Minggu, 19 April 2026

Berita Surabaya

Sosok Terduga Teroris di Surabaya yang Ditangkap Densus 88, Ternyata Penjual Teh dan Obat Herbal

Densus 88 Mabes Polri menangkap seorang terduga teroris berinisial ABU (52) yang bermukim di Jalan Kalimas Madya Surabaya

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: irwan sy
Istimewa
Densus 88 Antiteror Mabes Polri saat melakukan pengamanan depan rumah ABU, selama proses penggeledahan dan penyitaan pada Jumat (2/6/2023). 

SURYA.co.id, SURABAYA - Densus 88 Mabes Polri menangkap seorang terduga teroris berinisial ABU (52) yang bermukim di Jalan Kalimas Madya Surabaya, Jumat (3/5/2023) kemarin. 

Penangkapan terhadap ABU dilakukan oleh anggota kepolisian tepat di depan gang utama permukiman rumahnya. 

Setelah ABU diamankan, anggota kepolisian berjumlah lebih 25 orang melakukan penggeledahan dan penyitaan di dalam rumah ABU. 

Kakak kedua ABU, Said Umar (58) mengatakan, adiknya itu ditangkap anggota kepolisian saat hendak mengantar pakaian untuk anak ABU yang sedang bersekolah di salah satu SD swasta di kawasan Jalan Benteng, Ujung, Semampir, Surabaya.  

ABU ditangkap saat berada di atas bonceng ojol yang dipesan oleh sang adik dari depan rumah dan disergap saat melintas keluar dari gapura depan gang permukiman rumahnya, berjarak kurang dari 50 meter, Sekitar pukul 08.30 WIB, Jumat (2/6/2023). 

"Dia mau ke pondok anaknya. Tapi kok gak balik," ujar Said saat ditemui awak media di kediamannya, Sabtu (3/6/2023) malam. 

Anggota kepolisian melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti buku sejumlah 43 buku dan sebuah alat panah beserta busurnya, dari dua kamar dan dua lemari di dalam rumah. 

Mengenai buku-buku yang disita, Said Umar tidak mengetahui, alasan anggota kepolisian menyita benda-benda berbentuk buku dan beberapa lembar dokumen.

Padahal, beberapa buku yang di sita itu, ada juga milik pribadinya, bukan milik sang adik. 

"Ada buku dia, ada buku saya. Iya kitab kitab, ada lembaran lembaran kertas apa enggak tahu. Saya lihat 5 biji, saya enggak tahu," jelasnya. 

Kemudian, mengenai busur dan anak panahnya yang disita itu.

Said Umar menegaskan, benda itu bukan senjata milik adiknya, melainkan alat olahraga di sekolah dari anak ABU atau keponakannya, yang memang sudah lama tidak terpakai. 

"Panah itu, punya anaknya sekolah di AR (inisial sekolah). Disuruh gurunya. Ada (panah) yang plastik, tapi gak dibawa. Iya alat olahraga di sekolahan. Sudah enggak dipakai sejak lama. Ya 1 set itu," katanya. 

Said Umar tak menampik bahwa adiknya itu ditangkap atas kasus dugaan tindakan terorisme. 

Meskipun sejatinya, dirinya dan anggota keluarga yang lain juga tidak terlalu mengetahui detail aktivitas dari sang adik hingga akhirnya berujung berurusan dengan pihak berwajib. 

"Enggak. Ada yang tanya, dari wakil RT. Teroris, katanya. Saya juga bingung. Orangnya (adik saya) juga gak kemana-mana kok. Kita enggak tahu. Tahun kemarin juga begitu (kasus tahun 2006 yang menimpa adiknya). Aneh gitu lho," jelasnya. 

Namun, disinggung mengenai langkah hukum yang dilakukan oleh pihak keluarga atas kasus hukum yang menimpa ABU, dirinya memilih pasrah dan berserah diri kepada Tuhan. 

"Gak ada. Kita kehabisan uang. Saya cuma mau ngomong sama Allah. Mudah-mudahan dihancurkan yang menyuruh. Anaknya turunannya. Kalau sudah dihancurkan, mudah-mudahan gila," jelasnya. 

Kasus hukum atas dugaan tindak pidana terorisme kali ini, menurut Said Umar, merupakan kasus kedua yang menyeret adiknya, ABU. 

Sekitar 17 tahun lalu, tepatnya tahun 2006 silam, adiknya itu pernah ditangkap atas dugaan keterlibatan aksi terorisme. 

"Dibilang bebas, dimasukno di malang. Enggak tahu menjalani apa. Tapi sudah bebas masih diawasi. Dibilang kasus sama," terangnya. 

Said Umar tidak mengetahui pasti aktivitas apa yang dilakukan sang adik hingga akhirnya terseret kasus hukum dugaan tindak pidana terorisme sebanyak dua kali. 

Setahu dia, sang adiknya memiliki aktivitas berkumpul dan mengaji secara berkala, bertempat di sebuah masjid yang berada dalam kawasan Sidotopo, Kenjeran, Surabaya

Terkadang aktivitas berkumpul dan mengajinya itu berlangsung di luar Kota Surabaya.

Said Umar juga tidak tahu, ke mana saja tujuan dan lokasi pengajian yang dilakukan sang adik dan kawan-kawannya. 

"Dia memang ngaji. Kadang di Sidotopo (masjid). Kadang-kadang di luar kota. Tapi enggak ngerti. Luar kotanya kita enggak pernah tanya. Enggak tahu," katanya. 

Mengenai profesi dan penghasilan sang adik hingga bisa menghidupi istri dan kelima anaknya. 

Said Umar mengatakan, adiknya itu diketahui meracik teh herbal yang dijual di beberapa toko yang bersedia menjual produk buatannya.

Kemudian, ada juga produk obat-obatan herbal berbahan minyak zaitun. 

Bahkan, kepiawaian meracik obat-obatan herbal itu, membuat sang adik sempat membuat produk cuka berbahan buah yang berkhasiat meningkatkan imunitas tubuh selama pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. 

Produk herbal cuka buah buatan adiknya itu, ungkap Said Umar, malah dibagi-bagikan gratis pada para tetangga yang sakit ataupun kondisi imunitasnya menurun, pada kondisi pandemi itu. 

"Bikin teh herbal, dikirim. Sama ngajar. Iya teh herbal. Kadang kapsul. Minyak zaitun dicampur apa gitu. Sama jualan cuka. Kalau cuka buah itu, cuma cuma. Waktu covid dikasih ke orang cuma cuma. Iya, kalau ada yang sakit, sembuh," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved