Rezeki Tak Terduga, Anak Petani Ditolak PTN Tapi Diterima di 13 Kampus Top Dunia, Ini Kisahnya
Rezeki tak terduga datangnya, Anak Petani Ditolak PTN Tapi Diterima di 13 Kampus Top Dunia. Berikut Kisahnya.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Musahadah
SURYA.co.id - Rezeki tak terduga datangnya, itulah kalimat yang tepat menggambarkan apa dialami pemuda bernama Khaidar Khamzah.
Khaidar Khamzah merupakan salah satu siswa yang cukup berprestasi di Indonesia.
Namun, nasibnya tak mujur saat mendaftar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Meski ditolak di kampus dalam negeri, Khaidar tak menyerah dan mencoba daftar di kampus luar negeri.
Hasilnya di luar dugaan, Khaidar diterima di 13 kampus top dunia.
Khaidar adalah anak seorang petani asal desa Jatimakmur, Brebes, Jawa Tengah.
Ia menceritakan kisahnya saat hadir dalam acara FYP di Trans7.
"Iya mungkin qadarullah bukan rezeki saya ya untuk melanjutkan di dalam negeri, karena memang sebelumnya ketika saya kelas 11, saya telah mengikuti program persiapan dari kemendikbud untuk melakukan study approach.
Jadi pada saat itu, kita tetap diberi kesempatan untuk mendaftar di dalam negeri, namun qadarullah saya enggak lolos," kata Khaidar.
Khaidar memutuskan untuk masuk di University of Toronto dengan program beasiswa.
Ia mengambil jurusan ekonomi di universitas top tersebut.
"Saat ini saya telah diterima di University of Toronto untuk program beasiswa Indonesia Maju karena setelah saya compare dari universitas yang menerima saya, rangking tertinggi ada di University of Toronto untuk program ekonomi," ungkapnya.
Meski berkuliah di luar negeri, tapi Khaidar berkeinginan untuk memajukan Indonesia.
Ia bercita-cita menjadi ekonom agar bisa ikut serta dalam membangun perekonomian negara kelak.
"Cita-citanya saya sendiri pengin jadi ekonom di Indonesia, saya ingin berkontribusi untuk pembangunan ekonomi di Indonesia," ujar Khaidar.
Khaidar sudah menorehkan prestasi, baik di Tanah Air ataupun kancah internasional.
Sederet kompetisi pernah dijuarainya.
"Kebetulan saya juga siswa yang cukup aktif di sekolah, jadi saya sering mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi di tingkat regional, nasional, atau internasional," katanya.
"Untuk kompetisi yang pertama alhamdulillah saya dapat medali emas pada kejuaraan robotic tingkat nasional, pada saat itu saya buat robot mobile yang diprogram. Terus dilanjutkan ke tingkat Asia Tenggara, waktu itu di Singapura, namun karena COVID-19 dilaksanakan secara virtual, tapi alhamdulillah saya mendapatkan medali perunggu. Terus terakhir dari tingkat internasional di Korea Selatan, alhamdulillah saya dapat medali perunggu untuk kategori kreatif." ujar Khaidar.
Anak Penjual Nasi Jagung Asal Blora Tembus 5 Kampus di Luar Negeri
Kisah hampir serupa juga dialami Zakia Azzahra, anak penjual nasi jagung asal Blora menembus 5 kampus di luar negeri.
Meski hidup serba sederhana, Zakia membuktikan bahwa tekadnya untuk sekolah di luar negeri bisa terwujud.
Gadis asal Desa Ngapus, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora itu mengusahakannya dengan berbagai cara.
Menurut Susanti, ibunda Zakia, keinginan putrinya untuk kuliah di luar negeri telah muncul sejak duduk di Kelas X SMAN 1 Tunjungan.
Anak pertama dari 3 bersaudara itu lalu mencari berbagai cara agar bisa mewujudkan salah satu impiannya itu.
Baru lah pada saat sudah kelas XI, dia berhasil mendapatkan Beasiswa Indonesia Maju persiapan S1 luar negeri angkatan 2 reguler.
"Saya mendapatkan informasi di Pusprenas bahwa dibuka beasiswa untuk kuliah S1 di luar negeri.
Alhamdulillah lolos Beasiswa Indonesia Maju dan bisa mempersiapkan diri untuk daftar kampus luar negeri," ungkap siswi SMAN 1 Tunjungan itu, Senin (1/5/2023).
Seperti dilansir dari Tribun Jateng dalam artikel 'Sosok Zakia Anak Penjual Nasi Jagung Asal Blora Berhasil Diterima 5 Kampus di Luar Negeri'.
Usaha untuk mendapatkan beasiswa itu tak mudah.
Dia harus menyiapkan segala berkas pendaftaran yang dibutuhkan, hingga membuat tiga esai tentang passion, pengalaman, dan kontribusi untuk Indonesia.
"Paling challenging ya bikin tiga esai berbahasa Inggris itu," ungkapnya.
Zakia mengaku bersyukur atas beasiswa yang diraih untuk persiapan kuliah di luar negeri itu.
Sebab penerima beasiswa mendapatkan berbagai fasilitas untuk melancarkan usaha dalam menuju kuliah di luar negeri.
Seperti kursus IELTS untuk kebahasaan, talent camp, college counseling, biaya aplikasi ke kampus dan penerjemahan dokumen, hingga projek sosial.
Usahanya dalam mengejar impiannya pun sudah menunjukkan hasilnya.
Setidaknya lima dari sepuluh kampus di luar negeri telah memutuskan untuk menerimanya.
Seperti University of Brithis Columbia jurusan sains terapan, fisika dan ilmu lingkungan di Universitas Toronto, Teknik Pertambangan di Universitas Curtin, lalu University of Western Australia jurusan teknik tambang, serta di universitas Melbourne.
"Saya memilih di jurusan applied science di University of Brithis Columbia. Sedangkan kampus lain sebagai cadangan," terangnya.
"Saya merasa butuh dan pengen menggali ilmu dan pengalaman terutama terkait mining, oil, and gas untuk kemudian diinovasikan supaya bisa berkontribusi untuk Indonesia," pungkasnya.
>>>Ikuti Berita Lainnya di News Google SURYA.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Rezeki-Tak-Terduga-Anak-Petani-Ditolak-PTN-Tapi-Diterima-di-13-Kampus-Top-Dunia-Ini-Kisahnya.jpg)