Jumat, 10 April 2026

Lewat Seni Instalasi Keran Kucurkan Botol Plastik, Siswi di Gresik Ingatkan Stop Sampah Plastik

krisis iklim yang dirasakan saat ini salah satunya disebabkan plastik yang menyumbang emisi karbon. 

Penulis: Sugiyono | Editor: Deddy Humana
surya/mochammad sugiyono (sugiyono)
Aeshnina Azzahara Aqilani membuat seni instalasi berupa keran yang mengalirkan plastik di depan Museum Sampah Plastik, komunitas River Warrior di Desa Wringinanom - Gresik, Kamis (16/1/2025). 


SURYA.CO.ID, GRESIK - Aeshnina Azzahara Aqilani, siswi SMA di Gresik, asal Desa/Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik membuat seni instalasi berupa keran yang mengalirkan plastik di depan Museum Sampah Plastik komunitas River Warrior di Desa Wringinanom. 

Menurut Aeshnina, seni rupa instalasi kran mengalirkan plastik ini adalah pesan kepada semua pihak untuk segera berhenti menggunakan plastik agar bumi tidak banjir plastik. 

"Pesan kami kepada semua pihak, untuk segera menutup keran yang menggunakan bahan plastik, agar bumi kita tidak banjir sampah plastik,” kata Aeshnin kepada wartawan, Kamis (16/1/2025). 

Menurut Aeshnin yang juga koordinator komunitas River Warrior, saat ini bumi sedang mengalami krisis iklim yang disebabkan krisis plastik. 

“Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik telah mencemari laut. Indonesia menjadi negara ketiga setelah India dan Nigeria yang menyumbang sampah plastik ke laut," ungkapnya. 

Aeshnin menambahkan, krisis iklim yang dirasakan saat ini salah satunya disebabkan plastik yang menyumbang emisi karbon. 

Selain itu plastik berkontribusi pada perubahan iklim, sebab plastik terbuat dari bahan bakar fosil, seperti minyak bumi dan gas alam. Proses ekstraksi, penyulingan dan pembuatan plastik menghasilkan emisi gas rumah kaca, termasuk karbondioksida dan metana. 

"Menurut laporan Center for International Environmental Law, produksi plastik global menyumbang sekitar 3,8 persen dari emisi gas rumah kaca  dunia," jelasnya. 

Karena itu, Aeshnin menegaskan, paparan jangka panjang sampah plastik dalam mikroplastik dapat mengganggu sistem endokrin, menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang beresiko pada perkembangan janin, pubertas dini dan infertilitas. 

Selain itu, beberapa senyawa seperti styrene, telah dikaitkan dengan resiko kanker, gangguan saraf dan kerusakan organ vital seperti hati dan ginjal. 

"Dengan meningkatnya sampah plastik di lingkungan, manusia dapat terpapar mikroplastik yang membawa bahan kimia berbahaya ke dalam tubuh, memperburuk dampak kesehatan manusia dan lingkungan secara keseluruhan," terangnya.

"Maka pemerintah Indonesia harus mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Ini untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan," pungkasnya. *****

 

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved