Opini
Mengeksplorasi Navigasi Dunia Media di Era Digital
Mencermati banyaknya kasus PHK di industri media pada tahun 2025 ini, maka sebuah acara penting digagas oleh Departemen Manajemen FEB UNAIR yakni FGD
Ditulis oleh Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, CDM., CCC., CI., AIBIZ., QCRO, Guru Besar Manajemen FEB UNAIR untuk Sustainable Consumer BEhavior
Mencermati banyaknya kasus PHK di industri media pada tahun 2025 ini, maka sebuah acara penting digagas oleh Departemen Manajemen FEB UNAIR yakni FGD “Navigating a Changing Media Ladscape” bersama para pimpinan media di Jawa Timur.
Hadir selaku narasumber utama adalah Direktur Utama LPP TVRI, Bapak Iman Brotoseno, Putut Darmawan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi & Informatika Jawa Timur dan Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, pakar komunikasi pemasaran FEB UNAIR. Acara juga dihadiri tim panelis dari berbagai media televisi dan radio seperti TVRI Surabaya, TV, Kompas TV, MNC Group, TV One, Trans Media Group, EMTEK Group, RRI, Radio Suara Surabaya, Radio Elshinta, Berita Jatim serta Tribunnews.com. Acara juga dihadiri Himpunan Mahasiswa S1, MM, MSM dan Program Doktor Ilmu Manajemen.
Pemahaman Kondisi
Acara dimulai dengan pemahaman bersama bahwa PHK telah terjadi di dunia media, yang menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam teknologi industri dan perilaku konsumen media. Revolusi industri 5.0 telah berlaku dengan masifnya penggunaan digitalisasi, AI dan robotika dalam kehidupan manusia. Dan harus dipahami bahwa setiap perkembangan dalam revolusi industri artinya ada perkembangan teknologi yang menjadikan bertambahnya pemberdayaan kapital dan berkurangnya penggunaan SDM. Dari revolusi industri 1.0 dengan munculnya teknologi mesin uap, menjadi teknologi mesin listrik pada revolusi industri 2.0, lanjut revolusi industri 3.0 dengan maraknya komputerisasi dan akhirnya revolusi industri 4.0 dengan intensifnya penggunaan internetisasi, yang terjadi adalah sama yakni peningkatan produktivitas dibantu dengan teknologi namun juga diiringi pengurangan tenaga manusia.
Dan saat ini dunia media telah banyak terbantukan dengan akumulasi teknologi internet, big data, AI dan digital, yang menjadikan beberapa pekerjaan manusia yang tadinya memerlukan banyak orang, saat ini hanya membutuhkan beberapa orang saja yang paham teknologi. Hal ini lah yang akhirnya mengarah pada perlunya resizing jumlah sumber daya manusia di dunia media. Resizing akan terus berjalan hingga angka efisiensi kerja akan tercapai.
Perubahan di sisi konsumen juga turut membawa dampak bagi dunia media. Generasi milenial sebagai pasar media saat ini dan masa depan, semakin terikat pada dawai mereka, dan meninggalkan media konvensional. Sangat jarang generasi milenial saat ini untuk berada di depan layar televisi dan di depan radio seperti di masa lalu. Disisi lain, perubahan ini, menggerakkan para sponsor media konvensional juga bergerak meninggalkan media tersebut ke media yang lebih murah namun efektif menjangkau target pasar mereka.
Hal ini ditambah lagi dengan adanya perubahan dari pesaing-pesaing dari dunia baru, termasuk dunia media sosial. Mark Zuckerberg di antaranya menyampaikan bahwa era media sosial akan berakhir dan beralih ke platform hiburan.
Kondisi mengkhawatirkan inilah yang dibahas bersama, bagaimana langkah ke depan dunia media menyikapi perubahan teknologi, pergeseran minat konsumen dan sponsor serta munculnya media-media dari dunia yang baru.
Strategi Mass Customization dan Ambidextrous
Diskusi para praktisi dan akademisi memunculkan beberapa konsep teoritis yang ternyata juga telah diaplikasikan oleh para pimpinan media.
Konsep pertama adalah berkaitan dengn perlunya redefinisi target media, yang di era saat ini harus lebih terpersonalisasi berdasarkan algoritma peminatan konsumen. Untuk itu membuat konten yang massal tapi dapat dinikmati secara personal/individual merupakan hal yang harus dilakukan. Mass customization merupakan hal yang harus dilakukan oleh pemilik media, yakni memberikan platform terintegrasi dari media konvensional yang dimiliki, untuk kemudian materi nya dapat dinikmati kapan saja dan dimana saja secara personal. Target audiens bebas memilih materi merita, dan hiburan yang ingin dilihat, dibaca dan didengar. Platform media, harus memberikan mesin pencarian, bahkan tanpa dicari sudah dapat membaca keinginan audiensnya dari pelacakan historisnya.
Media juga harus semakin interaktif berkomunikasi bahkan mendapat asupan materi dari audiensnya. Untuk itu akan muncul konsep co-creation dan co-production, materi media tidak hanya dihasilkan oleh satu sisi media penyelenggara saja, namun juga dapat diasup oleh audiens lain untuk saling melengkapi. Penciptaan nilai bersama secara kolaboratif (collaborative value creation) menjadi sebuah keharusan bagi media di era digital saat ini. Hal ini membawa kepada bentuk citizen journalism, seperti yang menjadi sebuah contoh sukses dari Radio Suara Surabaya.
Konsep lain yang harus dilakukan pihak media adalah Strategi Ambidextrous, yakni secara bersamaan harus melakukan strategi explorasi dan exploitasi. Di mana seorang pemimpin harus berfikir bagaimana mengexploitasi semua sumber daya dan kolaborasi yang dapat dilakukan sekaligus berfikir bagaimana mengeksplorasi platform-platform media baru agar tetap bisa bertahan. Salah satu bentuk eksploitasi adalah mengintegrasikan media yag dimiliki menjadi sebuah platform yang terintegrasi menjadi omnichannel, bukan hanya sekedar multichannel yang berjuang sendiri-sendiri, serte bekerja sama dengan pengelola berbagai komunitas untuk dapat menjadi media bagi komunitas secara meluas. Adapaun bentuk eksplorasi adalah pemanfaatan divisi RnD dan investasi untuk mengembangkan platform media baru.
PR bagi Forum Diskusi
Salah seorang panelis mempertanyakan apa langkah selanjutnya yang dapat digali dari acara FGD Media yang lalu. Pertanyaan ini sangat penting untuk dapat menjadikan diskusi tidak hanya sekedar wacana, namun memang memberikan langkah strategis yang dapat diaplikasikan di dunia media, FGD ditutup dengan kesepakatan perlunya pertemuan rutin untuk sharing materi antara praktisi dan akademisi. Juga diperlukan workshop baik bagi pengelola media untuk lebih mendalami berbagai pilihan opsi strategik yang ada dalam mengelola bisnis. Workshop juga diperlukan kepada Masyarakat agar mereka dapat menjadi kontributor yang baik bagi dunia media, sehingga aktivitas co creation dapat terjamin kredibilitas dan kualitasnya.
Selamat berjuang dan bertahan kepada mitra media, karena kami selalu membutuhkan media.
| Peran Shopping Mall dalam Transformasi Ekonomi Kota Surabaya |
|
|---|
| Lebaran di Tengah Deru Perang Iran, Idul Fitri dan Harapan Rekonsiliasi Sosial Dunia |
|
|---|
| Mengapa Outlook Fitch Negatif Bisa Berbahaya bagi Industrialisasi Indonesia? |
|
|---|
| Guru Besar UC Surabaya Prof Murpin J Sembiring : Kedaulatan Ekonomi Tidak Boleh Dinegosiasikan |
|
|---|
| Surya Spirit Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Guru-Besar-Manajemen-FEB-UNAIR-Prof-Gancar.jpg)