Metode Mengaktifkan Otak Tengah Jenius, Baca via Mata Tertutup
SURABAYA - SURYA- Metode baru mencerdaskan anak hadir di Surabaya. Dengan mengaktifkan kerja otak tengah, anak tak hanya cerdas, melainkan berpeluang jadi jenius.
Tak hanya itu, mereka juga bisa membaca, bermain kartu, dan isi teka-teki dengan mata tertutup. Prinsip dasar metode ini adalah kecerdasan anak dipengaruhi optimalnya kerja otak kanan dan kiri. Agar lebih optimal, dibutuhkan otak tengah atau mid brain yang jadi jembatan penghubung/penyeimbang otak kanan dan kiri.
Adalah Genius Mind Consultancy (GMC) yang mulai memperkenalkan metode ini bagi warga Kota Pahlawan. Lembaga ini memperoleh lisensi dari penemu metode aktivasi otak tengah Tom Haar asal Malaysia. Di Surabaya, lisensi dipegang tiga orang, yaitu Hermanto, dr Al Aufi, dan Nur Bathias.
Menurut Hermanto, otak tengah anak-anak bisa diaktifkan dengan teknologi modern melalui rangkaian kursus metode aktivasi otak tengah. Dalam kursus, anak-anak mendapat semacam terapi merangsang kerja otak tengah melalui 60 jenis gelombang. “Salah satu gelombangnya adalah suara,” jelas Hermanto.
Menurut dr Al Aufi, otak tengah bukan benar-benar ada. Otak kiri berkaitan dengan fungsi analitis, berhitung dan berpikir logis, sedangkan otak kanan lebih mengarah ke intuisi dan aspek seni. Maka otak tengah menghasilkan emosi, hormon, memori, serta berfungsi sebagai penyeimbang otak kanan dan kiri.
Menurut Al Aufi, jumlah sel syaraf otak manusia pada umumnya sama, sekitar 1 triliun sel. Yang membedakan antara jenius setara Einstein dengan orang biasa adalah banyaknya sel syaraf yang difungsikan. Sel syaraf otak akan banyak berfungsi jika semakin banyak cabang sel yang tumbuh. Manusia pada umumnya hanya menggunakan 1-3 persen sel syaraf otak, sementara orang jenius bisa menggunakannya hingga 8 persen.
Kursus GMC hanya memakan waktu dua hari dengan masing-masing sesi selama 6 jam. Untuk kursus berbiaya sekitar Rp 3 juta itu, GMC mematok syarat usia anak-anak mulai 5 hingga 15 tahun. “Tingkat keberhasilan mencapai 90 persen,” jelas Hermanto.
Metode ini masuk untuk pertama kali di Surabaya pada akhir Desember 2009. Awalnya dijajal untuk kalangan internal yaitu anak-anak para staf GMC. Untuk kalangan umum metode ini mulai diterapkan kemarin. Sebanyak 32 anak ikut dalam kursus perdana untuk umum.
Usai kursus, satu persatu anak-anak memeragakan kemampuan. Nevile Natalio, 8, dengan tepat membaca kartu remi dengan mata tertutup. Dari setumpuk kartu yang tersedia, Lio, sapaan siswa SD kelas 2 itu, hanya sekali gagal. Demonstrasi lain yang diperagakan Lio adalah membaca surat juga dengan mata tertutup.
Yenny Abednego, orangtua Nadine, 5, mengungkapkan anaknya menjadi lebih mudah menyerap materi les piano setelah mengikuti kursus GMC. Kelebihan nyeleneh yang sempat diperagakan adalah mengidentifikasi jenis dan nomor kendaraan mobil dengan mata tertutup.
Saat ditanya terapi apa yang dia terima selama kursus, Mayang sapaan akrab siswa SDN Menanggal 601 Surabaya, itu mengungkapkan diperdengarkan suara-suara seperti mendengung. Meski tidak tau pasti apa yang terjadi, Mayang mengaku mengikuti terapi dalam suasana penuh kegembiraan. “Hasilnya lebih mudah mengingat waktu belajar,” jelas Mayang. /Yudie Thirzano
KOMENTAR