Senin, 27 April 2026

Petani Bondowoso Mengelus Dada Akibat Harga Tomat Anjlok, Minta Pemerintah Bantu Pasarkan

Petani tomat di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, kini hanya bisa mengelus dada akibat harga jual tomat anjlok. 

Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Sinca Ari Pangistu
HARGA TOMAT ANJLOK - Seorang pekerja buruh tani sedang memanen tomat di kebun Desa Tegal Pasir, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (15/2/2025). Petani tomat di Bondowoso, kini hanya bisa mengelus dada, karena harga jual tomat anjlok. 

SURYA.CO.ID, BONDOWOSO - Petani tomat di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur (Jatim), kini hanya bisa mengelus dada. 

Pasalnya, sebulan terakhir ini harga jual tomat ke tengkulak hanya Rp 2.000 per kilogram (kg).

Harga jual tomat ini anjlok, dari sebelumnya yang stabil dikisaran Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kg.

"Harga tomat murah dari petani ke tengkulak cuma Rp 2 ribu," ujar Rian, seorang petani asal Desa Grujugan Lor, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, saat dikonfirmasi, Sabtu (15/2/2025).

Ia menduga, kondisi ini terjadi karena banyak tomat-tomat dari luar Jawa Timur yang mulai masuk ke pasar.

"Kebanyakan tomat dari luar masuk ke Bondowoso," tutur Rian.

Dirinya memiliki 500 m⊃2; sawah yang ditanami tomat sirtu. Saat ini, mayoritas tomat yang ditanam petani hasilnya bagus, karena cuaca yang juga mendukung.

Namun begitu, saat ini harga tomat anjlok di tengah panen raya.

"Kalau bisa pemerintah ada solusi, kalau lagi pasar hancur tomat. Dibantu kirim ke pabrik saos," ujar Rian.

Duta, petani tomat di Desa Jambe Anom, Kecamatan Jambesari, menjelaskan bahwa petani tetap memanen tomatnya di tengah harga anjlok. Karena, harga ini masih bisa dijual sekitar Rp 15 juta per hektare.

Meski, harga itu tak sesuai dengan modal yang dikeluarnya mencapai Rp 70-an juta per hektare dari awal tanam hingga panen.

Satu tanaman tomat normalnya 2,5 kilogram per pohon. Satu hektare itu sekitar 3.000 batang.

"Jadi per hektare bisa menghasilkan sekitar rata-rata 7,5 ton," jelas Duta.

Ia menjabarkan, harga tomat memang setiap tahun selalu ada fase anjlok. Hanya saja memang tahun ini paling lama. 

Bahkan, jika berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, harga tomat biasanya bertahan stabil sampai bulan Maret.

Jika harga terus turun, petani biasanya tak memanen. Sekalipun dipanen dibagikan pada tetangga.

"Disuruh panen sendiri," ujarnya.

Petani sebenarnya tak berharap harga langsung naik tinggi, karena, lanjut Duta, itu juga akan berpengaruh pada daya beli masyarakat.

"Asalkan stabil, sudah cukup bagi petani. Stabilnya Rp 5 ribu per kg," pungkas Duta.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved