Doa I'tidal dalam Sholat Lengkap Arab, Latin dan Terjemahan
Berikut bacaan Doa I'tidal dalam Sholat lengkap dengan tulisan Arab, latin dan terjemahan.
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.CO.ID - Berikut bacaan Doa I'tidal dalam Sholat.
Dikutip dari Seri Fiqih Kehidupan 3: Shalat, I'tidal adalah rukun sholat yang harus dikerjakan menurut jumhur ulama.
Doa I'tidal dibaca setelah gerakan bangun dari rukuk sambil mengangkat kedua tangan, sehingga tubuh kembali tegak.
Pada saat gerakan bangun dari rukuk tersebut membaca:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Sami Allahu liman hamidah.
Artinya: "Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya."
Sesuai sunnah, baru setelah berdiri tegak dalam keadaan diam dan tenang membaca Doa I'tidal sebagai berikut:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
Rabbana lakal-hamdu mil'us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil'u maa syi'ta min sya'in ba'du.
Artinya: "Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sesudah itu."
Adapun dasarnya adalah beberapa hadist berikut:
Dari Abu Hurairah bahwasa Nabi SAW mengucapkan Sami' allahu Liman Hamidahu (Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya) ketika mengangkat punggungnya dari ruku'. Kemudian ketika berdiri, beliau membaca :
ربنا ولك الحمدُ
Wahai Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian." (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)
Dan kalau mungkin, disunnahkan ditambah dengan bacaan-bacaan yang antara lain ditunjukkan dalam hadits berikut:
Dari Ubaid bin al-Hasan dari Abu Aufa, ia berkata bahwa Rasulullah SAW ketika mengangkat kepalanya dari ruku mengucapkan, sami' allahu liman hamidah:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ
شَيْءٍ بَعْدُ
Ya Allah ya Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu." (Musnad al-Mustkhraj 'ala shahih Muslim)
Syarat I'tidal
Terdapat beberapa syarat I'tidal, di antaranya:
1. Bangun dari ruku’ tidak dimaksudkan untuk tujuan lain selain i’tidal itu sendiri.
2. tuma’ninah. Pada saat melakukan i’tidal harus dibarengi dengan tuma’ninah posisi tubuh tegak berdiri dalam keadaan diam dan tenang minimal selama bacaan kalimat tasbih subhânallâh.
3. Gerakan i’tidal tidak dilakukan dengan berdiri dalam waktu yang lama melebihi lamanya berdiri pada saat membaca surat Al-Fatihah. Karena i’tidal merupakan rukun yang pendek maka tidak boleh memanjangkannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/ilustrasi-gerakan-sholat-itidal.jpg)