Idul Adha 2025
Pastikan Daging Kurban Aman dari Parasit, Pakar Unair Ingatkan Ancaman Cacing Hati
nfeksi parasit berupa cacing hati atau Fasciola hepatica dapat merusak organ hati sapi dan menurunkan kualitas daging kurban.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
SURYA CO.ID, SURABAYA - Momen Idul Adha, menjadi kesempatan mengkonsumsi daging sapi ataupun kambing yang cukup.
Namun, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap parasit pada hewan kurban, khususnya cacing hati.
Pakar dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair), drh Aditya Yudhana MSi, mengungkapkan, infeksi parasit berupa cacing hati atau Fasciola hepatica dapat merusak organ hati sapi dan menurunkan kualitas daging kurban.
“Cacing hati merupakan endoparasit yang menyerap nutrisi dari tubuh inang. Semakin banyak jumlah cacingnya, semakin besar pula nutrisi yang hilang, hingga menyebabkan malnutrisi,” ujar Aditya, Jumat (6/6/2025).
Ia menjelaskan, infeksi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak.
Pada sapi perah, produksi susu bisa menurun, sementara pada sapi potong, bobot karkas menjadi jauh lebih rendah dari standar.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik karena daging sapi dari hewan yang terinfeksi masih aman untuk dikonsumsi.
“Cacing ini memiliki predileksi pada saluran empedu di dalam hati, bukan di daging. Bahkan jika cacing dewasa tidak sengaja termakan, tidak akan menyebabkan infeksi pada manusia,” tegasnya.
Penularan ke manusia, lanjut Aditya, hanya bisa terjadi jika seseorang mengonsumsi tumbuhan atau sayuran yang terkontaminasi larva cacing dan tidak dimasak dengan benar.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kebersihan dan pengolahan makanan secara higienis.
Ciri fisik sapi yang terinfeksi cacing hati bisa dikenali dari nilai Body Condition Scoring (BCS).
Sapi sehat biasanya memiliki nilai BCS antara 3 sampai 5. Namun, pada sapi yang terinfeksi, nilai itu bisa turun drastis menjadi 1 atau 2.
“Secara kasatmata, sapi tampak kurus, tulangnya menonjol, rambut kusam, dan dalam kasus parah terjadi anemia yang ditandai dengan selaput mata atau gusi pucat,” jelasnya.
Aditya juga menekankan pentingnya pemeriksaan organ dalam saat proses penyembelihan kurban. Ia menyarankan agar bagian hati yang menunjukkan tanda infeksi segera dipisahkan.
“Bagian hati yang normal masih aman dikonsumsi. Tapi yang terinfeksi sebaiknya dihilangkan untuk mencegah konsumsi jaringan rusak,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat memilih daging yang memenuhi prinsip ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.
“Daging yang baik berwarna merah cerah, berlemak kekuningan, berbau khas, kenyal saat disentuh, serta tidak berlendir atau berair,” tutupnya.
BACA BERITA SURYA.CO.ID LAINNYA DI GOOGLE NEWS
| Idul Adha 2025, Warga Dua Desa di Pasuruan Ini Terima Penyaluran 1,3 Ton Daging Kurban |
|
|---|
| Idul Adha 2025, Nilai Transaksi Hewan Kurban di Kabupaten Blitar Capai Rp 99,2 Miliar |
|
|---|
| Idul Adha 2025, Ponpes Wahid Hasyim Pasuruan Bagikan Daging Kurban untuk 1.500 Penerima |
|
|---|
| DLU Kurban 72 Ekor Sapi, Anggota Komisi VII DPR RI Beri Apresiasi |
|
|---|
| Libur Hari Raya Idul Adha 2025, Penumpang Terminal Patria Kota Blitar Naik 25 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/i-kawasan-Sawojajar-Kota-Malang-Jawa-Timur-Selasa-362025.jpg)