Genderang Suling Gita Jala Taruna AAL
Sekali Kirab Bawakan 40 Lagu yang Lagi Ngetren
Grup drum band Genderang Suling Gita Jala Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) selalu berhasil memukau para penontonnya setiap kali tampil.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA - Grup drum band Genderang Suling Gita Jala Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) selalu berhasil memukau para penontonnya setiap kali tampil dalam berbagai kesempatan. Semua itu berhasil karena latihan keras dan rutin yang mereka lakukan.Latihan mereka tidak bisa dinikmati masyarakat umum, karena dilakukan di Mako AAL di Bumimoro, Krembangan. Tapi, Kamis (24/10/2013), sekitar 165 personel group Drum Band yang merupakan taruna AAL tingkat 2, 3, dan 4 itu, berlatih di halaman Balai Kota Surabaya dan bisa dinikmati warga umum.
Meski aksi mereka di halaman Balai Kota Surabaya itu disebut latihan, namun penampilan mereka sangat atraktif layaknya tampil dalam setiap parade yang diikuti. Dengan seragam doreng, mereka membentuk lima kelompok barisan. Setiap barisan, seluruh personilnya, membawa satu jenis alat musik. Mulai dari senar drum, tenor, bass drum, bellyra, terompet, melophone, dan tuba. Sementara tujuh taruna lainnya secara bergantian, sibuk memainkan stik penata rama.
Suara pukulan tiga jenis drum terdengar terus menerus. Mereka memainkan musik mars yang mengalun kuat. Tampak para pemain drum, baik senar drum, tenor maupun bass drum, tampil dinamis dan tidak sekedar main pukul. Stik yang mereka pegang, beberapa kali berputar sebelum memukul ke kepala drum.
Begitu juga dengan bass drum yang satu unitnya memiliki berat sekitar 10 Kg. Ada 10 unit bass drum yang dimainkan dengan posisi sejajar dengan dada. Dengan kekuatan fisik yang harus lebih, bass drum itupun bisa dimainkan dengan lewat samping. Kemudian diputar-putar dengan kecepatan lumayan tinggi tanpa terjatuh. Kemudian membentuk formasi piramida, dengan penata ramanya naik ke ke puncak piramida drum. Hingga membentuk tiga piramida, dengan tiga penata rama tampil diatasnya sekaligus.
Setiap aksi yang ditampilkan kelompok ini berhasil memukau beberapa pegawai balaikota yang bersiap pulang. Mereka memilih menghentikan langkahnya untuk menikmati aksi para taruna-taruna itu. Tak hanya itu, beberapa pengguna jalan yang melintas di jalanan sekitar balaikota juga terlihat berhenti dan parkir untuk menikmati kemahiran mereka dalam latihan, aksi mereka dalam memainkan tujuh jenis alat musik berhasil membuat warga umum yang ada di sekitar Balai Kota mendekat. Termasuk para pengguna jalan yang memilih berhenti dan parkir untuk menikmati latihan mereka, yang seperti tampil betulan.
Mayor Laut (T) Totok Hardiono, sebagai perwira pengasuh yang mendampingi drumb band ini tampil latihan di halaman balaikota Surabaya, mengatakan, latihan ini merupakan bagian dari persiapan untuk tampil dalam kirab hari Pahlawan 10 November mendatang. “Kami ingin latihan langsung di tempat kita nanti tampil. Rencananya pawai kirab akan dilakukan dari TuguPahwawan ke Balaikota. Dan setiap tahun, kami tampil dua kali di kota Surabaya,” jelas Mayor Totok.
Sementara bagi Sersan Mayor Satu Taruna (Sermatutar) Pelaut (P) Faizal Dwi Andarta Ratono, penampilan mereka nantinya akan menjadi penampilan perdana dari taruna tingkat 2 yang baru masuk AAL pada Agustus 2013 lalu. Setelah sebelumnya, menjalani pendidikan dasar militer satu tingkat di Akademi TNI di Magelang.
“Kegiatan drum band Genderang Seruling Gita Jala Taruna ini kan merupakan kegiatan ekstrakurikuler wajib bagi taruna AAL. Begitu masuk kita akan ditempa oleh senior, yaitu yang sudah di tingkat 3 dan 4, untuk berlatih drum band,” jelas Sermatutar (P) Faisol, taruna tingkat 4 yang juga sebagai penata rama 1 atau secara umum ada yang menyebutnya sebagai mayoret dari sebuah group drum band.
Dalam group drum band para taruna sendirilah yang menjadi pelatih bagi adik-adik tingkatnya secara turun temurun. Masing-masing pemegang jenis alat musik, memiliki semacam ketua kelas, dan dialah yang bertugas dalam meregenerasi kelompok musik yang mereka pegang. Latihan rutin, bagi kelompok drum band ini adalah tiap hari Selasa dan Jumat, pukul 16.00 WIB hingga 17.30 WIB. Kemudian hari sabtu pukul 09.00 WIB hingga 11.00 WIB. Bila akan tampil, intensitas latihan akan ditambah.
Seluruh taruna wajib bisa menjadi bagian dari anggota atau personil group drum band. Mereka terbagi ke seluruh alat musik dan penata rama. Selanjutnya di setiap angkatan akan terbentuk tim kecil bagian dari group drum band yang akan tampil pada pelatihan pelayaran atau muhibah yang mereka lakukan bersama KRI Dewaruci.
Sermatutar (P) Faisol yang saat ini duduk di tingkat 4, tahun 2012 lalu mendapat kesempatan tampil di tujuh kota di Amerika Serikat. “Saat itu merupakan pengalaman yang istimewa bagi taruna AAL sendiri, termasuk group drumb band. Apalagi saat tampil di Times Square New York.
Tempat itu merupakan tempat bergensi bagi seniman untuk tampil. Kami sempat ditanya-tanya, darimana kami kok bisa tampil di tempat itu, artis dunia saja perlu persiapan lebih ketika mendapat kesempatan tampil di tempat itu,” ungkap Faisol, yang merupakan alumni dari SMA Negeri 99 Jakarta itu.
Untuk pemilihan personel pembawa jenis alat musik, para taruna ini terbagi lewat seleksi fisik. Bagi yang tubuhnya kecil dan pendek, banyak yang diletakkan sebagai pembawa terompet, melophone, atau bellyra. Sementara yang lebih tinggi dan kuat akan terpilih sebagai pembawa bass drum. “Sedangkan untuk penata ramanya, dia yang terpilih adalah yang memiliki postur tinggi, paling gagah, dan paling ganteng. Karena dia akan jadi ikonnya nanti,” lanjut Mayor Totok.
Dalam latihan, setiap taruna tingkat 2 akan mampu menunjukkan keahliannya dalam latihan kurang lebih dua hingga tiga bulan. Setelah mereka mampu menguasai dasar permainan musik, yaitu 10 mars dasar, maka dalam dua hari, mereka sudah bisa mengembangkan kreativitas baik dalam seni memainkan alat musik maupun menampilkan komposisi musik yang baru.
Dalam sekali kirab, rata-rata group drum band ini bisa memainkan lagu hingga 40 lagu. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu populer daerah, nasional, dan yang sedang tren saat ini. Dalam latihan di Balaikota Surabaya, musik “Buka Sitik, Joss” sempat dimainkan, dan membuat warga yang menikmati, seperti ikut menggoyangkan tubuhnya.
Dalam setiap menularkan kemampuan di adik tingkatnya, para taruna senior ini diharuskan memberikan yang lebih baik dari mereka. “Jadi karena pelatihnya adalah turun temurun dari senior ke yunior, kita harus bisa memberikan hasil yang lebih baik. Kalau lebih buruk, berarti tugas kita tidak berhasil,” ungkap Faisol.
Namun hal itu jarang terjadi, karena yang mereka lakukan adalah tim. Sehingga saling dukung dan sama-sama memiliki tanggung jawab serta kebersamaan untuk selalu lebih baik. Dalam memberikan pelatihan, mereka juga melakukannya sebagai bentuk rasa kekeluargaan, sehingga berhasil dilaksanakan dengan baik.