Rabu, 3 Juni 2026

Pemilu 2024

Wawancara Eksklusif Cak Masteng, Ketua DPD Partai Hanura Jatim

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hanura Jawa Timur menargetkan bisa mengangkat perolehan kursi di Pemilu 2024.

Tayang:
Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Rahadian Bagus
TribunJatim Network
Ketua DPD Partai Hanura Jatim Yunianto Wahyudi 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hanura Jawa Timur menargetkan bisa mengangkat perolehan kursi di Pemilu 2024. Hanura menyadari, penurunan kursi dalam beberapa kontestasi terakhir membuat persiapan harus dilakukan secara matang.

Ketua DPD Partai Hanura Jatim Yunianto Wahyudi menjelaskan, pihaknya sudah melakukan mapping atau pemetaan terkait persebaran suara di kantong-kantong strategis. Acuannya adalah data hasil Pemilu 2009 hingga 2019.

"Roadmapnya sudah kita susun. Kita akan buat bahan agar, target kita hari ini 5 kursi di provinsi. Optimisnya satu fraksi 7 kursi," kata politisi yang akrab disapa Cak Masteng dalam serial podcast di TribunJatim network, Rabu (8/3/2023).

Podcast yang membahas persiapan Partai Hanura Jatim sebagai peserta Pemilu dipandu oleh Manajer Editor TribunJatim Network, Mujib Anwar. Dalam penjelasannya, Masteng mengungkapkan target 5 kursi untuk DPRD Jatim. Target itu meningkat 400 persen.

Sebab, hasil Pemilu 2019 Hanura hanya memiliki satu kursi di DPRD Jatim. Selain menyiapkan strategi, Masteng juga mengungkap bagaimana cara jitu yang dilakukan untuk menggaet pemilih pemula. Sebagaimana diketahui, pemilih pemula diprediksi mendominasi pada Pemilu 2024.

Simak selengkapnya dalam petikan wawancara berikut ;

- Belakangan ini ramai soal penundaan Pemilu setelah adanya putusan PN Jakarta Pusat terkait gugatan Partai Prima. Anda melihat putusan itu bagaimana?

+ Terkait dengan putusan pengadilan negeri itu, kami kemarin melakukan Rakornas di Bandung, yang dibahas salah satunya adalah putusan tersebut. Kami ini kan sudah ditetapkan sebagai salah satu peserta Pemilu, tentu kami berharap Pemilu dilaksanakan sesuai jadwal. Apalagi teman-teman KPU di seluruh tingkatan juga menyiapkan segala hal tahapannya termasuk juga dalam bentuk Pantarlih. 

Nah, saya melihat bahwa putusan pengadilan negeri itu melampuai kewenangannya. Karena kaitan dengan Pemilu, kalau tahapannya sebagai peserta Pemilu maka ranahnya bukan di Pengadilan Negeri. Harusnya kan, kalau putusan KPU itu kan Bawaslu di tahap awal. Dan itu sudah ditolak oleh Bawaslu. Lepas bahwa itu ada dinamika, kami komunikasi dengan KPU dan berharap mereka banding. Meskipun itu melebihi kewenangannya, tapi kan ada hak KPU yang harusnya dia banding. 

Sampai hari ini kita konfirmasi teman KPU, mereka sampai hari ini belum menerima putusan. Sebagai pihak yang digugat. Sehingga KPU tidak bisa melakukan banding kalau dasar putusan itu belum diterima. Meskipun sudah diekspose semua. Tapi seharusnya tetap, hitam putihnya itu resmi dari PN dikirim ke KPU. Kemudian dibuat banding oleh KPU. Saya berharap secepatnya kalau ada dokumennya dan dikirim KPU maka, KPU harus lanjut. Karena kami sebagai peserta Pemilu, tahapan itu harus berjalan normal. 

Saya yakin 18 partai politik yang menjadi peserta Pemilu tetap berharap sesuai tahapan. Tidak mungkin ada yang pengen menunda. Bahkan Presiden kan sudah menyampaikan harus sesuai dengan tahapan. 

- Kalau persiapan Hanura Jatim untuk menyambut Pemilu mendatang bagaimana?

+ Kami mulai tahapannya adalah dengan cek lagi, Hanura itu sebagai peserta Pemilu itu kan mulai 2009. Pada tahun 2009, Jawa Timur untuk DPR RI kan ngirim 2 kursi. Untuk provinsi kita punya 4 kursi. Kemudian 2014 turun menjadi 2 di provinsi. Kemudian 2019 tinggal 1. Langkah pertama yang sudah kita lakukan dengan teman-teman Badan Pemenangan Pemilu kita cek lagi hasil 2009. Bahkan kita sudah dapatkan data, kita sudah petakan. Pada tahun 2009, 2014 dan 2019 itu di TPS mana Hanura itu ada. Di desa mana Hanura ada, di kecamatan mana. 

Nah, pergeserannya dari TPS mana yang kemudian hilang di 2014, yang hilang di 2019 itu kita sudah punya data. Roadmapnya sudah kita susun. Kita akan buat bahan agar, target kita hari ini 5 kursi di provinsi. Optimisnya satu fraksi 7 kursi. Kalau dilihat dari analisa, rasionalnya di angka 5. Dari proses itu sehingga mungkin salah satu yang sudah kita lakukan. Karena ada satu TPS di Situbondo itu tidak ada calegnya, di desa dan kecamatan itu, tapi dari 2009, 2014, 2019 itu Hanura 10 suara di TPS itu. Padahal tidak ada calegnya disitu. 

Makanya ini kita lacak ulang. Itu salah satu yang kita lakukan adalah mapping. Itu menjadi modal dasar kami. Kalau strategi lainnya kita manfaatkan media sosial, karena apapun Pemilu 2024 kan beda. Tentu kaum millenial dan yang melek medsos sangat tinggi. Kami mungkin akan melakukan gebrakan itu di April atau Mei mendekati proses DCS. Jadi kami sekarang sedang proses memantapkan di proses pencalegan. 

- Apakah ada evaluasi terkait penurunan kursi Hanura di DPRD Jatim, apakah juga karena ada konflik di tingkat pusat?

+ Satu, karena konflik berkepanjangan itu. Karena kemudian terjadi proses, ada caleg sudah daftar tapi karena melihat ada konflik kemudian jadi mundur. Itu kan mempengaruhi. Kedua, kesinambungan tandem. Jadi caleg DPRD Kabupaten/kota, dengan provinsi dan DPR RI itu yang kemarin hilang. Makanya, kalau total akumulasi di DPRD kabupaten/kota di Jawa Timur itu 46 kursi. Kemudian provinsi 1 kursi, ini kan gak masuk akal. 

Kami ibaratkan seperti Nganjuk. Dapil Nganjuk, Madiun. Nganjuk itu kami dapat 6. Kemudian Kabupaten Madiun kami dapat 2. Kemudian Kota Madiun dari 1 hilang. Dalam logika saya, harusnya kalau dengan 6 ditambah 2 jadi 8, itu kan pijakan dasarnya ada. Harusnya provinsi kan ada. Tapi ternyata tidak ada. Itu sudah kita evaluasi. 

Kemudian di Dapil Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Ngawi dan Magetan. Ini semuanya dapat kursi. Trenggalek 2, Pacitan 3, Ponorogo, Magetan sama Ngawi itu masing-masing dapat 1 kursi. Dari 12 kursi yang diperebutkan, harusnya kan dapat kursi. Itu karena tidak ada proses kesinambungan antar caleg provinsi dan kabupaten/kota. Jadi jalan sendiri-sendiri. 

- Apa yang sudah dilakukan Hanura agar hal itu tidak terjadi lagi?

+ Jadi yang sudah kami lakukan, kami kalau setiap keliling tidak memposisikan sebagai atasan. Jadi, kalau kami keliling ke kabupaten/kota kami memposisikan sebagai kawan dan sebagai sahabat. Bahwa saya Ketua DPD memang iya. Tapi bukan kemudian seperti pejabat yang harus disambut mewah. 

Saya lebih suka dateng ke rumah Ketua DPC, datang ke rumah anggota DPRD. Terus yang kedua, saya di awal ketika rapat DPD sudah kita sampaikan. Bahwa ada 43 pengurus DPD Jawa Timur. Sejak awal saya sampaikan segera memilih dapil. Ini padahal belum berbicara Pemilu. Biasanya ngambil dapil itu kan karena daerah asalnya, domisilinya. Itu sudah saya ajak sejak awal. 

Jadi, saya ajak dan saya kenalkan dengan DPC dan saya kenalkan dengan anggota DPRD. Dan saya kenalkan dengan jaringan saya. Jadi temen-temen HMI, Kahmi, Ansor, Banser, NU saya ajak ngopi. Saya kenalkan bahwa nanti akan maju di 2024. Karena anggota dewan kami yang 46 itu kadang-kadang ada yang tidak pede. Jadi untuk ketemu dengan Ormas Ansor, Banser, Kahmi itu tidak pede. Jadi dia hanya dengan komunitasnya. Padahal sebagai wakil rakyat tentu sudah harus ngayomi. Tugas menyambungkan itu. Alhamdulillah hari ini berjalan dengan lancar. 

- Banyak parpol memakai strategi memasang tokoh, publik figur untuk dicalegkan. Bagaimana dengan Hanura Jatim untuk meraih sejumlah target?

+ Kalau di tingkat kabupaten/kota, temen-temen banyak yang membuat jejaring dengan mantan-mantan kepala desa. Baik kades satu periode maupun dua periode. Ada yang masih aktif tapi kemudian mencalonkan anak atau istrinya. Itu kan tokoh lokal. Yang kedua, hari ini temen-temen di kabupaten/kota sudah mapping para youtuber di daerah. Ada yang sudah tertarik menjadi caleg tapi minta belum diekspose dulu hari ini. Contoh di Ponorogo, Trenggalek dan Pacitan ada yang setiap bulan para youtuber itu sudah dapat penghasilan besar dari youtube. 

Itu yang kemudian dari proses diskusinya, memang ada yang takut viewernya turun kalau jadi caleg. Tapi dia ini kan punya teman dan keluarga. Saya bilang itu, sehingga nanti justru akan semakin besar viewernya. Tugas dia kan mempromosikan temannya. Kalau ditingkat provinsi, Insyaallah april atau Mei kita akan rilis beberapa misalnya ada duta wisata, anak milenial yang sudah bergabung meskipun belum mau menjadi caleg. Tapi siap jadi jurkam. 

Hari ini yang banyak orang pahami, politik dianggap mahal. Jadi kalau orang mau jadi caleg, jadi anggota partai, kan dihitung waktunya jadi sempit, musuhnya semakin banyak. Akhirnya mereka kan takut. Kami pelan-pelan melakukan edukasi soal itu. Insyaallah Maret/April ini kita akan rilis temen-temen tokoh yang masuk di Hanura Jatim

- Pemilu 2024, diprediksi pemilih millenial dan pemilih pemula akan mendominasi dan cara pendekatannya kan pasti berbeda. Bagaimana strategi Hanura Jatim?

+ Kami sudah melakukan beberapa. Termasuk kami dengan pengurus DPD itu harus mengikuti keinginan kelompok millenial. Misalnya, kelompok millenial suka ngopi di Taman Bungkul. Mereka hidupnya kan berkelompok. Tentu kalau kami langsung mengenalkan diri sebagai partai, pasti daya tolaknya tinggi. Makanya kemudian kita ikut kegiatan mereka. Termasuk komunitas motor, komunitas gamers. Jadi saya juga harus belajar, gamers ternyata asyik juga. Kami menyelami itu, apa sih keinginan dia. Apa sih harapan dia. 

Ketika awal kami masuk itu memang yang tadi saya sampaikan itu, bahwa menjadi politisi itu banyak musuh, menjadi anggota dewan butuh logistik yang besar. Diawal sudah saya sampaikan tidak harus begitu. Kalau kemudian kita kembalikan lagi kepada ruhnya menjadi anggota dewan. Memberikan manfaat kepada masyarakat, bakti kepada negara dan terhadap daerah. Kebanggaan kepada orang tua dan keluarga. 

Nanti kita dijebak korupsi, itu memang menjadi ketakutan dia. Saya bilang diluar itu coba dipelototi. Karena jangan hanya anggota dewan yang sering di media. Anggota dewan yang tidak pernah muncul justru baik-baik saja. Program di masyarakat lancar. Keluarganya sakinah mawaddah warahmah kan begitu. Opininya kan politisi selingkuh. Itu yang kemudian kita selami di masing-masing temen muda itu baik yang sudah berkeluarga ataupun yang belum untuk menjadi satu kesatuan. Hatinya bareng. Karena pertama kami harus tahu dulu. Dalam proses perjalanan itu akhirnya ketemu. 

Terakhir saya sampaikan ke beliau-beliau itu. Sampean kan tokoh semua, diantara tokoh ini kan tentu ada yang ditokohkan. Nah kalau sampean sepakat ya sokong mereka. Kalau dalam satu periode perjalanan tidak memberi manfaat kepada sampean, habisi ditengah jalan. Karena harus dilakukan reward and punishment. Saya sampaikan itu bisa. 

Kalau punya catatan negatif dalam perjalanan dia menerima amanah, bisa dipecat atau di-PAW dan lain-lain. Saya sampaikan begitu. Karena apa, semua harus belajar. Saya bilang mungkin lima tahun kedepan, kalian adalah calon wali kota Surabaya. Mungkin delapan tahun ke depan kalian jadi calon gubernur. Saya bilang saya hanya mengantarkan yang muda-muda. Resonansi itu yang saya sampaikan ke para anak muda. Bukan kemudian takut dengan politik yang mahal, atau difitnah politisi itu selingkuh dan korupsi misalnya. Tapi bagian dari bakti kita pada negara untuk urusan itu. 

- Artinya Hanura akan menunjukkan bahwa stigma negatif dunia politik tidak sepenuhnya betul?

+ Saya bilang ke temen millenial, kalian kan sudah tuntas dengan urusan pribadi. Secara ekonomi, sudah punya mobil, rumah, habis itu mau ngapain lagi. Kalau secara ekonomi tumbuh, uang sudah didepositokan, sekarang tinggal tunjukkan bakti kepada negara. Salah satu bakti itu bisa lewat Hanura. 

Dalam proses kami menyongsong Pemilu kami juga membantu temen-temen. Maksudnya yang sudah tertarik ke Hanura, yakin betul dengan dapilnya kita ajak diskusi dulu. Karena biasanya kan latah. Setelah diskusi kita dorong dia lebih pas di dapil tertentu. Karena ketika bercerita, jaringannya lebih pas. Itu kita lakukan. Sehingga nantinya pas dengan pilihan hati dia, pilihan potensi untuk bisa jadi. Sehingga tidak sekedar menjadi caleg. 

- Bagaimana strategi Hanura Jatim untuk menjadikan daerah-daerah sebagai basis suara, lalu target perolehan untuk seluruh kabupaten/kota itu berapa?

+ Jadi kalau untuk tahun 2014 kami kan 67 kursi di DPRD Kabupaten/kota. Kemudian di 2019 jadi 46. Kalau berdasarkan kesepakatan dengan 38 kabupaten/kota itu kita naik menjadi 103 kursi. Dari 46 jadi 103 kursi. Yang sudah kita lakukan adalah success story. Kita bisa memilah anggota dewan di Hanura yang 46 itu kan mayoritas sudah periode kedua. Ada juga yang sudah tiga periode. Bahkan juga ada yang empat periode. Tapi sebelumnya yang 2004 itu partai lain. 

Mereka ini kan rata-rata dapat 8 ribu hingga 12 ribu suara. Bappilu sudah turun jauh-jauh hari untuk memotret untuk berdiskusi dengan temen-temen itu dulu bagaimana untuk menjadi dewan. Kemudian bagaimana dia mempertahankan pada 2009, 2014 dan 2019 kemarin. Kan Hanura konflik 2019, kenapa dia masih bertahan. Strategi dia itu sudah ada di kita semua. 

