Rabu, 8 April 2026

Puluhan Benda Cagar Budaya di Ponorogo Terbengkalai

Puluhan Benda Cagar Budaya (BCB) yang ditemukan warga Kabupaten Ponorogo dalam setahun terakhir kondisinya masih terbengkalai

Penulis: Sudarmawan | Editor: Heru Pramono
zoom-inlihat foto Puluhan Benda Cagar Budaya di Ponorogo Terbengkalai
surya/sudarmawan
BATU ANDESIT - Seorang pemerhati Benda Cagar Budaya, Satriyo Pamenang menunjukkan situs batu andesit yang ditemukan di selokan dusun Ngrenak, Desa Ketro, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Selasa (18/12/2012).
SURYA Online, PONOROGO - Puluhan Benda Cagar Budaya (BCB) yang ditemukan warga Kabupaten Ponorogo dalam kurun setahun terakhir kondisinya masih terbengkalai di lokasi penemuan. Bahkan, sebagian karena tidak mendapatkan perhatian dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olahraga (Dinbudparpora) Pemkab Poorogo, sudah hilang dicuri orang.

Situs yang ditemukan dan masih terbengkalai itu, diantaranya adalah situs Batu Andesit yang ditemukan di selokan Dusun Ngerak, Desa Ketro, Kecamatan Sawoo dan situs lingga yoni yang ditemukan di Dusun Medang, Desa/Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo. Hingga kini, tidak ada upaya Pemkab Ponorogo untuk merelokasi dan mengamankan berbagai situs peninggalan nenek moyang itu. Akibatnya, selain rawan dicuri orang, dipastikan jika tetap dibibarkan maka Pemkab Ponorogo tidak akan memiliki benda-benda bersejarah sebagai bukti kejayaan sejarah lahirnya Ponorogo.

Pemerhati dan Pelestari Benda Cagar Budaya Ponorogo, Satrio Pamenang mengaku merasa sangat prihatin dengan kondisi itu. Menurutnya, seharusnya Pemkab Ponorogo segera membuat museum untuk menyelamatkan benda-benda cagar budaya yang ditemukan di wilayah Kabupaten Ponorogo. Apalagi, selama ini hasil penemuan benda cagar budaya di Kabupaten Ponorogo cenderung dibiarkan berserakan.

"Kami berharap Pemkab Ponorogo segera membuat Balai Penyelamatan atau Museum, jika tidak ingin benda cagar Budaya yang ada hilang atau diambil alih Dinas Kebudayaan Provinsi atau malah dicuri tangan-tangan orang tak bertanggung jawab," terangnya kepada Surya, Rabu (19/12/2012).

Satrio mencontohkan, hilangnya Lingga Yoni, yang ditemukan di area persawahan dan kebun Dusun Medang, Desa/Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo beberapa waktu yang lalu. Lingga Yoni itu akhirnya hilang dicuri orang-orang tidak bertanggung jawab yang memiliki kepentingan besar atas benda cagar budaya itu. Apalagi, Lingga Yoni tersebut sudah diregistrasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan.

"Kalau hilang seperti itu, siapa yang bertanggung jawab. Apa bisa mengganti situs asli yang hilang," katanya.

Selain itu, Satriyo menambahkan situs Benda Cagar Budaya yang ditemukan di tepi selokan, Dusun Ngrenak, Desa Ketro, Kecamatan Sawoo, yang berada di pinggiran sawah adalah sebuah batu andesit alami yang cukup besar dengan ukuran panjang 115 sentimeter, lebar 70 sentimeter, serta tebal 45 sentimeter. Sedangkan di bagian tengah batu terdapat tulisan angka tahun jawa kuno yang menunjukkan tahun 1044 (1122 M). Angka tahun ini dibatasi dengan goresan persegi panjang berukuran panjang 50 sentimeter dan lebar 35 sentimeter.

"Sejak awal ditemukan sampai sekarang situs tetap di aliran air irigasi tak diperhatikan Pemkab Ponorogo. Padahal, jika dibaca temuan ini dari masa kerajaan Kediri atau Panjalu dengan raja Bameswara. Apalagi, berdasar informasi masyarakat di tengah sawah dekat temuan batu berangka tahun ini pernah ditemukan struktur batu candi. Apakah batu-batu candi itu ada kaitannya dengan batu berangka tahun tersebut masih perlu penelitian lebih lanjut," ungkapnya.

Sementara, secara terpisah, Kepala Dinas Kebudyaan, Pariwisata, dan Olahraga Pemkab Ponorogo, Sapto Jadmiko berjanji pihaknya sudah merencanakan akan membangun balai museum untuk menjaga dan penelitian benda-benda situs cagar budaya yang ditemukan di Ponorogo.
"Kami sudah merencanakan pembangunannya di Tahun 2013 nanti, agar semua yang masuk dalam benda cagar budaya atau situs bisa diperhatikan, dijaga dan dijadikan bahan penelitian serta wisata sejarah bagi kalangan pelajar," tandasnya.


Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved