususnya sektor pertanian dan peternakan yang menggunakan bahan baku dalam negeri.

“Produk-produk yang betul-betul lokal ini bisa lebih kompetitif dari produk impor yang sama. Contohnya petani jeruk atau durian, mereka bisa lebih menang dibanding produk impor langsung dari luar negeri,” imbuhnya.

Dorong Realokasi Anggaran dan Penguatan Bansos

Kadin Jatim juga meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Salah satunya melalui realokasi anggaran dari program yang dinilai belum berdampak besar terhadap ekonomi langsung.

Adik mencontohkan anggaran pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dapat dialihkan sementara ke proyek infrastruktur yang lebih banyak menyerap tenaga kerja dan memicu perputaran ekonomi.

“Pemerintah harus berani merealokasi anggaran. Infrastruktur itu menyerap tenaga kerja dan memicu perputaran ekonomi,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga diminta memperkuat bantuan sosial dan bantuan tunai, guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.

“Yang paling diperlukan sekarang bansos, bantuan tunai. Jadi daya beli masyarakat bisa naik lagi dan pengusaha juga terbantu,” ujarnya.

Meski situasi ekonomi global dinilai cukup berat, Adik mengaku tetap optimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui strategi yang tepat.

“Kami sebagai pengusaha nggak boleh berpikir negatif atau pesimis. Kami percayakan pada pemerintah, tapi tetap harus memakai strategi-strategi untuk menjaga usaha tetap berjalan,” pungkasnya.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved