Pegiat Lingkungan Edi Priyanto Sebut Perubahan Besar Tata Kelola Lingkungan Dimulai dari Warga

Edi Priyanto, seorang pegiat lingkungan, merilis sebuah buku berjudul 'Transformasi Permukiman: Kelola Lingkungan Berkelanjutan'.

|
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: irwan sy
IST/Dok Pribadi
BUKU EDUKASI - Sampul buku berjudul 'Transformasi Permukiman' karya penggiat kampung edukasi sampah di Sekardangan, Sidoarjo, Edi Priyanto, yang ditulis dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa perubahan besar dimulai oleh warga. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Edi Priyanto, seorang pegiat lingkungan asal Sidoarjo, merilis sebuah buku berjudul 'Transformasi Permukiman: Kelola Lingkungan Berkelanjutan'.

Edi Priyanto yang lahir dan tumbuh dalam kultur di tengah masyarakat mengatakan buku ini menawarkan panduan sekaligus kesaksian tentang bagaimana perubahan besar bisa dimulai dari tempat-tempat kecil dari rumah, dari tetangga, dari RT dan RW.

“Bukan teori dari ruang akademik, bukan pula narasi dari para elite, melainkan suara dan pengalaman nyata dari jalan-jalan RT dan RW yang selama ini nyaris tak terdengar. Setiap perubahan besar dalam sejarah umat manusia sejatinya tidak pernah dimulai dari gedung-gedung tinggi atau ruang rapat megah. Ia kerap bermula dari tempat-tempat kecil dan sederhana, dari hati-hati yang gelisah namun penuh keyakinan akan harapan,” tulis Edi Priyanto dalam kata pengantar bukunya.

Dengan narasi yang membumi dan disusun secara reflektif, buku ini merangkum enam bagian utama, mulai dari penerjemahan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke level komunitas, membangun ekonomi sirkuler melalui bank sampah, hingga strategi menyusun organisasi lingkungan warga yang kolaboratif dan berkelanjutan.

Di dalamnya juga terselip kisah nyata perjuangan komunitas dalam menyulam harapan, menghadapi tantangan masyarakat modern, dan menciptakan budaya baru dalam mengelola lingkungan. Buku ini bukan sekadar dokumentasi, tapi juga ajakan. Ajakan untuk percaya bahwa warga biasa punya kekuatan untuk mengubah nasib ruang hidupnya.

Ditulis dengan bahasa yang tidak menggurui, namun menawarkan dialog.

Ia tidak bicara tentang revolusi besar, tapi tentang keberanian untuk memulai dari langkah kecil dari saluran air (got), halaman rumah, hingga ruang musyawarah warga. Respons positif pun datang dari komunitas nasional.

Valent Hartadi, pendiri platform komunitas @rtrwnetwork, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap buku ini.

Baginya, peran RT dan RW dalam masyarakat modern jauh lebih luas dari sekadar administrasi kependudukan.

“Buku ini mencerminkan lima fungsi strategis RT dan RW : sosial-kultural, edukasi, keamanan, pemberdayaan, dan kolaborasi digital. Ini bukan hanya tentang lingkungan, tapi tentang masa depan masyarakat Indonesia yang lebih partisipatif,” ujar Valent.

Dia menilai bahwa Transformasi Permukiman layak menjadi referensi wajib bagi pengurus RT, kader lingkungan, ASN, aktivis, dan komunitas-komunitas akar rumput di seluruh Indonesia.

Yang membuat buku ini semakin menarik adalah pendekatannya yang lintas perspektif : menggabungkan nilai-nilai lokal, semangat gotong royong, pendekatan berbasis data, hingga bingkai global SDGs yang dijalankan dalam konteks hiperlokal.

Bagi banyak pembaca, buku ini akan menjadi cermin sekaligus lentera.

Cermin untuk melihat bagaimana kampung-kampung bisa bangkit menghadapi tantangan zaman.

Lentera untuk menerangi jalan perubahan di ruang-ruang yang sering terlupakan.

Transformasi Permukiman mengajarkan satu hal penting : bahwa untuk menjaga bumi, tak perlu menunggu jadi pejabat, tak perlu menunggu jadi pakar.

Cukup mulai dari langkah kecil, dari tempat kita berpijak hari ini.

Sebab ketika satu kampung bergerak, satu kota bisa berubah.

"Dan ketika banyak kampung bangkit, bangsa ini akan bertransformasi," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved