Berita Surabaya
ITS Hibahkan IPAL kepada Warga Rungkut Surabaya, ternyata Ini Harapannya
"Awalnya, tim bekerja sama dengan pihak Kecamatan Rungkut, selanjutnya merekomendasikan bantuan diarahkan ke industri makanan tersebut," ujar Ipung.
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabayai, Senin (15/1/2018), menghibahkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kepada pemilik rumah produksi pempek Tjek Entis di daerah Medayu Utara, Surabaya.
Bukan tiba-tiba, sebelumnya tim Teknik Lingkungan ITS mengajukan Bantuan Operasional. Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat.
Pengajuan tersebut menurut ketua tim, Ipung Fitri Purwanti ST MT PhD untuk mengolah air limbah dari industri makanan pempek, milik Suparto agar menjadi lebih ramah lingkungan.
"Awalnya, tim bekerja sama dengan pihak Kecamatan Rungkut, yang selanjutnya merekomendasikan bantuan diarahkan ke industri makanan tersebut," ujar Ipung.
Menurut doktor lulusan Universiti Kebangsaan Malaysia ini, setiap Minggu tidak kurang dari 150 kilogram ikan tengiri diproses untuk dijadikan pempek di rumah produksi.
Hasil sampingan produksi berupa air limbah yang berbau dan berwarna keruh, sangat berbahaya jika dibuang langsung ke lingkungan sekitarnya.
"Laboratorium kami melakukan analisa terhadap air limbah tersebut. Hasil analisa yang ada menunjukkan bahwa terdapat kadar zat organik, nitrogen, fosfor, minyak, lemak serta padatan terlarut yang tinggi. Sehingga menyebabkan tumbuhnya eceng gondok di Sungai secara berlebih," terangnya.
Alasan inilah yang membuat tim Ipung memilih memberikan bantuan IPAL. Harapannya air limbah produksi tidak mencemari lingkungan.
Ipung menjelaskan pengolahan limbah air dimulai dari bak kontrol yang berguna untuk mengatur banyaknya limbah yang masuk.
Bahan sisa produksi kemudian melewati grease trap (bak penangkap lemak) untuk memisahkan minyak dan lemak.
Proses selanjutnya adalah pemisahan padatan pada bak pengendap untuk mengurangi beban zat organik. Proses ini dilakukan secara manual.
"Limbah sisa pembuatan pempek kemudian dimasukkan ke dalam tangki yang berisi bakteri EM16. Bakteri ini berguna untuk mereduksi kandungan zat organik dalam limbah," jelasnya.
Setelah reduksi kandungan zat organik, air limbah kemudian dialirkan pada pipa paralon yang bermuara pada tumbuhan tyfa atau Scirpus grossus.
Tanaman ini mampu mengurangi kandungan nitrogen dan fosfor. Alhasil, limbah yang ada sudah bisa dibuang secara aman.
Pengajuan IPAL lolos dan terdanai tahun 2017, sehingga Laboratorium Remidiasi Lingkungan berhasil membangun IPAL di industri makanan, dalam hal ini Rumah Produksi Pempek.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/bantuan-ipal_20180115_230508.jpg)