Berita Bangkalan
Sapi Bangkalan Diserbu Tengkulak Luar Kota, Peternak Lokal Malah Tidak Bisa Kendalikan Harga
deretan truk pengangkut sapi dari luar daerah seperti Tasikmalaya, Boyolali, Tangerang, serta Karawang berdatangan
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Memiliki kekayaan ternak sapi melimpah, para peternak di Bangkalan malah belum sepenuhnya menjadi pengendali harga.
Ini bisa terlihat jelas menjelang perayaan Idul Adha atau Lebaran Kurban, di mana para peternak sapi di Bangkalan malah tidak mampu mengontrol harga justru ketika banyak pedagang atau tengkulak dari luar daerah berdatangan.
Padahal Bangkalan menjadi salah satu kantong populasi sapi terbanyak keempat di Jawa Timur. Data populasi sapi di tahun 2022 yang dihimpun SURYA dari Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan di tahun 2022 sebanyak 235.001 ekor. Terdiri dari 105.753 ekor sapi jantan dan 129.248 ekor sapi betina.
Dengan populasi ternak sapi sebanyak itu, seharusnya para peternak bisa meraup rupiah sangat besar saat Idul Adha, karena dipastikan ada transaksi dengan nilai besar. Tetapi kenyataannya tidak.
Sampai pekan ini, deretan truk pengangkut sapi dari luar daerah seperti Tasikmalaya, Boyolali, Tangerang, serta Karawang berdatangan setiap kali pasaran. Pemandangan truk-truk dari luar daerah itu berlangsung beberapa hari setelah perayaan Hari Raya Idul Adha.
Kondisi itu membuat peluang para peternak sapi lokal menuai panen melimpah sedikit tersendat. Bahkan mereka tidak mampu mengontrol harga karena kalah dari segi permodalan dengan para pesaing dari luar daerah.
Hal itu diungkapkan pemilik AO Farm, Edy Hariyanto, warga Desa Pangpong, Kecamatan Labang, Minggu (25/6/2023). Kesannya, peternak lokal tidak bisa mendapat untung banyak dari harga ternak di momen Idul Adha harga dikendalikan pedagang dari luar daerah.
“Menjelang Lebaran Kurban, muncul pesaing-pesaing dari luar Madura. Mereka tidak sedikit mengambilnya, sekali pasaran. Seperti di Pasar Tanah Merah, satu orang atau kelompok saja bisa mengambil 150 ekor sapi,” ungkap pria yang biasa disapa Har kepada SURYA, Minggu (25/6/2023).
Sebagai salah satu kabupaten tujuan para pencari hewan kurban, lanjut Har, situasi menjelang Lebaran Kurban seharusnya bisa ditangkap oleh lintas sektoral sebagai sebuah peluang. Terutama bagi pembina yakni Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan.
“Satu orang pedagang atau belantik bisa menjual 150 ekor sapi per pasaran, kalau dua bulan artinya 10 pasaran. Berarti 1.500 ekor sapi per belantik per pasaran. Nah kalau ada 5 orang belantik? Berarti sapi yang keluar dari Bangkalan sekitar 5.000 ekor sejak dua bulan hingga jelang Idul Kurban ini,” papar Har.
Har berharap, keterlibatan lintas sektoral tidak hanya pada momen menjelang Lebaran Kurban semata. Para peternak sapi juga membutuhkan sentuhan permodalan dari pihak Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bangkalan, jaminan ketersediaan pakan dari Dinas Pertanian, hingga market atau pendistribusian dari Dinas Perdagangan.
“Kalau sudah terbangun sinergitas lintas sektoral dengan baik, Bangkalan bisa mengontrol fluktuatif harga sapi. Saat ini keran keluar sapi, orang luar (Bangkalan) yang mengatur. Kita tidak punya kontrol karena modal yang berkuasa,” tegas Har.
Sejauh ini, lanjut Har, sebagai kelompok mandiri peternak sapi pihaknya merindukan sentuhan keterlibatan pihak lintas sektoral. Selama ini kebutuhan pakan, pemasaran, hingga pembuatan kandang yang sehat banyak diperoleh dari YouTube.
“Kadang ada tamu dari Dinas Peternakan, tetapi kurang maksimal. Paling hanya pembinaan dan sosialisasi tentang penyakit, itu pun bukan ke peternak langsung melainkan ke sasaran kelompok orbitan dari dinas sendiri,” pungkasnya. ******
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/bangkalan-sentra-keempat-sapi-jatim.jpg)