Rabu, 3 Juni 2026

Berita Olahraga

Karateka Surabaya Jemima Rumiza Sabet Juara Dunia di Jepang

Sejarah apik dicatat karateka putri Jemima Rumiza Diovani. Kareteka asal Surabaya sukses meraih juara dunia di Kejuaraan Dunia Karate Full Contact

Tayang:
Editor: Fatkhul Alami
Dok Jemima Rumiza Diovani
Karateka Jemima Rumiza Diovani (kiri) mengangkat trofi juara ditemani pelatihnya Erick Danurahardja saat memenangi Kejuaraan Dunia Karate Full Contact di Jepang. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Torehan sejarah apik dicatat karateka putri Jemima Rumiza Diovani. Kareteka asal Surabaya ini sukses meraih juara dunia di Kejuaraan Dunia Karate Full Contact yang bertajuk The 44th Shidokan Open International Championship 2024.

Pada kejuaraan yang digelar di Yokohama Budokan, Yokohama, Jepang, pada 13 Oktober lalu itu, Jemima Rumiza Diovani menyabet juara setelah mengalahkan karateka Kuwait dalam final dengan skor 5-0.

Jemima yang kini berusia 24 tahun itu baru pulang dari Jepang akhir pekan kemarin. Ia mengak sangat senang atas capaian meraih juara sudah dia impikan sejak dia menekuni karate tujuh tahun silam.

 ’’Dulu, aku hanya bisa membayangkan bisa atau tidak (jadi juara dunia). Pergi ke sana (Jepang) saja sudah tidak menyangka. Apalagi bisa jadi nomor satu. Selain itu, juga jadi sejarah sebagai satu-satunya yang bisa membawa kategori full contact karate jadi juara dunia,’’ sebut  Jemima saat ditemui di tempat latihannya, di Markas Komando Inti Mahatidana, Surabaya, Senin (22/10).

Raihan juara dunia ini mmenjadikan Jemima sebagai karateka wanita pertama di Indonesia yang bisa memenangi ajang tersebut. Dalam perjalannnya meraih juara, ia mengalahkan karateka Australia dengan KO. Dia pun menundukkan karateka Kuwait dengan angkat bendera.
 
Jemima bergabung dengan Shidokan Xpartan Dojo sejak 2022 lalu. Kesempatan turun dalam ajang dunia di Jepang kemarin pun berkat arahan dari Shidokan Lion Dojo ini. Dia mengaku, sudah sejak tahun lalu persiapan intensifnya menuju ke Jepang dimulai. Tapi, tekniknya sudah dibangun sejak bertahun-tahun.
 
Dalam karate full contact ini, karateka tidak dibolehkan untuk memukul ke bagian muka. Otomatis, bagian tubuh leher ke bawah harus dikuatkan. Dari dada, perut, rusuk, paha luar, paha dalam, sampai tulang kering.

Memar-memar sudah jadi seperti makanan sehari-hari bagi Jemima. Sebab itu, di Jepang, mentalnya sudah terasah. Ia tampil ngeyel, wani dan tatag. Tiga kata itu jadi kuncinya. 

’’Di sana sudah siap semuanya. Mau cedera atau apa harus siap. Hancur-hancuran tidak apa-apa,’’ tegas Jemima yang juga menekuni cabor selain karate, seperti kickboxing, boxing, dan MMA (Mixed Martial Arts) itu.

Kendati sudah menyandang gelar sebagai juara dunia tahun ini Jemima enggan berpuas diri. Dia masih punya banyak ambisi lain ke depannya. ’’Tahun depan, aku ingin kembali memenanginya,’’ ucap Jemima.

Peran pelatih Erick Danurahardja juga sangat besar atas capaian Jemima di Jepang. Kebetulan Erick pun pernah memiliki pengalaman mengikuti kejuaraan dunia di 2019 lalu. Sayangnya, ketika itu dia gagal setelah dikalahkan karateka dari Swiss.
 
 ’’Berkaca dari kekalahanku ketika itu, aku sudah tahu seperti apa lawan-lawan di luar negeri. Aku memberikan nasehat, masukan, dan meningkatkan pola latihan kepada anak-anak. Secara postur, dari sisi gizi, harus ditingkatkan lagi,’’ terang Erick, sosok yang mendirikan Shidokan ini.         
 
Sebenarnya, Jemima bukan satu-satunya karateka dari Indonesia yang bertarung di kejuaraan tersebut. Dia bersama dua karateka putra, Gabriel Constantine Nangin dan Mikhael Jericho Nangin. Sayangnya, Gabriel dan Mikhael kalah di Kumite (pertarungan).
 
Tapi, Gabriel dan Mikhael berjaya di kelas Kata. Mikhael jadi jawara dalam kelas remaja. Sedangkan Gabriel jadi juara 2 di kelas anak-anak. 

Erick mengakui, Kumite terutama sektor putra memang lebih sulit dibandingkan sektor putri. 
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved