Berita Malang Raya
VIDEO - Kampung Budaya Polowijen, Jalan Menuju Sumur Windu Ken Dedes
Kampung tematik di Malang bertambah lagi. Setelah Kampung warna-warni, kini ada kampung budaya Polowijen. Seperti apa? yuk, simak videonya...
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | MALANG - Kampung tematik di Kota Malang bertambah lagi. Kampung ini menyebut dirinya 'Kampung Budaya' yang bertempat di Kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing Kota Malang. Kampung Budaya Polowijen, demikian nama lengkapnya.
Wali Kota Malang Moch Anton meresmikan Kampung Budaya Polowijen, Minggu (2/4/2017). Dalam pidatonya, Anton mengapresiasi pembentukan Kampung Budaya Polowijen.
"Nguri-uri budaya itu sangat penting, dan saya mengapresiasi ini. Ke depan kami proyeksikan daerah ini sebagai salah satu tempat kunjungan wisata," ujar Anton.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni mengatakan, pihaknya akan terus mendorong supaya Kampung Budaya Polowijen memiliki ciri khas sehingga bisa menjadi sasaran kunjungan wisatawan. Ia menilai, kampung tersebut sudah memiliki ciri khas yakni Tari Topeng Malangan. Hal itu diperkuat dengan keberadaan makam Mbah Reni atau Ki Condro Suwono, maestro penari Topeng Malangan.
Kampung Budaya Polowijen, yang terletak di Kelurahan Polowijen itu bertetangga dengan Terminal Arjosari. Ia terletak di sisi barat flyover Jl Ahmad Yani Utara, dan harus masuk beberapa ratus meter dari pintu gerbang menuju kelurahan yang berada di pinggir Jl Ahmad Yani Utara.
Nantinya, pusat Kampung Budaya Polowijen bisa dilihat di Jl Cakalang Gang Ledoksari. Gang itu berada di pinggir sawah, di selatan makam Mbah Reni. Gang itu juga jalan menuju sumur windu Ken Dedes.
Di ujung gang itu sudah terpasang tulisan 'Sugeng Rawuh' dan 'Kampung Budaya Polowijen'. Bambu merupakan material yang dominan di kawasan itu.
Uniknya, rumah-rumah di gang itu juga ditempeli bambu. Menurut Sujaryani (56) mengatakan masih delapan rumah yang ditempeli bambu. Bambu-bambu itu ditempelkan di tembok permanen rumah warga.
"Baru sebulan terakhir ditempeli bambu, ada delapan rumah. Nanti sepanjang gang ini akan ditempeli semua," ujarnya.
Selain itu, ada tiga buah gazebo di depan rumah-rumah warga. Gazebo itu berdiri di atas saluran irigasi.
Isa Wahyudi, penggagas Kampung Budaya Polowijen, menuturkan area itu nantinya akan menjadi area pamer produk UMKM dari kampung itu. Wisatawan bisa berkunjung ke tempat itu, dan melihat produk warga.
Warga Polowijen dilatih membatik selama beberapa hari terakhir. Hasil batikan warga Polowijen itu kedepan akan dijual.
"Karang taruna juga membuat produk. Ada juga yang membuat suvenir seperti Topeng Malangan. Kedepan, kami juga akan mendirikan sanggar tari. Saat ini, warga sini sudah mulai dilatih tari Topeng Malangan, baik anak-anak maupun yang dewasa," ujar Isa.
Peresmian Kampung Budaya Polowijen hari ini disemarakkan dengan tarian Topeng Malangan yang ditarikan oleh 100-an orang. Warga dan para penari itu juga melakukan sesekarang ke makam Mbah Reni. Wali Kota Malang juga meletakkan batu pertama di Sasana Budaya Mpu Purwa di kampung tersebut.