Contoh di Tuban itu kita kan 1 kursi. Mas Musa itu dulu dari partai lain. Kalau dibiarkan saja tanpa ada ikhtiar dengan success story kita, ke depan ya pasti satu. Karena Mas Musa ini triknya luar biasa. Dari success story itu kita perlebar termasuk kita berikan kepada calon yang mau masuk ke Hanura. Menjadi caleg kabupaten, ada yang habis Rp 2 Miliar tapi gak jadi. Itu calon partai lain. Yang dari Hanura habis Rp 1 Miliar tidak jadi juga ada. 

Tapi ada yang hanya Rp 100 juta, Rp 85 Juta itu jadi. Kita juga ada yang modal Rp 55 juta jadi anggota dewan di Pemilu 2019. Jadi baru ada yang satu periode, ada yang sudah periode kedua. Tapi temen-temen yang sudah dua periode, tiga periode itu bercerita ada yang hanya modal Rp 35 juta. Tapi 2014 di periode kedua malah habis Rp 100 juta. Pada yang sekarang, saya habis Rp 200 juta. 

Kenapa bisa naik saya bilang. Mungkin karena gayanya sudah berbeda. Mempertahankan sudah lebih susah karena pemilih yang sebelumnya ikhlas membantu terus berpikir ini kan sudah satu periode. Jadi akhirnya muncul angka seratus itu tadi. Success story itu yang menjadi keyakinan kita, dan kita sampaikan ke semua caleg yang mau masuk ke Hanura. Bahwa seratus juta bisa jadi anggota DPRD kabupaten/kota yang penting terapinya terukur dan tepat. 

Kalau untuk provinsi, ya politik itu kan butuh logistik. Kami punya satu namanya Mas Bambang Rianto itu dari dari Dapil Tulungagung-Blitar beliaunya pada 2009 itu anggota DPRD Kota Blitar kemudian 2014 dan 2019 naik ke provinsi. Beliaunya juga gak habis banyak. Karena beliau kan punya hak dalam proses jaring aspirasi itu. Tapi beliaunya sudah bisa memastikan. Jadi kalau tiga kabupaten/kota dalam dapilnya itu dia kan sudah punya potret. Dia fokus disana. 

- Anda sendiri untuk Pemilu 2024 juga akan nyalon?

+ Karena saya ketua partai tentu menjadi kewajiban untuk menjadi caleg. Dan saya memilih di Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Magetan dan Ngawi. Dapil Jatim IX. Insyaallah kami meyakini, kami kan partai menengah bukan partai besar meskipun partai lama. Sehingga kami memanfaatkan peluang di kursi ke 7, 8, 9, 10 apalagi untuk provinsi kan ada 12 kursi. 

- Jawa Timur ini kan menjadi provinsi dengan jumlah pemilih terbesar kedua di Indonesia. Apa pesan anda sebagai ketua partai?

+ Jadi kami di Partai Hanura, di tahap awal mengembalikan ruhnya partai Hanura seperti nama partai. Kami mengembalikan lagi kepada hati nurani kami. Kalau itu memang jelek kami katakan jelek. Bahkan di semua medsos yang kami miliki, kalau orang itu mengkritik Partai Hanura ya kita terima sebagai bahan perbaikan kita. 

Kedua, kebiasaan di parpol itu kan Ketua DPDnya kan otoriter. Kalau di kita, kita biasakan sebagai sahabat. Kalau saya juga tidak benar-benar amat, kalau saya salah kita kritik kita selesaikan semuanya. Dan seluruhnya harus kembali kepada hati nurani. Kami berikhtiar jika diberikan kesempatan kami berkontestasi dan diberikan amanah oleh masyarakat Jawa Timur.

Maka kami ingin berbuat lebih baik dan semuanya kembali pada hati nurani kami. Kami kalau misalnya lancung dalam proses amanah masyarakat maka kami akan mundur sendiri. Kami berkomitmen kepada caleg kita, kalau dalam proses tergesek sendiri saja baik itu masih dalam bentuk fitnah, opini, kita siap mengundurkan diri. Sehingga kami ingin menyamakan antara prinsip dasar kami, apa yang kami lakukan, ucapkan, dan tindakan harus sama. Saya yakin masyarakat Jawa Timur sudah cerdas. Kami juga harap partisipasi pemilih pada pemilu juga semakin tinggi. 

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved