KKB Papua

Kesabaran KKB Papua Penyandera Pilot Susi Air Hampir Habis, Ini Reaksi Panglima TNI: Masih Berusaha

Kesabaran KKB Papua penyandera pilot Susi Air sudah hampir habis. Mereka mengancam akan menembak sang pilot. Apa reaksi Panglima TNI?

kolase Dispenal dan Facebook
Panglima TNI Laksamana Yudo Margono (kiri), KKB Papua (kanan). Kesabaran KKB Papua penyandera pilot Susi Air sudah hampir habis. Mereka mengancam akan menembak sang pilot. 

SURYA.co.id - Kesabaran KKB Papua penyandera pilot Susi Air, Philips Mark Methrtens, sudah hampir habis.

Mereka mengancam akan menembak pilot Susi Air itu jika pemerintah Indonesia tak mengindahkan tuntutannya.

KKB Papua memberi waktu dua bulan untuk segera berunding tentang Papua Merdeka.

Terkait hal ini, Panglima TNI Laksamana Yudo Margono mengatakan bahwa jajarannya masih berupaya membebaskan pilot Susi Air tanpa menimbulkan korban jiwa.

Hal itu diungkapkan Yudo Margono menjawab pertanyan awak media usai mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Polhukam di East Java Ballroom Westin Hotel, Jakarta Selatan, Senin (29/5/2023).

“TNI masih berusaha membebaskan pilot dengan tidak menimbulkan korban jiwa, baik dari masyarakat atau anggota TNI sendiri,” kata Yudo Margono dalam siaran pers Puspen TNI, dikutip pada Selasa (30/5/2023), melansir dari Kompas.com.

“Semoga TNI dapat menyelamatkan pilot dengan selamat tanpa adanya korban jiwa,” ujarnya lagi.

Sebelumnya, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) menyebarkan video yang memperlihatkan pilot Philips dikelilingi oleh sejumlah orang bersenjata laras panjang diduga anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya.

Baca juga: Mengapa TNI-Polri Tak Serang KKB Papua Untuk Bebaskan Pilot Susi Air? Ini Penjelasan Wapres

Dalam video itu, Philips diancam akan ditembak oleh KKB jika Indonesia tidak kunjung berunding soal Papua merdeka.

“Kalau sudah dua bulan dan mereka tidak bicara Papua, mereka akan tembak saya,” kata Philips dalam video itu.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, juga memberikan responnya.

Melansir Tribunnews, Mahfud MD mengatakan pemerintah akan menyelamatkan pilot Susi Air yang menjadi korban sandera, meski tidak memberikan penjelasan lengkap pada publik.

Hal tersebut disampaikannya usai acara Rapat Koordinasi Sinergisitas Pemerintah Dalam Menjaga Stabilitas Politik dan Keamanan untuk Menyukseskan Pemilu 2024 di Kuningan Jakarta pada Senin (29/5/2023).

"Kalau ancaman dibunuh kan sudah sering, tetapi prinsip kita, kita akan menyelamatkan nyawa sandera. Itu saja," kata Mahfud.

Ketika ditanya lebih lanjut terkait tenggat ancaman tersebut, Mahfud mengatakan tidak semua harus dibicarakan ke publik.

"Ya nanti aja lihat perkembangannya, menghadapi yang gitu kan tidak harus semua dibicarakan ke publik," kata dia.

Penjelasan Wapres soal Penyerangan pada KKB Papua

Upaya pembebasan pilot Susi Air dari genggaman KKB Papua yang tak kunjung berhasil memang membuat masyarakat resah.

Padahal, TNI-Polri bisa dengan mudah memberangus KKB Papua dengan pasukan dan alutsistanya.

Lantas, mengapa TNI-Polri tak menyerang KKB Papua saja untuk membebaskan pilot tersebut?

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin ada korban yang jatuh dalam upaya membebaskan pilot Susi Air, Philip Mark Merthens yang disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

Hal ini ia sampaikan saat ditanya mengenai kendala yang dihadapi untuk membebaskan Philip yang sudah disandera selama lebih dari tiga bulan.

"Operasi yang dilakukan tentu kita harus memperhitungkan jangan sampai terjadi korban.

Bagaimana pilotnya selamat tapi tidak (ada korban)," kata Ma'ruf, melansir dari Kompas.com, Minggu (28/5/2023).

Pilot Susi Air yang Disandera KKB Papua (kiri). KKB Ngotot Permintaannya Dipenuhi.
Pilot Susi Air yang Disandera KKB Papua (kiri). KKB Ngotot Permintaannya Dipenuhi. (Tribun Papua/Istimewa)

Oleh karena itu, menurut Ma'ruf, pemerintah tidak mungkin menggelar operasi pembebasan yang sifatnya membumihanguskan atau menghabisi pihak KKB karena dapat menimbulkan korban.

"Kalau seperti itu kan mudah saja, tetapi bagaimana operasi itu dilakukan selamat, bisa diselamatkan tapi tidak menimbulkan banyak korban," kata dia.

Ma'ruf pun mengakui bahwa upaya pembebasan dengan pendekatan seperti itu memerlukan waktu yang lebih lama.

Pemerintah turut melibatkan tokoh-tokoh gereja maupun masyarakat lokal untuk membebaskan Philip dari KKB.

"Kita sudah berkomunikasi dengan pihak gereja dan termasuk tokoh-tokoh adat, local champion, kita libatkan dalam operasi di Papua," ujar dia.

>>>Ikuti Berita Lainnya di News Google SURYA.co.id 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved