Banyuwangi Jadi Percontohan Global dalam Pengembangan Anak Usia Dini Inklusif
Komitmen Banyuwangi dalam mewujudkan pendidikan inklusif mendapat pengakuan dunia.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- Perkins International menjadikan Banyuwangi sebagai studi kasus penerapan pendidikan inklusif global
- Lokakarya strategis digelar untuk merumuskan pengembangan anak usia dini yang inklusif
- Bupati Ipuk Fiestiandani berkomitmen menjadikan Banyuwangi sebagai laboratorium hidup inklusi
- Kolaborasi lintas sektor diperkuat untuk meningkatkan layanan bagi penyandang disabilitas
SURYA.co.id, BANYUWANGI - Komitmen Banyuwangi dalam mewujudkan pendidikan inklusif mendapat pengakuan dunia.
Ini setelah Perkins International, sebuah lembaga pendidikan global berbasis di Boston, Amerika Serikat, menggelar lokakarya strategis di daerah ini dan menjadikannya studi kasus penerapan daerah inklusif.
Lokakarya bertajuk “Perencanaan Strategis Pengembangan Anak Usia Dini yang Inklusif” itu diikuti puluhan peserta lintas sektor.
Seperti Kementerian Pendidikan, Kesehatan, Sosial, Komisi Nasional Disabilitas, hingga jajaran dinas dan tenaga kesehatan puskesmas di Banyuwangi.
Kolaborasi Solid
Direktur Program Perkins wilayah Asia Pasifik, Ami Tango Limketkai, menilai Banyuwangi memiliki komitmen luar biasa terhadap pelayanan yang inklusif.
Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas juga dinilai sangat solid.
Baca juga: Kebakaran di Sidodadi Banyuwangi Hanguskan Dapur dan Dua Kamar
“Banyuwangi sangat istimewa. Daerah ini memiliki kepemimpinan yang benar-benar berpikiran inklusif dan terbuka terhadap perubahan yang berdampak nyata bagi kehidupan keluarga dan anak-anak, khususnya penyandang disabilitas. Lewat kegiatan ini, kami berharap Banyuwangi dapat menjadi kabupaten percontohan di masa depan,” ujar Ami saat pembukaan Lokakarya di Aula Café & Resto Bale Saji, Kecamatan Kabat, Selasa (2/6/2026) malam. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Beragam Pelatihan untuk Guru SLB dan Orangtua
Kolaborasi Perkins International dan Pemkab Banyuwangi telah berjalan cukup lama di sektor pendidikan.
Selama ini, Perkins telah aktif mendukung Banyuwangi melalui berbagai pelatihan bagi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan orang tua anak penyandang disabilitas.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama mewujudkan daerah ramah disabilitas.
Program Sekolah Model
Kerja sama antara Banyuwangi dan Perkins International juga melahirkan program Sekolah Model.
Sebanyak 170 guru SLB telah mendapatkan pelatihan mengenai strategi pengajaran, manajemen kelas, penanganan autis, bahasa isyarat, hingga pelatihan dasar fisioterapi.
Kali ini, Perkins menggelar lokakarya yang melibatkan puluhan peserta nasional.
Lokakarya yang berlangsung selama dua hari, 3-4 Juni 2026, itu bertujuan menyelaraskan prioritas nasional dan daerah, serta merumuskan strategi peningkatan akses dan kualitas layanan pengembangan anak usia dini yang inklusif.
“Kami hadirkan berbagai sektor untuk bekerja sama dengan fokus pada pendidikan anak usia dini yang inklusif, intervensi kesehatan anak usia dini, serta dukungan bagi anak-anak dan keluarga mereka. Dalam hal ini kami menjadikan Banyuwangi sebagai studi kasus praktik baiknya,” kata Ami.
Lokakarya diisi dengan berbagai kegiatan, mulai diskusi hingga observasi ke sejumlah sekolah model dan puskesmas.
Apresiasi Bupati Banyuwangi
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut.
Bagi Ipuk, menjadi sebuah kehormatan bagi Banyuwangi dipilih sebagai tuan rumah sekaligus objek studi kasus lokakarya Perkins International.
“Kami senang Perkins menggelar kegiatan ini di Banyuwangi. Kami sangat mendukung dan siap menjadi living lab untuk kegiatan ini. Semoga lancar, dan bisa menghasilkan rencana aksi yang bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan pengembangan anak usia dini di tingkat nasional maupun daerah, khususnya Banyuwangi,” ujar Ipuk.
Optimalkan Unit Layanan Disabilitas
Banyuwangi, kata Ipuk, terus berupaya mewujudkan daerah yang ramah dan nyaman bagi semua warga, termasuk anak-anak dan kaum disabilitas.
Salah satunya, menerapkan program sekolah inklusi yang mewajibkan seluruh sekolah untuk menerima siswa berkebutuhan khusus.
Selain itu, Banyuwangi juga menggelar banyak kegiatan yang menjadi ruang berekspresi anak-anak disabilitas, salah satunya festival Kita Bisa.
“Kami juga mengoptimalkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai jembatan utama identifikasi dini, pemeriksaan, hingga sistem rujukan bagi penyandang disabilitas,” pungkasnya.
BACA BERITA SURYA.co.id LAINNYA DI GOOGLE
| Terekam CCTV, Pencuri Ponsel di Toko Bangunan Jombang Viral di Media Sosial |
|
|---|
| Dua Oknum Polisi Pengedar Sabu di Madiun Divonis Lebih Ringan dari Tuntutan |
|
|---|
| Kebakaran di Sidodadi Banyuwangi Hanguskan Dapur dan Dua Kamar |
|
|---|
| Nasib Silmy Karim dan 7 Pejabat Ditjen Imigrasi Usai Jadi Tersangka di KPK, Istana Segera Copot |
|
|---|
| Kabar Duka dari Tanah Suci, Jamaah Haji Gresik Meninggal Usai Tawaf dengan Kursi Roda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/daerah-ini-sebagai-studi-kasus-penerapan-daerah-inklusif.jpg)