Siswa SMAN 5 Surabaya Ciptakan Immunomodulator Tuberculosis dari Buah Widara Bekol
Siswa SMAN 5 Surabaya menciptakan immunomodulator untuk penderita tuberculosis (TBC) dari buah widara bekol (Ziziphus mauritiana).
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: irwan sy
SURYA.co.id | SURABAYA – Budaya penelitian yang dikembangkan di SMAN 5 Surabaya membuat lima siswa berhasil menciptakan immunomodulator untuk penderita tuberkulosis (TBC) dari buah widara bekol (Ziziphus mauritiana) yang berasal dari hutan Baluran, Jawa Timur.
Immunomodulator adalah zat atau obat yang dapat merangsang atau menekan sistem imun, sehingga dapat membantu tubuh melawan infeksi.
Inovasi yang dinamakan Kefira ini mengantarkan mereka meraih medali emas dan penghargaan Best Project dalam ajang Nalatico Technology and Science Competition 2024 pada akhir November lalu.
Dalam penelitian ini, tim yang terdiri dari Floretta Ayu, Dewi Noni, Alyshia Putri, Naomi Cindy dan Safira Beryl menciptakan formulasi Kefira, yaitu kefir yang difortifikasi dengan ekstrak buah widara bekol dan daun mint sebagai immunomodulator tuberkulosis.
Ketua tim peneliti, Floretta Ayu menjelaskan bahwa mereka sengaja memilih buah widara bekol karena merupakan tanaman endemik Taman Nasional Baluran yang kaya akan protein, sehingga cocok digunakan sebagai bahan dasar immunomodulator.
“Penelitian ini berangkat dari keprihatinan kami terhadap tingginya kasus TBC di Indonesia. Saat ini, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia untuk jumlah kasus TBC, dengan lebih dari 1 juta kasus dan 134 ribu kematian setiap tahunnya,” jelas Floretta.
Proses pembuatan Kefira melibatkan fermentasi susu kambing etawa yang dicampur dengan ekstrak buah widara bekol dan daun mint yang direndam dalam alkohol.
Kefir sendiri merupakan koloni ragi dan bakteri yang mengandung mikroorganisme probiotik untuk membantu memecah laktosa dalam susu.
Campuran bahan-bahan tersebut difermentasi di tempat gelap selama 24 jam sebelum siap dikonsumsi.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa Kefira mengandung protein dan karbohidrat tinggi yang dapat meningkatkan status gizi penderita TBC," urainya.
Selain itu, kandungan flavonoidnya berpotensi sebagai antioksidan dan antibakteri.
Kombinasi zat organik, zat anorganik, probiotik, dan senyawa bioaktif dalam formulasi ini menjadikannya berpotensi meningkatkan efektivitas pengobatan TBC.
Pembimbing penelitian, Ratih Fahayana, mengapresiasi pencapaian para siswa karena telah mengimplementasikan ilmu yang dipelajari di sekolah menjadi penelitian yang bermanfaat untuk masyarakat luas.
“Kami akan terus memberikan dukungan penuh agar siswa dapat terus berprestasi dan memberikan manfaat yang lebih besar,” katanya.
Selain mendapatkan medali emas, sekolah juga berencana membantu para siswa untuk mematenkan hasil penelitian mereka dan rencananya akan dikembangkan lebih lanjut untuk diproduksi secara massal.
| Rekam Jejak Yan Munzir, Camat Tukka yang Viral Disemprot Bobby Nasution Gegara Lambat Tangani Banjir |
|
|---|
| DPW NasDem Jatim Bantah Isu Merger dengan Partai Gerindra |
|
|---|
| KAI Daop 8 Surabaya Catat Lonjakan Penumpang di Stasiun Lamongan pada Triwulan 1 2026 |
|
|---|
| Resmi! Tiket Derby Suramadu Persebaya Surabaya vs Madura United, Pelajar Rp50.000 Kuota Terbatas |
|
|---|
| Revalidasi UNESCO, Pemprov Jatim Komitmen Pertahankan Status Green Card Geopark Ijen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Siswa-SMAN-5-Surabaya-menunjukkan-hasil-penelitiannya-berupa-immunomodulator.jpg)