Jumat, 10 April 2026

Berita Surabaya

Pakar ITS Ungkap Bahaya Hujan Es bagi Lingkungan

Disebutkan, hujan es nyatanya juga memberi dampak bagi tercemarnya kualitas udara ambien.

Penulis: Zainal Arif | Editor: Cak Sur
Istimewa/Dokumen Pribadi
Pakar lingkungan dari ITS, Dr Eng Arie Dipareza Syafei ST MEPM. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Surabaya dihebohkan dengan fenomena hujan es yang turun bersamaan dengan hujan deras dan angin kencang pada Senin (21/2/2022) lalu. 

Selain menyebabkan kerusakan fisik di sejumlah bangunan fasilitas umum dan pribadi, hujan es disertai angin kencang tersebut nyatanya juga memberi dampak bagi tercemarnya kualitas udara ambien. 

Kepala Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Arie Dipareza Syafei ST MEPM mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi fenomena hujan es. 

Ia menegaskan, hujan es sebenarnya memiliki kandungan yang tidak jauh berbeda dengan hujan biasa. 

“Hanya berbeda bentuk, yang satu air, yang satu padat,” ujar Dr Arie kepada SURYA.co.id, Rabu (23/2/2022).

Meski demikian, Arie membenarkan, hujan es membawa polutan dari atmosfer.  Bukan sekadar membawa partikel debu yang berukuran kecil. 

Ia mengungkapkan, bahwa hujan es juga mengandung gas-gas emisi seperti nitrogen dioksida, sulfur dioksida dan karbon monoksida.

Lelaki yang menekuni bidang pencemaran udara dan perubahan iklim ini menuturkan, hujan memang membawa polutan karena zat-zat emisi dari bumi akan bertumbukan dan menempel dengan droplet air yang ada di atmosfer. 

“Dalam kasus hujan es, campuran air tersebut mengalami kristalisasi akibat pergerakan udara yang mempengaruhi suhu,” jelasnya.  

Mengingat hujan es biasanya disertai angin kencang, Arie justru menyebut perlu mewaspadai sebaran polutan yang meluas. 

Ia mengungkap, turbulensi angin akan mempercepat proses pengenceran polutan.

Maksudnya, gugus-gugus emisi yang ada dalam hujan es akan terdispersi secara lebih cepat dan luas.

Peraih gelar doktoral di Universitas Hiroshima, Jepang ini menambahkan, ketika angin bergerak lurus secara horizontal, polutan yang ada di dalam hujan es berpotensi terbawa ke wilayah lain yang ada di dekatnya. 

“Seperti kemarin, fenomena hujan es tidak hanya terjadi di Surabaya, tapi dikabarkan juga terjadi di Madiun, Nganjuk, hingga Kediri,” ungkapnya.

Arie berharap, pengalaman menyaksikan hujan es membuat masyarakat lebih berhati-hati dan teredukasi. 

Masyarakat harus sadar bahwa dalam bongkahan-bongkahan es tersebut terkandung senyawa polutan yang tidak ramah bagi lingkungan dan kesehatan.

“Jangan mentang-mentang hujan es, dipakai untuk minum es teh,” pesannya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved