Berita Gresik
Perahu Kandas Akibat Sungai Surut Saat Kemarau, Ratusan Nelayan di Gresik Terpaksa Jadi Kuli Batu
Biasanya Sungai Gumeng itu tergantung air laut, ketika banjir rob ya sungai ikut pasang, ketika air laut surut, ya ikut surut
Penulis: Sugiyono | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, GRESIK – Panasnya musim kemarau tahun ini tidak hanya mempengaruhi lahan pertanian, tetapi juga para nelayan yang biasa mencari ikan di Gresik. Ini bisa dilihat dengan banyaknya perahu nelayan yang terdampar di sepanjang sungai Desa Gumeng, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik akibat air sungai mengering.
Surutnya air sungai begitu parah, sehingga tidak mungkin dilayari perahu. Terpaksa para nelayan membiarkan perahu-perahu mereka kandas di sungai yang mengering. Dan dampaknya, mereka tidak bisa ikan dari sungai sampai ke pesisir laut.
Puluhan perahu lengkap dengan mesinnya tampak berjajar di tepi sungai Desa Gumeng. Surutnya air sungai itu juga karena ketinggian air di Sungai Bengawan Solo sudah susut.
Ketua Nelayan Desa Gumeng, Ahmad Basri mengatakan, para nelayan tidak bisa melaut akibat air sungai surut sejak Agustus 2023. “Mulai Agustus sampai sekarang air sungai terus surut, setelah air di Sungai Bengawan Solo juga turun.Air sungai tidak bisa naik, walaupun air laut pasang," kata Basri kepada wartawan, Rabu (4/10/2023).
Warga Desa Gumeng yang kebanyakan mencari pendapatan dari nelayan, akhirnya beralih pekerjaan menjadi kuli batu. Ada 100 lebih nelayan yang terdampak dan banting setir menjadi kuli batu.
“Biasanya Sungai Gumeng itu tergantung air laut, ketika banjir rob ya sungai ikut pasang, ketika air laut surut, ya ikut surut. Tetapi sekarang akibat musim kemarau, perahu terdampar dan para nelayan terpaksa bekerja menjadi kuli batu,” tambahnya.
Sementara Kepala Desa Gumeng, Wahyuddin mengatakan, surutnya air sungai hingga mengakibatkan perahu terdamar, salah satunya disebabkan pendangkalan dan tidak ada normalisasi.
“Sudah sekitar 10 tahun lebih, sungai di Desa Gumeng tidak dinormalisasi, akibatnya sungai dangkal dan saat kemarau perahu terdampar. Padahal sungai ini membutuhkan normalisasi sekitar 1.700 meter sampai 2.000 meter,” kata Wahyuddin.
Dari fenomena tersebut, Wahyuddin hanya bisa berharap perhatian dari pemerintah, agar melakukan normalisasi sungai. Dengan cara itu, sungai bisa kembali digunakan para nelayan saat kemarau dan saat hujan tidak banjir.
Tetapi jika nelayan memaksa melaut harus rela mendorong perahu sejauh riburatudan an meter. “Kalau nelayan nekat melaut, ya harus mendorong sejauh ratusan meter, itu akan memakan tenaga,” katanya. *****
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Nelayan-Gresik-terdampak-kemarau.jpg)