Data LBH Surabaya: Ratusan Perempuan dan Anak Jadi Korban Pelecehan dan Kekerasan
Setiap tahun, kasus pencabulan menempati peringkat tertinggi laporan ke LBH Surabaya
Penulis: Tony Hermawan | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Peran perempuan begitu vital dalam berbagai aspek kehidupan, namun ironisnya, mereka dan anak-anak sering menjadi sasaran kekerasan.
Catatan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya sepanjang tahun 2024, menunjukkan realita pahit.
Ada 12 kasus kekerasan perempuan dan anak yang ditangani, sembilan menimpa perempuan dan tiga menimpa anak.
"Sembilan kasus kekerasan perempuan dengan satu kasus sudah diputus, dan tiga kasus kekerasan pada anak dengan dua kasus sudah diputus," ujar Yaritza Mutiaraningtyas, Pengacara Publik dan Wakil Kepala Divisi Riset, Pengembangan dan Kerjasama LBH Surabaya, Jumat (3/1/2025).
Lebih rinci, delapan kasus merupakan pencabulan, dua kekerasan fisik dan satu pemerkosaan.
Pencabulan, menurut Yaritza, jenis kekerasan yang paling sering dilaporkan setiap tahunnya.
"Setiap tahun, kasus pencabulan menempati peringkat tertinggi laporan ke LBH Surabaya," tambahnya.
Data LBH Surabaya ini, hanyalah sebagian kecil dari gambaran sebenarnya.
Pantauan pemberitaan media di Jawa Timur, mencatat angka yang jauh lebih besar 41 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 157 kasus terhadap anak.
Pada anak, pencabulan dan pemerkosaan mendominasi, diikuti penganiayaan, bullying, pengeroyokan, penelantaran, pembuangan bayi dan satu kasus kawin paksa.
"Wilayah Kota Surabaya yang lebih banyak, di Surabaya ada 29 kasus, Gresik 11 kasus, Sidoarjo 17 kasus. Lalu yang lainnya masing-masing ada 4 sampai 5 kasus yang hampir ada di seluruh wilayah Jawa Timur," jelas Yaritza.
Yang lebih memprihatinkan, mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak dan perempuan adalah orang terdekat korban. Bahkan bisa jadi masih familinya.
"Miris sekali, bila melihat tren pelaku sekarang justru adalah orang di lingkungan korban sendiri. Seperti orang tua atau saudara sendiri, sehingga banyak korban merasa tidak aman," ungkap Yaritza.
LBH Surabaya berharap angka kekerasan ini dapat ditekan. Oleh karena itu, mereka mengimbau pemerintah untuk memperkuat upaya pencegahan.
Salah satunya, bisa bersinergi dengan LSM dan aktivis terkait untuk melindungi perempuan dan anak di Jawa Timur.
"Pemerintah harus bersinergi dengan NGO (Non Governmental Organization) dan pegiat-pegiat isu kekerasan perempuan dan anak, agar dapat menekan meningkatnya kekerasan perempuan dan anak di Jawa Timur," pungkas Yaritza.
➢ IKUTI UPDATE BERITA MENARIK LAINNYA di GOOGLE NEWS SURYA.CO.ID
Ada Tragedi Kali Jagir, Komisi A Kritisi SOP Penindakan Tim Asuhan Rembulan Satpol PP Surabaya |
![]() |
---|
Raperda Pelindungan Perempuan dan Anak di Jawa Timur Jadi Atensi DPRD Jatim |
![]() |
---|
Update Demonstrasi di Surabaya: Kondisi Memanas, Pendemo Bakar Pos Polisi di Taman Bungkul |
![]() |
---|
Kenalkan 2 Parfum Baru, Bond No. 9 Bawa Wewangian Eksklusif New York ke Surabaya |
![]() |
---|
TNI Bantu Polisi Bubarkan Aksi Demo di Surabaya, Massa Bakar Tenda Polisi di Jalan Basuki Rahmat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.