Sabtu, 11 April 2026

Ibadah Haji 2024

Jejak Sejarah Perpindahan Kiblat Umat Muslim

Masjid Qiblatain menjadi saksi perpindahan kiblat umat muslim. Masjid ini berada di Quba, di atas sebuah bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah

|
Penulis: M Taufik | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/M Taufik
Masjid Qiblatain di di Quba, tepatnya di atas sebuah bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah. 

SURYA.CO.ID, MADINAH - Masjid Qiblatain menjadi saksi perpindahan kiblat umat muslim. Masjid ini berada di Quba, tepatnya di atas sebuah bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah.

Masjid yang dikenal dengan dua arah kiblat itu, dulu bernama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah.

SURYA.CO.ID berkesempatan ziarah ke masjid yang terletak sekitar tujuh kilometer dari Masjid Nabawi di Madinah itu, Rabu (15/5/2024).

“Asal usul Masjid Qiblatain ini, diawali dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW beserta beberapa sahabat ke Salamah untuk menenangkan Ummu Bishr binti al-Bara yang ditinggal mati keluarganya,” ujar KH Prof Aswadi, konsultan ibadah PPIH Arab Saudi saat berbincang dengan tim MCH Daker Madinah.

Ketika itu bulan Rajab tahun 2 Hijriyah, Rasulullah salat zuhur di Masjid Bani Salamah. Ia mengimami para jamaah. Dua rakaat pertama salat zuhur masih menghadap Baitul Maqdis (Palestina), sampai akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu datang ketika lelaki dijuluki Al-Amin ini baru saja menyelesaikan rakaat kedua.

Dalam Alquran Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144).

Suasana di dalam Masjid Qiblatain
Suasana di dalam Masjid Qiblatain (SURYA.CO.ID/M Taufik)

Begitu menerima wahyu ini, Rasul langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jamaah melanjutkan salat zuhur menghadap Masjidil Haram. Yang tadinya menghadap Baitul Maqdis dengan tetap melanjutkan rakaat ke dua bersama makmum (pengikut shalat).

Sejak saat itu, kiblat umat Islam berpindah dari Baitul Maqdis, Palestina (menghadap ke utara dari Madinah), menuju Masjidil Haram (menghadap arah selatan dari Madinah). Masjid Bani Salamah ini pun dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat.­­­

Diceritakan, pada awalnya kiblat salat untuk semua nabi adalah Baitullah di Mekkah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS, seperti yang tercantum dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 96: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Mekkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Sedangkan Al Quds (yang kudus: Baitul Maqdis) ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para nabi dari bangsa Israel.

Al Quds berada di sebelah utara, adapun Baitullah di Mekkah di sebelah selatan sehingga keduanya saling berhadapan.

Kini, bangunan Masjid Qiblatain memang memiliki dua arah mihrab yang menonjol (arah Mekkah dan Palestina) yang umumnya digunakan oleh imam salat.

Setelah direnovasi oleh Pemerintah Arab Saudi, dengan hanya memfokuskan satu mihrab yang menghadap Kakbah di Mekkah dan meminimalisir mihrab yang menghadap ke Yerusalem, Palestina.

Saat SURYA.CO.ID berkunjung ke sana, peziarah yang datang terbilang tidak terlalu banyak. Namun sepanjang waktu terus ada yang datang. Lelaki maupun perempuan, mereka masuk ke masjid dan menyempatkan untuk salat di masjid tersebut.


Ikuti Berita Menarik Lainnya di Google News SURYA.co.id


Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved