Berita Kota Kediri
Kota Kediri Menuntaskan Stunting, Dengan 8 Aksi
Namun mengalami penurunan secara signifikan di tahun 2022 dan menurun lagi di tahun 2023 hingga mencapai 6,96 persen
Penulis: Didik Mashudi | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, KOTA KEDIRI - Pemkot Kediri telah melakukan berbagai upaya dan inovasi untuk menekan angka stunting dan mewujudkan zero stunting di Kota Kediri. Upaya ini diwujudkan dengan 8 aksi.
Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Kota Kediri, Bagus Alit dalam Penilaian Kinerja Penurunan Stunting pada Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Provinsi Jawa Timur secara virtual di Ruang Joyoboyo Balaikota Kediri, Kamis (10/8/2023).
Bagus Alit menyampaikan, capaian kinerja Kota Kediri dalam penanganan stunting tercermin pada indikator indeks kesehatan dan indikator bangga kencana yang menunjukkan angka optimal.
Ada beberapa kinerja Pemkot Kediri yang telah mencapai target 100 persen seperti Open Defecation Free (ODF). Artinya keseluruhan penduduk Kota Kediri sudah terakses jamban dan tidak buang air di sembarang tempat.
Selain itu pemberian makanan tambahan (PMT) balita gizi buruk yang juga mencapai 100 persen, balita gizi buruk yang telah mendapatkan penanganan juga telah 100 persen.
Selain itu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Kediri juga telah mengalami kenaikan menjadi 79,59. “Angka IPM Kota Kediri ini merupakan urutan tertinggi ke-6 Provinsi Jawa Timur,” jelasnya.
Sehingga target capaian Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia (RAN PASTI) secara umum juga sudah terpenuhi. I
ndikator intervensi spesifik yang berkontribusi 30 persen maupun indikator intervensi sentisitif yang berkontribusi 70 persen dalam mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung permasalahan stunting berhasil melampaui target pada tahun 2022.
“Hanya satu indikator yang hampir mencapai target, yaitu unmet need. Pemkot Kediri telah melakukan upaya-upaya percepatan untuk meminimalisir kehamilan yang tidak dikehendaki. Dan secara keseluruhan telah mencapai target,” ujarnya.
Dijelaskan, Kota Kediri telah melakukan beberapa aksi konvergensi. Pertama, aksi konvergensi analisis situasi. Dalam analisis situasi telah ditetapkan 10 kelurahan lokus nol stunting pada 2022 sampai 2023, yakni Kelurahan Blabak, Banaran, Betet, Bangsal, Pesantren, Tamanan, Ngadirejo, Jagalan, Kelurahan Dandangan, dan Kelurahan Mrican.
“Tolak ukur penentuan lokus ini, meliputi jumlah keluarga beresiko stunting, jumlah balita stunting dan prevalensi stunting,” jelasnya.
Kedua aksi konvergensi rencana kegiatan, Pemkot Kediri memiliki 15 kegiatan intervensi koordinatif dengan anggaran Rp 3,3 miliar, 24 kegiatan intervensi spesifik dengan total anggaran Rp 4 miliar, 51 kegiatan intervensi sensitive yang total anggarannya Rp 90 miliar. “Seluruh angaran ini tersebar di seluruh OPD terkait dan kelurahan,” terangnya.
Ketiga aksi rembuk stunting baik ditingkat kelurahan, kecamatan maupun tingkat kota. Dalam rembuk stunting ini menghasilkan output berita acara rembuk, kesepakatan bersama dengan stake holder dan menghasilkan program-program prioritas yang akan dianggarkan di tahun 2024 mendatang.
Kemudian aksi ke-empat, yaitu regulasi yang meliputi beberapa perda, perwali, keputusan Walikota dan keputusan kepala OPD.
“Pemkot Kediri mempunyai Perwali tentang program pemberian ASI ekslusif, Perwali tentang penyelenggaraan sanitasi, SK Walikota tentang pembentukan TIM, SK kepala OPD biasanya tentang SOP penanganan stunting,” jelasnya.
Aksi kelima, tim pendamping kelurahan, di mana Kota Kediri memiliki 663 TPK yang tersebar di 3 kecamatan yang terdiri dari tenaga kesehatan, kader KB dan Tim Penggerak PKK. "Hasil yang telah dicapai pada aksi kelima pendampingan pada 248 calon pengantin, 1.848 ibu hamil, 1.333 ibu nifas dan 2.713 baduta serta balita sampai dengan bulan Mei 2023,” ujarnya.
Pemkot Kediri juga memiliki sekolah orang tua hebat, mengingat stunting beberapa faktor yang mempengaruhi tidak hanya terkait dengan kemiskinan namun juga pola asuh, maka di Pemkot Kediri ada program Sekolah Orang Tuan Hebat (SOTH).
"Di awal tahun 2022 dengan 2 kelas hingga di tahun ini ada 22 kelas dan rencananya 2024 mendatang ada 69 kelas,” jelasnya.
Diungkapkan, Pemkot Kediri memiliki 470 kader kelurahan siaga di 46 Kelurahan se-Kota Kediri. Tugas kader ini untuk mempromosikan kesehatan masyarakat yang dihadapi di wilayahnya. Sedangkan untuk segmen remaja, telah memiliki 92 duta genre stunting, yang bertugas sebagai pendidik sebaya tentang edukasi gizi dan kesehatan reproduksi di tingkat kelurahan.
Sedangkan aksi keenam manajemen data Pemkot Kediri telah memiliki program Pemantauan Ekohort Ibu dan Anak serta siklus kehidupan realtime (PAPA ASIK) yang bisa di download melalui playstore atau diakses website.
“Dengan adanya aplikasi ini kondisi ibu hamil bisa terekam, apabila didalam rekaman ibu hamil beresiko rendah akan diberikan tablet penambah darah, multivitamin, asam folat dan lainnya," jelasnya.
Aksi ketujuh adalah pengukuran dan publikasi. Jika dilihat dari prevalensi stunting pada 2018 sampai 2023 sempat mengalami kenaikan di tahun 2020 dan 2021 karena kondisi Covid 19.
Namun mengalami penurunan secara signifikan di tahun 2022 dan menurun lagi di tahun 2023 hingga mencapai 6,96 persen. “Jumlah balita stunting juga mengalami penurunan, di tahun 2022 ada 941 balita dan di tahun 2023 turun menjadi 778 balita,” ujarnya.
Untuk aksi kedelapan adalah kinerja tahunan evaluasi anggaran penurunan stunting tahun 2023. Anggaran program penanganan stunting terbagi di program unggulan OPD dan Prodamas, di mana pada salah satu program unggulan Wal Kkota Kediri ini salah satu fokusnya adalah penanganan stunting. ****
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/8-cara-tekan-stunting-Kota-Kediri.jpg)