Selasa, 9 Juni 2026

Profil dan Biodata Sofia WD, Artis dan Sutradara Wanita yang Ternyata Juga Seorang Agen Intelijen

Inilah profil dan biodata Sofia WD, artis dan sutradara yang ternyata juga seorang intelijen. Sepak terjangnya mengagumkan.

Tayang:
kolase sosok.id
Sofia WD, Artis dan Sutradara Wanita yang Ternyata Juga Seorang Agen Intelijen. Simak profil dan biodatanya. 

SURYA.co.id - Inilah profil dan biodata Sofia WD, artis dan sutradara yang ternyata juga seorang intelijen.

Siapa yang tak kenal Sofia WD, artis dan sutradara legendaris yang ikut jadi pelopor dunia perfilman di Indonesia.

Sofia telah membintangi ratusan film di Indonesia sejak era kemerdekaan.

Namun, di balik karirnya yang gemilang sebagai aktris dan sutradara film, Sofia tetap setia dengan perjuangannya sebagai agen intelijen.

Ia menggunakan kesempatan-kesempatan saat syuting film di berbagai daerah untuk mengumpulkan informasi penting tentang situasi politik dan militer di Indonesia.

Ia juga membantu menyelundupkan senjata dan amunisi untuk para pejuang kemerdekaan.

Salah satu peristiwa penting yang melibatkan Sofia sebagai agen intelijen adalah Peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965.

Seperti dilansir dari Tribun Trends.

Peristiwa ini adalah sebuah percobaan kudeta yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan sekelompok perwira militer yang disebut Gerakan 30 September (G30S).

Mereka menculik dan membunuh enam jenderal Angkatan Darat, lalu mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi.

Sofia, yang saat itu berada di Yogyakarta untuk syuting film Tiga Dara, mendapat informasi tentang rencana kudeta dari salah satu kontaknya di PKI.

Ia segera menghubungi Panglima Komando Daerah Militer V/Brawijaya, Mayjen Suharto, yang merupakan temannya sejak zaman perjuangan.

Kemudian memberitahu Suharto tentang nama-nama jenderal yang akan diculik dan lokasi-lokasi mereka.

Informasi ini sangat membantu Suharto untuk mengambil alih kendali militer dan menumpas G30S/PKI.

Atas jasanya ini, Sofia mendapat penghargaan dari pemerintah Indonesia, yaitu Bintang Mahaputra Adipradana.

Ia juga mendapat pengakuan dari dunia internasional, terutama dari Amerika Serikat, yang menganggapnya sebagai salah satu agen intelijen terbaik di Asia Tenggara.

Bahkan sempat diundang ke Gedung Putih oleh Presiden Lyndon B. Johnson pada tahun 1966.

Lantas, seperti apa profil dan biodatanya?

Melansir dari Wikipedia, Sofia adalah seorang aktris dan sutradara berkebangsaan Indonesia.

Sofia, atau Sofi, lahir dari keluarga pedagang. Lahir di Bandung dari keluarga Apandi dan Sumirah, Sofia anak kedua dari empat bersaudara.

Setelah tamat HIS (1935) dan Darul Muta'allimin, ia bekerja pada sebuah perusahaan milik Jepang, seraya bergabung dengan grup sandiwara Irama Massa.

Mulanya, Sofia hanya sebagai pembawa pesan perusahaan kepada penonton.

Karena nasib baik, ia berhasil menjadi pemeran utama. Ternyata, pengalaman akting inilah yang kelak membawanya ke puncak karier.

Dalam usia 14 tahun ia menikah pertama kali dengan Eddy Endang, seorang kapten dari kesatuan Siliwangi. Sembilan tahun kemudian yakni tahun 1947, Kapten Eddy gugur dalam menjalankan tugas. Sofia kaya dengan berbagai pengalaman keras selama perjuangan kemerdekaan.

Sofi turut mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan. Ia tergabung dalam kesatuan tentara FP (Field Preparation) berpangkat sersan mayor dan ikut bergerilya di daerah Limbangan di kaki Gunung Haruman, Jawa Barat.

Ketika itu perusahaan film Wong Brother berusaha mencari pengganti Miss Rukiah, pujaan pecandu film Indonesia sebelum perang.

Mereka menemukan istri S. Waldy, seorang pemain film yang kerap tampil sebagai pelawak. Wanita itu langsing, berwajah manis, tamatan HIS dan sekolah agama Darul Muta’allimin.

Tapi yang lebih penting, ia punya pengalaman panggung. Maka jadilah ia melakukan debut dalam film “Airmata Mengalir di Tjitaroem” pada tahun 1948..

Sejak saat itu, nama Sofia tak bisa lagi dilupakan penggemar film Indonesia, setidak-tidaknya untuk lebih 30 tahun berikutnya.

Lahir di Bandung dari keluarga Apandi dan Sumirah, Sofia anak kedua dari empat bersaudara.

Dalam usia 14 tahun ia menikah pertama kali dengan Eddy Endang, seorang kapten dari kesatuan Siliwangi.

Sembilan tahun kemudian yakni tahun 1947, Kapten Eddy gugur dalam menjalankan tugas. Sofia kaya dengan berbagai pengalaman keras selama perjuangan kemerdekaan.

Membintangi hampir ratusan film Indonesia, Sofia terhitung cerdik. Selain main sebagai bintang, ia juga mempelajari teknik penyutradaraan, kamera dan penataan gambar.

Kini ia tak hanya dikenal sebagai pemain, tetapi juga sutradara dan pimpinan produksi. Tahun 1960 ia pertama kali tampil sebagai sutradara dalam film “Badai Selatan”, produksi CV Ibu kota Film.

Sepuluh tahun kemudian berdiri Libra Film dengan produksi film pertamanya “Si Bego dari Muara Condet”.

Skenario penyutradaraan dan pimpinan produksi berada di tangannya. Film “Badai Selatan” agaknya membawa ‘badai’ tersendiri dalam hidup Sofia.

Di situ ia lebih akrab mengenal W.D Mochtar, seorang aktor asal Kalimantan Barat.

Sofia bercerai dari S. Waldy dan menikah dengan W.D Mochtar. Ternyata pengalaman di dunia film tak kalah serunya dibanding tahun-tahun bergerilya dulu. Ketika memerankan dukun dalam film “Dukun Beranak” tahun 1977, nyaris nyawanya melayang di pagut ular.

Tahun 1974, ia mendirikan PT Dirgahayu Jaya Film, yang terutama membuat film dokumentasi.

Film “Melawan Badai” tahun 1974, film “Tanah Harapan” tahun 1976, film “Jangan Menangis Mama” tahun 1977 dan film “Christina” pada tahun 1977 merupakan produksi perusahaan film ini.

Sofia meninggal dunia di Rumah Sakit Cikini, Jakarta pada tanggal 23 Juli 1986 akibat tekanan darah tinggi yang menyebabkan pendarahan di otak.

Sebelumnya, Sofia sedang menghadiri acara silaturahmi Lembaga Seni Tari, kemudian pingsan dan dibawa ke rumah sakit sampai akhirnya meninggal dunia.

Film terakhir yang dibintanginya adalah Yang Kukuh dan Yang Runtuh sedangkan film terakhir yang disutradarainya adalah Bermain Drama. Sebagai veteran, ia dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

>>>Ikuti Berita Lainnya di News Google SURYA.co.id 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved