Imlek 2025

Imlek Jadi Tradisi Perekat Budaya dan Simbol Harmoni di Indonesia

Perayaan Imlek tidak hanya menjadi momen penting bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga simbol keberagaman budaya di Indonesia.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/purwanto
Umat membersihkan rupang atau patung Dewa usai melakukan sembahyang Song Shen jelang Imlek 2025 atau Tahun Ular di Kelenteng Eng An Kiong, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (23/1/2025). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Perayaan Imlek tidak hanya menjadi momen penting bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga simbol keberagaman budaya di Indonesia. 

Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair), mengungkap berbagai dimensi sejarah dan nilai budaya dari tradisi yang telah berlangsung selama ribuan tahun ini.

Menurut Shinta, Imlek berasal dari tradisi menyambut musim semi di Tiongkok, jauh sebelum hadirnya agama tertentu. 

"Tradisi ini muncul karena masyarakat Tiongkok mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, sehingga musim semi dianggap sebagai awal kehidupan baru," jelasnya.

Namun, perjalanan tradisi Imlek di Indonesia tidak selalu mulus. Pada masa Orde Baru, perayaan ini hanya bisa dilakukan secara terbatas di ruang privat. 

Baru pada era Reformasi, khususnya di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Imlek diakui sebagai tradisi nasional dan ditetapkan sebagai hari libur resmi.

Shinta juga menyoroti keunikan perayaan Imlek di Indonesia yang bersifat inklusif dan lintas etnis. 

"Misalnya, tradisi berbagi angpao kini juga ditemukan dalam perayaan Idulfitri. Makanan khas Imlek seperti kue keranjang dan mie panjang umur sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia secara umum," ujarnya.

Ia menambahkan, simbol-simbol Imlek seperti barongsai dan pernak-pernik berwarna merah dan emas juga menjadi daya tarik lintas budaya. 

“Banyak pernak-pernik Imlek dijual oleh orang dari berbagai latar belakang. Ini mencerminkan keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap budaya Tionghoa,” ungkap Shinta.

Setiap elemen dalam tradisi Imlek, lanjutnya, mengandung makna filosofis. 

Seperti warna merah melambangkan keberuntungan, sementara emas simbol kemakmuran. 

Kemudian kue keranjang dengan tekstur lengket merepresentasikan eratnya hubungan persaudaraan. Bahkan, hujan yang sering turun saat Imlek dipercaya sebagai simbol rezeki berlimpah.

"Imlek bukan sekadar tradisi, tetapi simbol harmoni yang mempererat keberagaman budaya di Indonesia. Dengan memahami filosofi di balik tradisi ini, masyarakat dapat menjadikannya inspirasi untuk memperkuat kebersamaan dan persatuan," kata Shinta.

Ia berharap perayaan Imlek terus menjadi momen untuk merayakan keberagaman dan memperkokoh nilai-nilai toleransi di tengah era globalisasi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved