Rumah Pembantaian Krisnanda dan Suprihatin Jadi Wisata dadakan
Rumah milik pasangan suami istri Eko Budianto (50) dan Lilik Maryani (48) menjadi wisata dadakan di Kabupaten Ponorogo.
Penulis: Sudarmawan | Editor: Heru Pramono
Sejak adanya kasus pembunuhan Krisnanda Mega Pratama (27) anak pertama Eko Budianto yang dibunuh ayah kandungnya dan mayatnya dibuang di Plengsengan Sungai Keyang, Rabu (6/2/2013) lalu dan ditemukannya jasad Suprihatin (23) anak ketiga pasangan suami istri Sunarto (55) dan Murtini (50) warga Dusun Banaran, Desa Tegalombo, Kecamatan Kauman, Selasa (12/2/2013), ratusan pengunjung sejak pagi hingga malam terus berdatangan mengunjungi rumah lokasi pembantaian 2 orang itu.
Bahkan mereka tidak hanya datang dari seluruh pelosok wilayah Kabupaten Ponorogo, akan tetapi mereka datang dari Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan. Berdasarkan pantauan Surya.co.id di lapangan, tidak hanya di depan rumah dan di samping rumah berlantai 2 yang cukup megah itu, ratusan warga yang berkunjung juga memadati pekarang belakang rumah yang dipenuhi kebun pisang itu.
Ratusan pengunjung itu, selain ingin menyaksikan kamar Krisnanda yang dijadikan lokasi mengubur Suprihatin yang dibunuh dengan 27 luka tusakan, mereka juga berharap dapat melihat langsung proses rekonstruksi kasus pembunuhan dua anak manusia itu. Padahal, hingga sore hari, tidak ada pelaksanaan rekonstruksi itu. Disamping itu, yang membuat penasaran warga terus berdatangan silih berganti karena adanya isu ditemukannya perempuan yang diduga istri kedua (muda) Eko Budianto yang dikabarkan menghilang sejak 2 bulan terakhir.
Salah seorang pengunjung, Wasono (27) warga Kelurahan Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo mengaku penasaran dan ingin melihat dari dekat rumah yang dijadikan pembantaian anak kandung serta kamar yang dijadikan pembantaian gadis Alumnus jurusan Bahsa Inggris, FKIP, Unmuh Ponorogo itu.
"Saya sudah 3 hari kesini, tetapi tidak bisa mendekat karena kemarin polisi yang berjaga banyak. Hari ini, kebetulan tidak da polisi, meski sudah digaris polisi saya dan teman-teman bisa melihat dari dekat dan bisa mengintip kamar tempat pembantaian dan mengubur Suprihatin. Kami hanya mengintip kamar itu sebentar karena harus menahan nafas adanya bau menyengat dari dalam kamar rumah itu," terangnya kepada Surya, Sabtu (16/2/2013).