Berita Jember

Mengaku Takut dan Trauma, Puluhan Warga Lumajang Terdampak Erupsi Gunung Semeru Mengungsi ke Jember

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Cak Sur
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Petugas Polsek Kencong memberikan bantuan dan mendata pengungsi erupsi Gunung Semeru yang ada di Kecamatan Kencong, Jember, Selasa (7/12/2021).

SURYA.CO.ID, JEMBER - Hasil pendataan pihak Polsek Kencong dan Muspika Kencong mengungkapkan, puluhan orang korban erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, mengungsi ke Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember.

Ke 33 orang tersebut mengungsi tersebar di tiga desa, yakni Desa Kraton (3 orang), Desa Cakru (7 orang) dan Desa Wonorejo (23 orang). Mereka terdiri atas pria dewasa, perempuan dewasa, anak-anak juga ada lansia.

Mereka antara lain berasal dari Desa Sumberejo dan Jarit Kecamatan Candipuro, juga dari Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.

Mereka memilih mengungsi sampai melewati batas kabupaten, karena kondisi Gunung Semeru yang hingga saat ini masih mengeluarkan material vulkanik.

"Kami masih takut dan trauma, karena sampai saat ini kondisi gunung masih tidak stabil," ujar Darmuji (53) warga Dusun Bulakmanggis, Desa Sumberejo, Candipuro, yang mengungsi di Desa Wonorejo, Kencong, Selasa (7/12/2021).

Gelombang pengungsi itu berdatangan ke Kencong mulai Senin (6/12/2021) malam. Mereka memilih bernaung di rumah sanak saudara mereka. Mereka memilih mencari tempat aman, hingga situasi kembali stabil.

Darmuji misalnya, mengungsi di rumah Intan, seorang guru SMPN 2 Kencong yang berada di Desa Wonorejo. Intan memiliki hubungan saudara dengan para pengungsi tersebut.

Darmuji bertutur tidak menyangka, Gunung Semeru bakal mengeluarkan awan panas.
"Sabtu sore itu tiba tiba terdengar suara keras dari gunung, lalu ada asap tebal turun dengan bergemuruh seperti pesawat dan saya berlari bersama keluarga dan juga warga lain untuk menyelamatkan diri ke masjid," tuturnya.

Masjid menjadi lokasi aman sementara, sambil mereka berdoa. Sore itu kawasan Bulakmanggis tiba-tiba berubah menjadi malam saking pekatnya kondisi.

"Saya, kami ketakutan. Semua orang menangis di dalam masjid, juga ada yang berlarian kesana kemari menyelamatkan diri," imbuhnya.

Halaman
12