Minggu, 12 April 2026

Berita Pasuruan

Kebakaran Hutan di Gunung Arjuno Meluas, Kepedulian Pemkab Pasuruan Hadapi Kebakaran Dikritik

aktifitas offroad di lereng Arjuno itu hanya hura-hura untuk kesenangan sesaat. Tetapi lupa bahwa alam perlu diselamatkan

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Deddy Humana
surya/galih lintartika
Anggota petugas gabungan Pasuruan mencoba memadamkan kobaran api yang merembet di lereng Gunung Arjuno, Rabu (30/8/2023). 


SURYA.CO.ID, PASURUAN - Kebakaran masih terjadi di kawasan hutan lereng Gunung Arjuno, tepatnya di wilayah Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Rabu (30/8/2023). Api sudah muncul sejak akhir pekan lalu dan sampai sekarang masih mencoba ditanggulangi para anggota tim gabungan setempat.

Asap terlihat masih mengepul di hutan lereng Gunung Arjuno ini. Sejumlah kawasan hutan sempat dilalap habis si jago merah. Pemadaman sudah dilakukan oleh gabungan petugas dan relawan, meski api tetap menyala dan terus meluas.

Kobaran muncul di Curah Sriti dan Lincing, Kabupaten Malang. Kebakaran di kawasan itu bisa dijinakkan meski kemudian meluas ke kawasan Tambaksari, Purwodadi. Untuk di Desa Tambaksari, titik apinya berada di Putuk Balong. Sekarang api menyebar ke Petung Ombo, berada di Dusun Gunung Malang.

“Pemadamannya masih tetap dilakukan sampai sekarang,” ujar Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat UPT Tahura, R Soerjo Ajat Sudrajat.

Disampaikan Soerjo, upaya pemadaman terkendala medan yang sulit dijangkau dan terjal. Selain itu, angin kencang menjadi tantangan. Ditambahkan, sejumlah pihak dilibatkan mulai dari Pamhut dan Polhut. Selain itu, juga masyarakat peduli api (MPA) dari desa setempat.

“Mudah-mudahan titik apinya tidak lagi menyebar dan berhasil dipadamkan. Kami sedang berjuang untuk segera memadamkan,” paparnya.

Terpisah Pusat Studi dan Advokasi Kebijakan (PUS@KA) menilai Pemkab Pasuruan belum memiliki kepedulian untuk andil memadamkan api di lereng Arjuno.

Direktur PUS@KA, Lujeng Sudarto menyebut, memang kebakaran bukan sepenuhnya tanggung jawab pemkab, tetapi seharusnya ada kepedulian untuk bersama-sama memadamkan api.

“Tujuannya sederhana. Mencegah api tidak meluas dan dalam rangka penyelamatan lingkungan agar hutan tidak rusak akibat kebakaran,” terangnya.

Ia menilai, para pejabat tidak memiliki sense of crisis yang baik. Seharusnya ketika mendapat laporan kebakaran, ada gerak cepat untuk ikut memadamkan. “Apalagi, ada komunitas mobil offroad yang diisi sejumlah pejabat dan tokoh-tokoh agama dan masyarakat yang eksis dalam beragam kegiatan,” ujarnya.

Menurut Lujeng, komunitas ini seharusnya memberi kontribusi nyata dalam konservasi alam atau penyelamatan hutan. Jangan lantas show off eksploitasi keindahan alam. “Jadi timbul kesan aktifitas offroad di lereng Arjuno itu hanya hura-hura untuk kesenangan sesaat. Tetapi lupa bahwa alam perlu diselamatkan,” tegas Lujeng.

Lujeng berharap, jangan sampai watak hedonisme ini mengurangi kepedulian terhadap alam. Alam bukan hanya dinikmati, tetapi juga harus dijaga.

“Caranya, ketika ada kebakaran, harus ada prioritas dalam penanganannya. Diintervensi agar kebakaran tidak meluas dan lokasi yang rusak tidak banyak,” paparnya.

Kebakaran ini disebutnya ironi, karena Pemkab Pasuruan baru saja menerima penghargaan Nirwasita Tantra dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kepemimpinan Bupati Pasuruan dinilai mampu merumuskan dan menerapkan kebijakan program kerja sesuai prinsip metodologi pembangunan berkelanjutan.

Tujuannya memperbaiki kualitas lingkungan hidup di daerahnya. “Seharusnya pemkab bisa cepat menangani kebakaran hutan ini,” sambungnya.

Sehingga, kata Lujeng, kebakaran tidak meluas karena ada percepatan penanganan dalam pemadaman. Jika meluas, ini kerugian bagi Pasuruan karena akan berdampak kerusakan hutan yang besar. *****

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved