Rabu, 8 April 2026

Berita Sidoarjo

Wardiman Djojonegoro: Tanpa Toleransi Negara Tidak Maju

Toleransi sangat diperlukan karena masyarakat kita sangat beragam. Kalau kita tidak toleran dengan yang lain, negara tidak akan pernah aman

Penulis: M Taufik | Editor: Cak Sur
Istimewa
Wardiman Djojonegoro dalam pembukaan acara training pembuatan kegiatan penguatan toleransi untuk guru atau pembimbing ekstrakurikuler 

SURYA.CO.ID, SIDOARJO - Toleransi sangat diperlukan karena masyarakat kita sangat beragam. Kalau kita tidak toleran dengan yang lain, maka di antara kita akan saling gontok-gontokan. Akibatnya negara kita tidak akan pernah aman dan tidak bisa maju.

Hal ini disampaikan oleh Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dalam pembukaan acara training pembuatan kegiatan penguatan toleransi untuk guru atau pembimbing ekstrakurikuler.

Acara yang diselenggarakan secara daring oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan ini berlangsung selama dua hari, Rabu (28/10/2020) dan Kamis (29/10/20). Diikuti oleh 5 SMP dan 5 SMA dari 5 kecamatan di Sidoarjo.

Sekolah-sekolah itu merupakan mitra penerima manfaat mengirimkan para guru dan/atau Pembina ekskul dalam bidang Pramuka, Seni Budaya, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Science, Pustakawan, Seni Lukis dan Karawitan.

Mengapa sampai ada intoleransi? Bagaimana caranya untuk mengurangi rasa tidak saling percaya satu sama lain, rasa unggul, atau rasa mudah tersinggung? Bagaimana cara meningkatkan rasa toleransi?

Wardiman berpendapat, dengan cara mengurangi rasa unggul diri kita sendiri, kelompok kita atau daerah kita, dan tidak menganggap rendah kelompok yang lain.

Susahnya, tambah Wardiman di zaman modern ini banyak faktor yang mendorong intoleransi. Ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya intoleransi. Pertama, ketidaksamaan antardaerah atau antarkota.

"Ada daerah yang maju, daerah yang aman, daerah yang masih ketinggalan atau masih kumuh. Hal itu lantas dijadikan pemicu atau alasan untuk bentrokan," urainya.

Kemudian ada orang-orang yang menjadikan perbedaan menjadi sarana untuk merendahkan atau menyerang orang atau kelompok lain.

Kedua, pengaruh internet. "Kita menjadi sangat mudah mengeluarkan pendapat, entah betul atau tidak, tetapi mudah pula membuat orang lain tersinggung. Kemudahan internet juga menyebabnya mudahnya kabar bohong (hoax) menyebar sehingga menjadikan berita panas," lanjut dia.

Ketiga, pemilihan kepala daerah (Pilkada) juga menjadi pemicu timbulnya intoleransi. Karena dalam kontestasi Pilkada ini orang cenderung mencari-cari perbedaan dan kemudian dilegalkan. Orang dengan mudahnya menghantam kelompok lawan untuk mendapatkan kemenangan. Hal inilah yang membuat situasi sekeliling kita tidak kondusif untuk dapat bertoleransi.

Narasumber lain yang memberikan materi dihadirkan dari LPPM Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, yaitu Dr A Rubaidi M.Ag, Amin Hasan M.Pd dan Hernik Faisia M.PdI.

Selain itu juga ada pengantar mengenai pemahaman mengenai kegiatan ekstrakurikuler dari Henri Nurcahyo, ketua Komunitas BrangWetan.

Acara ini merupakan rangkaian program “Cinta Budaya Cinta Tanah Air” yang berlangsung selama satu tahun sejak Juli 2020 hingga Juni 2021.

Sebelumnya, BrangWetan sudah melakukan Focus Discussion Group (FGD) untuk stakeholder pendidikan, disusul Workshop Toleransi untuk para Kepala Sekolah dan Wakilnya, kemudian bulan Oktober yang lalu berupa kegiatan pelatihan untuk guru mata pelajaran.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved