Kanal

Pemandangan Indah Bukit Tunggangan Trenggalek, Bikin Peserta Festival Paralayang 'Betah' di Udara

Ilustrasi paralayang - surya/istimewa

SURYA.co.id | TRENGGALEK - Puluhan pecinta paralayang mengikuti Festival Paralayang di Bukit Tunggangan, Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (1/7/2018).

Pemandangan alam yang indah ditambah kondisi cuaca yang sangat bagus, menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta paralayang.

“Awalnya penasaran dengan lokasi yang baru. Dan ternyata sangat bagus pemandangannya, lokasi untuk terbang maupun mendarat juga sangat bagus,” ujar Desy (15), salah satu peserta junior Festival Paralayang.

Bukit Tunggangan di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur mempunyai potensi pemandangan alam yang menawan.

Dari ketinggian 250 meter di atas permukaan laut, 80 lebih peserta olahraga paralayang mengikuti festival di lokasi tersebut.

“Kondisi cuaca sangat bagus untuk perkembangan paralayang. Ini salah satu menurut saya lokasi yang sangat bagus dan bisa dikembangkan untuk kegiatan cross country,” ujar Sekretaris Pengurus Provinsi Paralayang Jawa Timur, Samsul Hadi.

Sebelum para peserta lomba paralayang diterbangkan, terlebih dahulu sejumlah pecinta gantole melakukan terbang dengan kemampuan pilot yang mumpuni.

Kemudian ajang festival paralayang siap dimulai.

Sebelum terbang, para peserta mendapat pengarahan juga memasang peralatan standar keamanan dalam lomba paralayang ini.

“Kita minimalisir kecelakaan akibat kesalahan manusia, dengan cara cek kelengkapan dan pemasangan alat keamanan, serta berdoa demi kelancaran dan keselamatan,” ujar Samsul Hadi.

Setelah dinyatakan semua terpasang dengan baik, peserta mulai menunjukkan keterampilannya menaklukkan kawasan udara Bukit Tunggangan.

Sejumlah peserta juga sempat melakukan atraksi maupun manuver yang mendebarkan saat berada di udara, seperti posisi badan terbalik kaki di atas kepala di bawah, maupun berputar.

“Untuk yang sudah profesional, mungkin sudah terbiasa dengan hal-hal yang membikin kita khawatir. Semua yang dilakukan oleh pilot paralayang sudah diperhitungkan. Mulai tiupan angin, kondisi alam, mereka bisa menyesuaikan,” papar ketua penyelenggara, Muhammad Azmi.

Para peserta lomba paralayang dilepas dari titik awal penerbangan secara bergantian, serta menunjukkan kepiawaiannya mengendalikan parasut dan mendarat di titik yang telah ditentukan.

Jarak antara awal penerbangan (take off) hingga pendaratan (landing) di tempuh dengan waktu sekitar 3 menit hingga 5 menit.

Bukit Tunggangan mempunyai nilai khusus bagi para peserta lomba paralayang.

Panorama alam yang sangat indah membuat betah para pilot paralayang berlama-lama di udara, sambil melihat pemandangan alam yang terhampar luas sejauh mata memandang.

Sangat disayangkan, jalur menuju titik awal terbang masih sulit dijangkau.

“Akses menuju puncak Bukit Tunggangan masih sulit dijangkau. Kami berharap support pemerintah untuk membuka akses menuju puncak Bukit Tunggangan, serta menambah sarana prasarana di tempat ini. Dengan tujuan agar Trenggalek lebih dikenal lagi,” kata Muhammad Azmi.

Festival Paralayang ini dibagi menjadi beberapa kategori, yakni kategori junior dan profesional, putra maupun putri.

Kegiatan ini diselenggarakan selama tiga hari, sejak hari Jumat hingga Minggu (1/7/2018).

Angin kencang serta hujan merupakan kendala bagi para peserta.

Apabila cuaca kurang mendukung, maka panitia akan menghentikan sejenak jalannya festival paralayang, dan setelah situasi normal, kegiatan paralayang dilanjutkan.

“Kalau angin lagi kencang, festival kami hentikan sejenak. Setelah situasi angin normal dan layak untuk terbang, kegiatan kami lanjutkan,” tutur Azmi.

Meski pertama kali diadakan lomba paralayang ini, antusias peserta sangat luar biasa.

Rencananya, kegiatan serupa akan rutin digelar setiap tahun.

Harapan ke depan, agar akses menuju Bukit Tunggangan diperbaiki serta ditambah sejumlah fasilitas penunjang sehingga kegiatan skala nasional dan internasional bisa digelar di tempat ini.

“Melihat lokasi di Trenggalek ini seperti lokasi yang ada di luar negeri. Di bawah sekitar flat area bisa dikembangkan menjadi arena cross country juga ketepatan mendarat. Apabila akses naik mudah, maka bisa kita tawarkan ke manajemen paralayang di Jakarta atau Australia PGAWC,” kata Samsul Hadi.

Sementara itu, untuk persiapan festival paralayang ini dinilai cukup singkat, yakni tiga bulan.

Semua persiapan mulai pembuatan jalan darurat dari kaki Bukit Tunggangan hingga puncak bukit, persiapan kepanitiaan, hingga membuat lokasi pendaratan.

Sebelumnya, Bukit Tunggangan ini lebih sulit dijangkau karena kondisi tebing yang sangat terjal.

Untuk kegiatan paralayang sendiri, Bukit Tunggangan sering digunakan untuk aktivitas penerbangan oleh beberapa pecinta olahraga yang memacu adrenalin ini.

“Untuk mempersiapkan semua ini cukup singkat, yakni sekitar tiga bulan. Kami bersyukur semua berjalan lancar. Kami ucapkan terima kasih kepada semua masyarakat Durenan serta pihak terkait yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini,” kata Muhammad Azmi.

“Pernah beberapa waktu lalu, ada rekan dari luar negeri yang mencoba menerbangkan paralayang di tempat ini, dan bilang 'hanya orang bodoh yang tidak mengembangkan dan mengelola tempat ini'," pungkas Muhammad Azmi menirukan kalimat orang asing tersebut. (Slamet Widodo)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Festival Paralayang Digelar di Bukit Tunggangan Trenggalek

Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Kompas.com

Berita Populer