Berita Tulungagung

Bangkit Setelah Di-PHK, Kegigihan Darwati Harumkan Keripik Jamur Tulungagung Sampai ke Hongkong

Ibu yang ramah ini juga dikenal tidak pelit ilmu. Ia kerap mengajari orang lain yang ingin belajar membuat keripik jamur

Penulis: David Yohanes | Editor: Deddy Humana
surya/david yohanes
Proses penggorengan keripik jamur Darra Mas buatan Darwati, warga Desa Bendiljati Wetan, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung. 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Darwati (34) sempat mengalami pahitnya menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebuah pabrik rokok pada tahun 2017 lalu. Ia menangis karena banyak mengalami penolakan saat mencoba merintis usaha telur asin.

Namun warga Dusun Demangan, Desa Bendiljati Wetan, Kecamatan Sumbergempol ini bangkit dan menjadi pengusaha keripik jamur yang penjualannya sampai ke Hongkong.

Istri dari Mas Yudi (47) ini berkisah, merintis usaha telur asing menjadi pilihannya setelah kena PHK. Di awal merintis 'karier' barunya, Darwati merasakan pahitnya ditolak toko-toko yang akan dititipi dagangannya. Dari 10 toko yang didatangi, hanya satu yang menerima telur asin titipannya.

“Saat itu di jalan saya sampai menangis. Ternyata cari uang sendiri itu susah, beda saat bekerja pabrik, tinggal checklock sudah bayaran,” ucapnya.

Meski mendapat penolakan, ibu dua anak ini gigih membuka pasar untuk produknya. Ia bahkan nekat masuk ke kafe yang penuh dengan kaum adam. Darwati merasakan getirnya digoda oleh para pria iseng.

Berkat perjuangan gigihnya, ia berhasil membuka pasar untuk telur asin produknya. Namun lagi-lagi ada kendala, karena masa jual telur asin yang pendek. Lebih dari seminggu, telur asin harus dikembalikan. “Dari situ saya berpikir untuk membuat produk yang bisa tahan lama. Jadi tidak repot harus retur setiap minggu,” ucap Darwati.

Darwati lalu belajar membuat keripik dari temannya di tahun 2019. Dari aneka keripik yang diajarkan, ia memilih membuat keripik jamur. Lagi-lagi produk itu dititipkan ke banyak toko seperti saat merintis telur asin.

Namun kali ini jaringannya sudah luas sehingga ia mudah menitipkan produk. Usahanya terus berkembang dengan melayani banyak pesanan. Satu tahun berselang Darwati sudah tidak lagi menitipkan produk ke toko-toko.

“Hanya setahun, semua produksi fokus untuk melayani pesanan. Tidak ada lagi produk tersisa yang bisa dititipkan ke toko-toko,” kenangnya.

Saat upaya perintisan usaha ini, sang suami masih bekerja di Batam. Pada tahun 2021 Darwati meminta suaminya keluar dari pekerjaan dan fokus membuat usaha keripik jamur. Di sela pembatasan mobilitas warga karena pandemi Covid-19, Yudi baru kembali ke Tulungagung.

Yudi lalu membuat kumbung atau rumah jamur, untuk memasok bahan baku keripik yang diproduksi Darwati. Awal produksi Yudi juga menjual jamur tiram dari kumbung miliknya. Sisa panen baru dipakai untuk bahan baku keripik. “Saat itu mulai bangkit, karena kami menjual jamur tiram segar. Lalu produksi keripik jamur juga lebih lancar lagi,” ungkapnya.

Seiring perkembangan waktu, keripik jamur buatan Darwati diminati secara luas. Rumah jamur milik suaminya sudah tak sanggup lagi memasok bahan baku. Ia harus mencari bahan baku untuk memasok kekurangan bahan baku.

Bahkan saat ini Darwati harus mendatangkan jamur dari Malang untuk memasok bahan baku. Alasannya, produksi jamur di lokal Tulungagung tidak mencukupi. Dalam situasi normal, Darwati harus memproduksi 10 KG keripik jamur tiram.

Sementara untuk bahan baku diperlukan hampir 20 KG jamur segar per hari. Sedangkan memasuki hari pertama Ramadhan, permintaan keripik jamur mencapai 30-50 KG per hari. Karena itu diperlukan 60-100 KG jamur segar per hari.

Halaman
12
Sumber: Surya
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved