Liputan Khusus Jembatan Timbang Mangkrak
VIDEO - Jembatan Timbang Tutup, Pungutan Liar Jalan Terus
JEMBATAN TIMBANG. Resminya tutup tetapi ada saja cara ngemel atau pungli. Lihat video berikut ini.
SURYA.co.id | MOJOKERTO - Mujiaman (57) kaget ketika truk yang dikemudikannya dihentikan seseorang yang mengaku petugas jembatan timbang saat melintas di Jalan Raya Trowulan, Mojokerto, awal Januari 2017.
Padahal, ia dapat informasi per 1 Januari 2017 jembatan timbang di seluruh Indonesia tutup karena peralihan kewenangan pengelolaan dari provinsi ke pemerintah pusat.
“Ada dua orang mengaku petugas jembatan timbang yang mencegat saya. Mereka berpakaian preman dan naik sepeda motor. Kejadiannya setelah tahun baru (Januari 2017), tepatnya saya lupa,” kata warga Madiun itu ketika ditemui di By Pass Krian, Mojokerto, Rabu (15/2/2017).
Ia bercerita, kala itu sedang mengirim mi instan dari Manyar, Gresik ke Wonogiri, Jawa Tengah. Ia membawa truk bermuatan 9 ton mi instan. Ia berangkat malam di atas pukul 21.00 WIB. Ia lewat jalur tengah mulai Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Sragen, terus ke Wonogiri.
Sesampai di Mojokerto, ia melewati Jembatan Timbang Trowulan. Karena sudah tahu jembatan timbang saat ini tidak beroperasi, ia pun tidak masuk ke jembatan timbang.
Tetapi, begitu berjalan beberapa puluh meter melewati jembatan timbang, tiba-tiba ada dua orang yang mengaku petugas jembatan timbang mengejarnya menggunakan sepeda motor. Kedua orang itu kemudian menghentikan laju truknya.
”Saya dihentikan sebelum lampu merah setelah Jembatan Timbang Trowulan. Mereka bertanya kenapa saya tidak masuk (jembatan timbang)? Lalu saya jawab jembatan timbang se-Indonesia masih tutup. Tapi dua orang yang mengaku petugas itu tetap minta uang katanya buat ganti besin. Saya kasih Rp 20.000,” ujar Mujiaman.
Menurutnya, per 1 Januari 2017, semua jembatan timbang tidak beroperasi. Setiap kali mengirim barang ke Wonogiri, ia melewati tiga jembatan timbang, yakni, Jembatan Timbang Trowulan, Jembatan Timbang Guyangan (Nganjuk), dan Jembatan Timbang Sragen (Jawa Tengah). Semua jembatan timbang yang dilewati itu sekarang kondisinya tidak beroperasi.
Tetapi, ternyata masih saja ada petugas yang kucing-kucingan membuka sendiri jembatan timbang demi mendapatkan uang dari para sopir truk. Ketika mengirim barang, ia beberapa kali melihat Jembatan Timbang Trowulan dan Jembatan Timbang Sragen tetap buka.
Jembatan timbang itu buka hanya malam hari. Biasanya di atas pukul 20.00 WIB. ”Kalau siang tutup, dikasih tanda tutup di depan pintu masuk. Tapi, kalau malam kadang-kadang tanda tutup dipindah dan portalnya dibuka,” ujarnya.
Bagi para sopir, tidak beroperasinya jembatan timbang saat ini sebenarnya sebuah keuntungan.
Perjalanannya mengirim barang lebih cepat karena tidak harus antre di jembatan timbang. Selain itu, para sopir juga bisa menghemat biaya operasional ketika mengirim barang.
Seperti Mujiaman, tiap kirim barang ke Wonogiri, paling sedikit harus menyiapkan uang Rp 100.000 untuk membayar denda di jembatan timbang. Muatan standar truk yang dikemudikannya hanya 8 ton. Tetapi, sering kali, truk itu memuat mi instan mencapai 10 ton sampai 11 ton. Otomatis, ketika masuk jembatan timbang ia kena denda karena muatan di truk yang dikendarainya melebihi standar.
”Kalau muatan normal tidak kena denda. Tapi muatannya sering melebihi standar, makanya kena denda. Biasanya kelebihan muatan 2 ton sampai 3 ton dendanya Rp 40.000,” katanya.
Baca juga: Jembatan Timbang Ditutup, Masih Ada Oknum Petugas Gentayangan di Malam Hari